Lampu gantung di ruang makan berpijar redup, memantulkan bayangan Almira yang terpaku pada layar ponselnya. Di seberang meja, Bimo baru saja meletakkan tas kerjanya dengan helaan napas panjang yang menandakan kelelahan luar biasa. Keheningan di antara mereka terasa berat, bukan lagi ketenangan yang nyaman, melainkan jarak yang mulai membentang tanpa kata.
"Masak apa?" tanya Bimo, suaranya datar sambil membuka tutup mangkuk nasi.
"Sayur asem." Almira tidak mengangkat kepala. Jari-jarinya masih menggulir layar, meski matanya sudah tidak membaca apa-apa.
Suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya musik latar dalam pertemuan yang seharusnya hangat ini. Bimo mengunyah perlahan, rahangnya mengencang setiap kali matanya mencoba menangkap perhatian Almira. Tiga kali ia membuka mulut untuk bicara. Tiga kali ia menutupnya lagi.
"Ada yang penting di ponsel?" Bimo akhirnya pecah. Sendoknya terhenti di tengah jalan.
Almira menggeleng. "Tidak."
"Kalau tidak, kenapa tidak diletakkan?"
"Aku sedang menunggu pesan." Almira meletakkan ponselnya menghadap ke bawah, tapi jarinya masih bersandar di tepi meja, siap mengambil kembali.
Bimo menurunkan sendoknya. Bunyi logam yang mengenai porselen terdengar lebih keras dari yang seharusnya. "Dari siapa?"
Almira tidak menjawab. Matanya melayang ke jendela, ke bayangan pepohonan yang bergoyang lemah oleh angin malam. Pikirannya sudah terbang jauh ke masa lalu yang tiba-tiba hadir kembali, ke suara yang belum didengarnya lagi selama bertahun-tahun namun kini mengetuk-ngetuk di ujung jari.
"Bukan urusanmu," ucapnya akhirnya, suaranya lebih tajam dari niatnya.
Bimo mendorong piringnya sedikit menjauh. Napasnya keluar dari hidung, pendek dan terkontrol. "Kita sudah sembilan tahun, Mira. Sembilan tahun. Dan sekarang ada sesuatu yang bukan urusanku?"
"Aku tidak bilang begitu."
"Kamu baru saja."
Almira mengangkat ponselnya lagi, layar menyala, memancarkan cahaya biru pucat ke wajahnya. Tidak ada notifikasi baru. Namun ada sesuatu yang lebih berat dari pesan yang belum datang: pertanyaan yang sudah mengendap terlalu lama, yang kini pecah di permukaan seperti gelembung dari dasar kolam dalam.
"Aku lelah, Bimo." Kalimat itu keluar dari mulutnya sebelum sempat disaring. Bukan lelah fisik, dan mereka berdua tahu.
Bimo berdiri, kursinya bergesekan dengan lantai ubin. Ia berjalan ke wastafel, membiarkan keran mengalir meski tidak ada yang dicuci. Air berdesir, menjadi penutup suara bagi apa pun yang mungkin ingin diucapkannya. Ketika ia kembali ke meja, tangan Almira masih membeku di atas ponsel, layar sudah meredup lagi.
Malam itu mereka tidur berselimut masing-masing. Almira menatap langit-langit hingga suara napas Bimo menjadi teratur dan jauh. Baru kemudian ia mengangkat ponselnya, membuka aplikasi yang sudah berbulan-bulan terkubur di folder tersembunyi, mengetik nama yang tidak pernah dihapus dari memorinya.
Almira menatap layar hingga ponselnya redup. Malam berlalu, dan ia kini berada di ruangan reuni yang riuh, tertarik suara yang tak asing.
"Kamu tidak berubah, Al. Masih tetap bersinar seperti dulu," suara bariton Bram memecah riuh reuni. Almira tersipu, merasakan debaran yang sudah lama hilang dari pernikahannya yang datar. Ia menggenggam gelas jus mangga, jari-jarinya menekan kaca dingin seakan mencari penyangga dari dunia yang tiba-tiba berputar lebih cepat.
"Bram," ucapnya, suaranya lebih parau dari yang diinginkan. "Kita sudah sepuluh tahun tidak bertemu."
"Sebelas," perbaiki Bram. Ia tersenyum, garis-garis wajahnya lebih tajam kini, namun matanya masih menyimpan api yang sama-api yang dulu membuat Almira gelisah di bangku kuliah. "Tapi siapa yang menghitung?"
Bram menawarkan kerja sama yayasan pendidikan, sebuah mimpi lama Almira yang terkubur rutinitas. Ia menjelaskan proyek di daerah terpencil, sekolah-sekolah tanpa atap layak, anak-anak yang berjalan kaki lima kilometer. "Aku butuh sosok visioner sepertimu untuk memimpin proyek ini," lanjut Bram meyakinkan. Tangannya terulur, jari-jari panjang yang dulu Almira kenal begitu dekat kini berhenti di udara di antara mereka, sebuah jarak yang terasa bermakna.
Almira menatap Bimo di sudut ruangan yang sibuk dengan telepon kantor. Suaminya mengangguk tanpa melihat, jari terus mengetik layar ponsel. Perbandingan itu muncul seketika, membuat perhatian kecil dari Bram terasa seperti air di tengah padang gurun yang sangat gersang. Bimo tidak pernah bertanya apa mimpinya dulu, sebelum empat anak dan tagihan rutin melahap segalanya.
"Aku sudah punya keluarga," ujar Almira, suaranya terdengar seperti pembelaan diri. Ia melirik jari manisnya, cincin emas yang longgar setelah melahirkan anak ketiga.
"Aku tahu," jawab Bram ringan, namun matanya tidak berkedip. "Itulah sebabnya aku datang. Bukan untuk.." ia menghentikan ucapannya, menggeleng. "Proyek ini butuhmu, Al. Bukan masa laluku. Masa depan anak-anak itu."
Almira menelan ludah. Di latar, musik reuni berubah menjadi lagu yang mereka dulu putar berulang kali di mobil tua Bram. Ia merasa dada sesak, bukan karena nostalgia, melainkan karena kesadaran menusuk: ada bagian dari dirinya yang mati begitu saja, tanpa ia sadari, tanpa prosesi perpisahan.
"Beri aku waktu memikirkan," akhirnya ia ucap. Bram mengangguk, tidak menekan, dan itu justru membuat tawarannya lebih berat di pundak Almira.
Pulang dari reuni, Almira membawa getar hati yang baru. Malam itu ia terlelap ringan, lalu terbangun memasuki rutinitas sarapan bersama keempat anaknya keesokan hari.
Meja makan pagi itu selalu sama: empat mangkuk sereal berjajar, suara sendok berdenting, dan Bimo yang menyelipkan pembicaraan soal tagihan listrik di antara gigitan roti. Almira mengangguk tanpa benar-benar mendengar, matanya terpaku pada gumpalan awan di luar jendela yang bergerak lambat, seolah menawarkan jalan keluar dari ruangan ini.
"Mama, susu habis," kata si bungsu. Almira menyadari tangannya telah menggenggam karton susu kosong lebih dari satu menit. Ia tersenyum, mengisi gelas itu dari botol cadangan, lalu kembali melamun sambil mengaduk sereal yang tak pernah ia sentuh.
Ponsel bergetar di pangkuannya. Bram. Lagi. Pesan itu singkat, hanya bertanya sudah sarapan atau belum, namun hangatnya menusuk seperti jarum halus yang mengingatkan bahwa ada seseorang di luar sana yang melihatnya sebagai Almira, bukan sekadar pengatur anggaran keluarga.
"Siapa?" tanya Bimo tanpa mengangkat muka dari kalkulator.
"Teman lama," jawab Almira, mematikan layar.
Sore itu telepon Bram masuk saat Almira sedang melipat handuk di kamar mandi. Suara Bram rendah, hampir berbisik seolah takut didengar orang lain. "Bimo hanya peduli pada angka, Al. Dia tidak melihat potensimu."
Almira membeku. Handuk biru tua di tangannya terasa berat tiba-tiba. Ia menatap cermin yang berembun, tidak mengenali bayangan samar di balik uap air. "Jangan bicara seperti itu," ucapnya, tapi suaranya tidak meyakinkan siapa pun, bahkan dirinya sendiri.
Dari balik pintu terbuka, terdengar Bimo menjelaskan pecahan kepada si bungsu dengan sabar yang biasa ia tunjukkan pada angka-angka, bukan pada istrinya. Almira memejamkan mata. Embun di cermin menetes perlahan, mengaburkan pantulan wajahnya.