Naraya And The Dream Who Save Her Life

Fauziyah Nur Aulia
Chapter #19

Epilog

"Terima kasih." Mai tersenyum setelah melepaskan pelukan kami. Aku mengusap lembut lengan Mai berusaha menguatkan gadis di hadapanku yang terlihat sangat frustasi.

"Naraya. Maaf aku tidak membelamu waktu itu. Aku hanya tidak mau mempedulikan orang lain." katanya. Setelah menahan tangan kiriku untuk melanjutkan langkahku.

Aku membalikkan tubuhku menatap Mai sambil tersenyum lebar. "Kau mau ikut bersamaku?" Aku menawarkan ajakan pada Mai. Kulihat Mai mengulas senyumannya lalu merangkul bahuku.

"Ceritakan perlakuan mereka padamu yang sangat menyakitkan untuk dirimu padaku." Mai terus tersenyum lebar. Benar-benar sebuah mimpi ajaib bukan? Aku terbangun dan bisa bersama dengan Mai, bahkan gadis itu menyentuhku dan bertanya bagaimana keadaanku.

"Tangan kananku kurasa patah? Rasanya benar-benar menyakitkan sampai aku tak bisa merasakan apa-apa selain ngilu." Aku menjelaskan keadaanku yang sebenarnya pada Mai. Mai terlihat menghela napasnya sebentar dan menatap tangan kananku iba.

"Apa kau sudah membawanya ke dokter?" pertanyaan Mai membuat senyumanku sirna. Bagaimana bisa aku membawanya ke dokter jika aku saja tidak memiliki sepersenpun uang. Aku menghentikan langkahku saat teringat ucapan Ayah dan Ibu tentang kejadian pencurian jam tangan di sekolah.

"Apa orang tuamu memarahimu karena kejadian jam tangan itu?" Selidik Mai. Aku mengangguk menjawabnya dan Mai langsung menarik tangan kiriku kembali melangkah.

"Tunggu. Mai kau akan membawaku ke mana?" Mai menghiraukan pertanyaanku. Gadis itu terus saja menarik tangan kiriku menuju sebuah gedung besar yang kuyakini adalah rumah sakit. Menyadari itu aku melepaskan tangan Mai dari tangan kiriku. "Aku tidak punya uang Mai. Aku tidak bisa masuk ke dalam sana."

"Lalu apa gunanya kau memiliki teman?" Aku tersentak mendengar ucapan Mai. Apa maksud perkataannya itu? Mai terkekeh melihat reaksi terkejutku. Ugh. Kenapa aku selalu bereaksi berlebih terhadap apapun. "Tenanglah Naraya. Kau tidak perlu memikirkan itu. Aku adalah temanmu. Dan aku akan membantumu." Mai menggiringku masuk ke dalam rumah sakit dan mendaftarkan namaku untuk pemeriksaan.

Aku benar-benar terkejut melihat keadaan rumah sakit. Ini adalah kali pertama aku masuk ke dalam sebuah gedung selain sekolahku. Mai kembali sambil membawa sebuah kertas di tangannya. Gadis itu terlihat tidak memikirkan uang pembayaran pemeriksaanku sama sekali.

"Mai. Terima kasih." Mai menoleh ke arahku lalu menepuk pelan kepalaku. "Tidak perlu. Bagaimanapun juga kau sudah menyelamatkan nyawaku tadi." Mai tersenyum begitu lebar. Rasa penasaran tiba-tiba muncul di kepalaku. Apa aku harus bertanya pada Mai? Apa tidak akan ada masalah jika aku menanyakan hal ini?

"M-Mai. Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Aku memberanikan diri bertanya padanya. Mai tampak menyambut hangat pertanyaanku dengan sebuah anggukan dan tersenyum. "Tanyakan saja. Jika aku bisa menjawabnya aku akan memberitahukan padamu."

"Tentang tadi. Kau bilang aku telah menyelamatkanmu. Apa kau tidak sadar akan bunuh diri?" Kulihat Mai menghela napasnya sebelum kembali bersuara untuk menjawab pertanyaanku. "Aku sadar. Aku terlalu lelah berada di dunia ini tanpa kedua orang tuaku. Kurasa aku ingin bersama mereka daripada harus menjalani hidupku di sini. Kurasa karena itu aku memutuskan untuk bunuh diri. Hal itu seolah sudah memanipulasi pikiranku. Bahkan aku tidak memikirkan kakekku yang masih setia bersamaku sampai saat ini. Karena itu saat kau menepis pisau dari nadiku aku merasa kau sudah menggagalkan aku bertemu dengan orang tuaku. Tapi dia satu sisi kau sudah menyelamatkanku."

Lihat selengkapnya