Kejadian bertemu dengan Mai beberapa hari yang lalu membuat hidupku sangat berbeda. Tidak ada lagi yang membuli ataupun menyiksaku seperti biasanya. Tidak ada lagi juga yang menatapku penuh kebencian walaupun aku melakukan hal baik. Benar-benar sebuah hidup yang aku harapkan. Jika ini bukanlah surga, jika ini hanyalah sebuah mimpi, ataupun hanya sebuah ilusiku saja, kurasa tidak apa-apa, karena ini sudah lebih dari cukup membuatku lebih baik dari kehidupan asliku.
Aku berusaha mengatur napasku saat berhadapan dengan sebuah pintu berwarna broken white. Aku mengeratkan genggaman tanganku pada tas ransel yang ada di punggungku. Aku menggerakan tanganku mengetuk pintu itu. Sedikit menunggu lama sampai akhirnya kudengar suara derap kaki mendekat. Aku langsung mengatur detak jantungku yang tak ritmis dan mulai mengulas sebuah senyuman lebar.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Wajahnya masih jelas menampilkan sosok yang baru saja bangun tidur. Aku melebarkan senyumanku sebelum mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
"Aku kemari untuk mengembalikan jaket dan sweater milikmu." Aku mengulurkan pakaian milik Yondra setelah mengeluarkannya dari dalam tas ransel. Bukannya menerima dia justru mengernyitkan keningnya bingung.
"Untuk apa kamu mengembalikannya? Bawalah kembali, aku memberikannya untukmu." Aku menipiskan bibirku mendengar jawabannya. Entahlah, rasanya Yondra sangat berbeda di sini, aku menyukai Yondra yang sebelumnya. Aku menunduk sedikit merasakan sesal karena kebahagiaan yang aku dapatkan di sini tidak sepenuhnya kebahagiaan yang aku harapkan.
"Kenapa kau menangis? Sudahlah jangan menangis, aku bukan tidak ingin menerimanya, hanya saja aku ingin memberikannya untukmu." Yondra menarik tubuhku ke dalam pelukannya. Rasa hangat ini langsung menjalar ke setiap sudut dalam tubuhku. Aku menarik ucapanku. Ternyata kebahagiaan yang diberikan di sini sudah jauh lebih dari sempurna. Yondra mengusap wajahku lembut dan memamerkan senyuman manisnya.
"Apa kau merindukanku?" Yondra menatapku penuh selidik. Senyuman manis yang tercetak di wajahnya seketika berubah menjadi senyuman menggoda. Ah mengapa Yondra melakukan ini padaku? Aku menggigit bibir bawahku saat tiba tiba Yondra mengecup pelan ujung kepalaku dengan lembut. Tubuhku mendadak membeku, jantungku kurasa sudah terjun bebas dari tempatnya. Bahkan degup jantungku sudah sangat tak karuan. Tak terasa tubuhku sedikit bergetar karena terkejut.
"Apa kau ketakutan? Maafkan aku kalau begitu. Aku hanya merasa sangat senang saja dapat melihatmu kembali, tapi jika tindakanku tadi ber--" Aku memotong ucapannya dengan menubrukkan kepalaku pada dada bidang miliknya. Tempat yang sangat aku rindukan, di mana aku dapat menghirup aroma sakura yang memabukkan dan sangat menenangkan. Aku benar-benar merindukan malaikat berparas manusia tampan bernama Yondra.