Hujan deras mengguyur Jakarta, menyamarkan suara isak tangis yang tertahan di balik pintu ruang kerja Bimo yang tertutup rapat. Di dalam, tumpukan dokumen hukum berserakan, menjadi bukti bisu dari penyelidikan diam-diam yang mulai mengungkap borok di balik yayasan fiktif Bram Satrio. Bimo memijat pelipisnya, merasakan denyut nyeri yang seirama dengan detak jantungnya yang tak beraturan. Dia tahu waktu hampir habis sebelum istrinya kehilangan segalanya, namun setiap kali dia mencoba mendekat, Almira justru semakin menjauh ke dalam pelukan musuh.
"Kau pikir aku tak tahu?" suara itu terdengar dari balik pintu. Almira berdiri di ambang, rambut basah menempel di pipi, mata merah membelalak. "Kau selalu mengunci diri di sini. Seperti ayahmu dulu."
Bimo membeku. Jari-jarinya terlepas dari pelipis, jatuh ke atas meja yang penuh berkas. "Ini berbeda."
"Berbeda?" Almira melangkah masuk, air hujan menetes dari poncanya, membasahi lantai kayu. "Ayahmu juga bilang begitu. Sebelum menghilang bersama uang semua orang."
Bimo bangkit, kursi berdecit di belakangnya. "Aku mencoba menyelamatkanmu, Almira. Bram…"
"Jangan sebut nama itu!" Almira memukul meja, pena dan kertas berhamburan. "Dia satu-satunya yang peduli padaku selama kau asyik dengan dunia mu sendiri."
Bimo meraih bahu istrinya, tapi Almira menepisnya. Tangan Bimo menggantung di udara, kepalan perlahan terbentuk. "Dia menggunakan yayasan palsu, Mir. Uang para janda, anak yatim-"
"Dustamu lebih tua dari pernikahan kita." Almira mundur, punggungnya menabrak rak buku. Sebuah album jatuh, foto-foto pernikahan mereka berserakan di lantai basah. "Kau selalu punya alasan. Selalu punya musuh yang harus dilawan. Siapa berikutnya? Aku?"
Bimo menatap foto di lantai. Mereka berdua tersenyum di sana, wajah muda dan polos, sebelum semua ini. Sebelum ayahnya meninggalkan ibu bangkrut, sebelum Almira menemukan Bram di pengajian yang Bimo tak pernah sempat hadiri. "Aku tak minta kau percaya padaku," katanya, suara serak. "Tapi jangan tandatangani apa pun sebelum kau lihat ini."
Ia menyodorkan map tebal. Almira menatapnya seperti menatap ular. "Apa ini?"
"Akta pendirian yayasan yang sama. Nama berbeda. Korban berbeda. Semua bermuara ke rekening yang sama." Bimo membuka halaman pertama, foto seorang wanita tua menatap kosong ke kamera. "Ibu ini kehilangan rumahnya minggu lalu. Dia pikir dia sedekah untuk masjid."
Almira tidak mengambil map itu. Tapi matanya tidak bisa lepas dari foto wanita itu. "Bram bilang dia membangun pesantren."
"Pesantren ini." Bimo menunjuk koordinat di peta. "Lahan kosong di tengah hutan. Tak ada jalan masuk. Tak ada bangunan. Hanya rekening bank yang aktif."
Lama Almira diam. Hujan semakin deras, menutupi suara jantung Bimo yang berdebar. Kemudian istrinya tertawa, getir dan pendek. "Kau selalu begitu yakin dirimu benar. Itu yang kubenci."
"Aku tak peduli kau benci aku." Bimo mengumpulkan berkas-berkas itu, tangan gemetar. "Tapi aku tak bisa biarkan kau hancur bersamanya."
Almira berbalik, menghadap jendela. Air hujan mengalir di kaca, membelah wajahnya menjadi ribuan pecahan. "Kau tak pernah tanya kenapa aku pergi ke pengajian itu. Kenapa aku butuh tempat lain."
Bimo membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia ingat malam-malam ia pulang larut, pikirannya penuh kasus-kasus korupsi yang tak pernah selesai. Ia ingat Almira menunggu di meja makan, makanan dingin, lalu tak ada lagi yang menunggu. "Aku.." ia mulai.
"Jangan." Almira mengangkat tangan. "Jangan sekarang. Jangan dengan cara ini."
Ia pergi, pintu terbuka lebar, hujan menyambutnya. Bimo berdiri sendiri di tengah ruangan, map masih terbuka di tangannya, foto wanita tua itu menatapnya dari lantai. Ia tidak mengejar. Ia sudah kehabisan cara untuk berlari.
Malam tiba tanpa Almira pulang. Bimo duduk di sofa ruang tamu, lampu mati, hanya cahaya dari ruang kerja yang menyelinap lewat celah pintu. Ia membolak-balik ponsel, jari berhenti di nomor yang tak pernah dihubungi sejak pernikahan: Ustaz Zainal, penasihat keluarga ibunya, orang terakhir yang berhasil menengahi sebelum ayahnya benar-benar pergi.
Bimo menatap dokumen itu lama, lalu menghela napas. Malam itu ia memutuskan memanggil Ustaz Zainal ke rumah, berharap bisa mendamaikan keretakan dengan Almira.
Malam itu udara di ruang tamu terasa berat, seolah setiap napas yang dihela menempel di langit-langit sebelum sempat turun lagi. Ustaz Zainal duduk di kursi kayu yang biasa diduduki Bimo saat membaca koran pagi, jubah putihnya terlihat terlalu terang di bawah lampu dinding yang remang-remang. Almira berada di seberang meja, punggungnya menempel sandaran kursi sejauh mungkin dari kedua pria itu.
"Ibu Almira, harta hanyalah titipan, namun keluarga adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban."
Suara Ustaz Zainal memang lembut, tapi bagi Almira setiap suku kata terasa seperti paku yang dipukul perlahan ke dinding batu. Matanya tetap pada jendela, pada refleksi bayangannya sendiri yang kabur di kaca malam. Di luar, dedaunan pohon mangga bergoyang tanpa suara.
Bimo duduk di samping sang ustaz, kedua tangannya terkunci di pangkuan sejak tadi. Ia sempat membuka mulut beberapa kali, tapi suaranya tenggelam sebelum mencapai telinga istrinya. Bau kopi yang tadi ia sediakan masih tersisa di udara, sudah dingin tanpa disentuh siapa pun.
"Almira," ujar Bimo akhirnya, suaranya serak. "Kita cuma ingin bicara. Tanpa Bram. Tanpa siapa pun."
Almira menggeleng perlahan, dagunya terangkat sedikit. "Kalau tanpa Bram, kenapa aku yang selalu jadi pihak yang harus diperbaiki?" Suaranya datar, tapi ujung-ujung jarinya menekan lengan kursi hingga putih. "Kalian panggil ustaz. Kalian siapkan kopi. Kalian putuskan aku butuh 'dibimbing'. Siapa yang memutuskan aku sesat?"
Ustaz Zainal mengangguk, tangannya terbuka di atas meja. "Bukan soal sesat, Ibu. Bukan soal benar salah. Tapi soal luka yang…"
"Luka?" Almira tertawa pendek, satu kali, tanpa sukacita. "Ustadz tahu dari mana saya terluka? Bimo yang cerita? Bimo yang bilang saya dibohongi Bram?" Ia berdiri, kursi bergeser menyeret lantai mengeluarkan bunyi tajam. "Atau Bimo yang tidak pernah tanya kenapa saya percaya sama Bram sebelum semua ini?"
Bimo ikut berdiri, tangannya terulur tapi berhenti di tengah udara. "Aku tanya, Al. Setiap malam aku tanya. Kamu tutup pintu. Kamu beralih tidur di kamar tamu. Apa lagi yang bisa aku.."
"Kalian semua hanya ingin mengendalikan hidupku!"