Nareswari

KaiyaJeong
Chapter #4

Chapter 1

Matahari selalu bersinar ugal-ugalan di kawasan itu. Sinar kekuningan yang turun ke Bumi seolah mampu membakar kulit dalam hitungan detik.

Namun untuk sebuah perkampungan kecil, masih banyak pepohonan bekas acara kampanye Walikota tahun lalu yang sengaja ditanam di pinggir jalan. Sekarang batangnya sudah bertambah tinggi, daunnya pun makin rimbun setiap harinya. Otomatis hawa di tempat tersebut masih sejuk, tidak seperti di pusat kota. Panasnya tidak lumrah.

Siang itu, taksi Blue Bird melaju pelan di atas jalan Soroito. Di sisi kiri ada Gereja Khatolik yang terlihat sepiㅡbiasanya baru terlihat ramai kalau hari Minggu. Lalu taksi itu berbelok ke kiri, masuk ke jalan yang lebih kecil.

Ada tiga polisi tidur yang disemen dalam jarak berdekatan. Seolah memaksa setiap kendaraan yang melintas untuk memelankan laju mereka. Kala itu terlihat beberapa bocah yang tampak berlarian di tepi jalanㅡanak laki-laki yang tertinggal beberapa langkah di belakang berhenti sebentar sambil mengusap lelehan ingus menggunakan kaos singletnya. Mungkin itu alasan kenapa jalan tersebut dipasangi polisi tidur.

Kali ini taksi Blue Bird berhenti di depan sebuah rumah dengan pagar besi berwarna putih. Seorang perempuan dengan rambut dicepol tinggi terlihat keluar dari kursi penumpang. Ia berjalan ke arah bagasiㅡmengeluarkan barang bawaannya dibantu oleh si Supir.

"Naraa...anak wedhokkuu.."

(Nara..anak perempuanku)

Seorang wanita setengah baya yang memakai daster langsung membukakan pintu pagar dengan lengkung bibir yang terbentang lebar. Pagar besinya berderit pelan. Ia bertelanjang kakiㅡhampir lupa kalau teras rumah mereka lumayan menyengat apalagi saat siang hari begini. Yang jelas perempuan yang memakai daster terlihat bersemangat saat menghampiri anaknya yang selama ini tinggal di Seoul hampir 3 tahun.

"Mamaa.."

Sosok yang dipanggil Nara tadi langsung merentangkan tangan. Memeluk perempuan setengah baya yang badannya lebih pendek darinya.

"Ma, sendalnya dipake dulu dong. Panas loh ini." omel Nara begitu pelukan dilepas.

"Ora panas blas, Nduk. Dlamak'ane Mama kan kandhel koyo jaran."

(Ga panas sama sekali, Nak. Telapak kaki Mama kan tebal kayak kuda)

Nara menyengir geli. Tidak lagi mengomentari Mamanya yang tidak memakai alas kaki. Yang ada justru memandangi wajah ibunya cukup lama.

"Iih..siapa sih ini cantik banget?" goda Nara kemudian, kepalanya dimiringkan sedikit.

Mama Nara mendengus pelan. Lengan kanan anaknya itu dipukul pelan. "Oposeh awakmu iku." protesnya sambil memicingkan mata. Namun sedetik kemudian Nara ditarik ke dalam dekapan lagi. Punggung anak perempuannya diusap-usap pelan.

(Apasih kamu itu)

"Tapi serius loh Ma. Mama jadi keliatan makin muda, pake skincare apa?"cerocos Nara. Perempuan yang rambutnya dicepol itu tampak menyentuh kedua bahu Mamanya. Matanya meneliti ke arah wajah wanita yang tahun ini berusia 56 tahun.

Mama Nara mengibaskan tangan singkat. "Ora pake skincare-skincare-an. Wis tuwo gini arep dandan buat siapa?" ucapnya sambil menempelkan tangan di pipi sendiriㅡmengelusnya sebentar. "Wong Appa-mu barang yo wis podo-podo tuwo."

(Ga pake skincare-skincare-an. Udah tua gini mau dandan buat siapa?)

(Appa-mu juga sama-sama tua)

Mama Nara terkikik pelan mendengar ucapannya sendiri. Kali ini mata yang sudah renta itu melirik ke arah barang-barang putrinya yang masih berada di dalam bagasi.

"Ih..Mama mau ngapain? Udah..berat ini. Biar aku aja." Nara langsung mencegah ketika Mamanya baru menyentuh koper berwarna pink.

"Pak, maaf kalo ngerepotin. Tapi tolong bawain sampe ke depan pintu ya?" Perempuan yang rambutnya dicepol berujar lembut. Ia menunjuk pintu bukan dengan telunjukㅡmelainkan dengan kelima jari. Gestur itu ia pelajari saat dia masih tinggal di tempat ituㅡPonorogo.

"Siap, Mbak."

Lihat selengkapnya