Listrik mati jam 11 malam. Lagi.
Zaskia berdiri di tengah lorong kost putri Mawar, HP di tangan nyala 4%. Cahaya kuningnya nggak cukup buat ngusir gelap yang menempel di dinding kusam. Di luar, hujan baru reda. Udara dingin menyelonong masuk lewat Pentilasi kecil di Jendela.
“Astaga.”
Suara umpatan kecilnya ketahan di tenggorokan. Dia baru pulang shift barista. Seragam hitamnya masih bau susu dan kopi. Di tangan kiri, kantong sampah yang udah mulai bocor. Kalau nggak dibuang malam ini, besok kamarnya yang jadi tong sampah.
Aturan kost jelas: sampah dibuang sebelum jam 10. Lewat dari itu, lewat jalur depan, ibu Kost pasti denger. Dan ibu Kost tidur dengan telinga setajam radar.
Zaskia narik napas. Jalan belakang aja. Resikonya cuma dimarahin, bukan diusir.
Dia baru mau melangkah, suara dari ujung lorong bikin dia berhenti.
“Biasa. Tiap hujan pasti mati.”
Bayangan tinggi berdiri di depan pintu kontrakan sebelah. Tembok kontrakan itu nempel langsung sama kamar mandi kost. Nggak ada jarak. Cuma triplek tipis dan cat yang ngelupas.
Dimas.
Anak baru yang pindah 3 hari lalu. Umur 25, katanya editor video freelance. Kerja malam, tidur siang. Jarang ngomong, tapi kalau ngomong, suaranya dalam. Terlalu tenang buat jam segini.
“Kamu nggak takut gelap?” tanyanya.
Zaskia nggak jawab langsung. Dia nggak kenal orang ini cukup dekat buat ngobrol panjang. Tapi gelap itu bukan masalahnya.
“Takut. Tapi lebih takut ketahuan bu Kost kalau buang sampah lewat jam 10,” akhirnya dia berani jawab.
Dimas geser sedikit. Cukup buat ngasih celah. “Lewat sini. Jalur belakang nggak dikunci. Aku sering pakai.”
Itu tawaran berbahaya. Jalur belakang itu larangan nomor satu di papan pengumuman kost. Ketahuan sekali, surat peringatan. Dua kali, angkat kaki.
Zaskia lirik kantong sampah di tangannya. Bau kopi tumpah udah mulai nyengat. Kalau dibawa masuk kamar, besok dia nggak bisa fokus presentasi.
“Kalau ketahuan, aku yang disalahin,” katanya pelan.
“Kalau nggak, sampah itu bakal tumpah di kamar kamu.”
Logika sialan. Tapi masuk akal.
Dia ikut.
Lorong belakang sempit. Cuma cukup buat satu orang lewat. Dindingnya lembab, ada lumut di sudut. Cahaya HP Dimas jadi satu-satunya penunjuk jalan. Terlalu dekat. Bahu mereka bersentuhan tiap kali ada tikungan.
Zaskia bisa cium bau rokok ringan dari kaos abu-abu Dimas. Nggak menyengat. Cuma sisa. Campur sama bau sabun yang nggak dia kenal.
“Pelan-pelan. Lantainya licin,” kata Dimas tanpa lihat ke belakang.