Pada saat malam hari, jalan kecil di depan rumah orangtua Nara lebih sering dilewati pengendara motor. Suara raungan mesin kendaraan roda dua itu sampai ke kamar depanㅡkamar Nara.
Ruangan itu masih sama saat Nara meninggalkan Ponorogo untuk pertama kalinya. Tidak ada yang berubah. Entah kenangan semasa kecilnya atau dekorasi kamar yang dulu selalu ia tempati. Kala itu sang penghuni kamar sudah merapikan barang bawaannya sedikit-sedikit. Baju gantinya yang dibawa dari Seoul sudah masuk lemariㅡtinggal oleh-oleh yang nanti mau dibagikan pada tetangga terdekat.
Nara masih bersila di atas lantai, di depannya sebuah koper besar terbuka lebar. Kali ini pandangannya bergerak ke sudut ruangan. Tepat di dekat jendela kaca ada sebuah meja belajar yang kayunya sudah mulai lapuk. Koleksi album BTS dari jaman 2 Cool 4 Skool-nya sampai Beautiful Moment in life pt.2 masih disanaㅡlapisan debu tipis menempel di cover depan.
Nara menutup koper dan menggesernya di dekat lemari baju, kakinya bergerak mendekati meja barusan. Kedua sudut bibir Nara terangkat, tangannya terjulur menyentuh album pertama yang ia dapat dari hasil menendang pintu.
Ya, Jung Nara dulu juga nakal seperti remaja kebanyakan.
Debu-debu yang menempel dibersihkan dengan jari. Ia membuka isiannyaㅡsemua printilan di dalam benda tersebut masih utuh. Kali ini sudut bibir Nara terangkat sempurna tatkala melihat photocard Jungkook saat masih piyik. Baru berusia 16 tahun saat debut bersama member BTS.
"Mas..wengi iki aku turu karo Nara yo?" Suara Mama terdengar sebelum orangnya benar-benar masuk ke kamar.
(Sayang, malam ini aku tidur sama Nara ya?)
"Yaa.." Appa menyahuti dari ruang tengah. Kepalanya berpaling dari layar televisiㅡmata bulan sabitnya melirik ke arah Mama yang memeluk sebuah bantal.
"Ngono kuwi og..lagek mulih sing diambungi ki Jongkok-Jongkok kuwi ae." ledek Mama dengan raut wajah usil. Perempuan setengah baya itu duduk di tepi kasur. Matanya tertuju ke arah Nara yang masih berdiri di depan meja belajar.
(Begitu tuh..baru pulang yang diciumin Jongkok-Jongkok itu terus)
Si korban fitnah langsung memanyunkan bibir. Padahal Nara berada disana hanya untuk mengabsen printilan KPOP-nya. Tapi sepertinya semua ibu-ibu Asia selalu punya pandangan tersendiri terhadap anak mereka.
"Jeon..Jung..Kook, Ma." Si pemilik kamar mendengus pelan. "Bukan Jongkok." ralatnya lagi. Album barusan diletakkan kembali ke tempat semula. Kali ini perempuan yang lebih muda bergabung dengan Mamanya.
"Adine wis rabi lha terus Mbak Ayune durung ki piye jal? Ning Seoul ga onok sing seneng karo kowe to, Nduk?"
(Adiknya sudah menikah terus kakaknya tuh belum gimana coba? Di Seoul ga ada yang mau sama kamu to, Nak?)
"Akunya cantik begini. Masa iya ga ada yang mau?" kata si penghuni kamar percaya diri. Kedua tangannya diletakkan di atas dagu lalu kedua matanya mengedip centil.
"Iyo to? Wong paling ayu sak-Ponorogo ngene."
(Iya kan? Orang paling cantik se-Ponorogo begini)
Nara menyengir mendengar pujian sang Mama.
"Opo yo Jungkook kuwi ae sing tak jadikan mantu? Tak parani ae ben dadi mantuku yo?"
(Apa si Jungkook itu aja yang aku jadiin mantu? Aku samperin biar jadi mantuku ya?"
Nara menarik napas kasar. Terlihat tidak suka saat Mama memberi makan egonya. Lagipula dia realistis, mana mungkin gadis kampung sepertinya bersanding dengan Pop Star yang fansnya tersebar di seluruh dunia. "Ma, Jungkook-ssi bukan orang biasa. Lagipula gimana ceritanya cewe ngelamar cowo sih?"
"Halah..wong podo-podo mangan sego kok. Gak enek sing mustahil."
(Halah..orang sama-sama makan nasi kok. Ga ada yang mustahil)