Fajar menyingsing dengan warna kelabu yang suram, memantulkan wajah Almira yang pucat di cermin apartemen yang kini terasa seperti penjara. Kehampaan menyelimuti ruangan itu, menyisakan bau parfum Bram yang masih tertinggal namun sosoknya telah lenyap ditelan kegelapan malam.
Almira jatuh terduduk di lantai yang dingin, memeluk lututnya sambil menatap layar ponsel yang menunjukkan saldo rekening kosong melompong. Kebenaran yang selama ini ditolaknya kini menghantam dengan kekuatan badai, meruntuhkan semua ilusi tentang kesuksesan dan cinta baru yang selama ini dia banggakan dengan penuh kesombongan.
Telepon genggam itu bergetar di tangan Almira, namun ia tidak melihat nama yang muncul. Matanya terpaku pada angka nol yang berulang di layar, seolah-olah angka itu menertawakannya dengan diam-diam. Tiga tahun. Tiga tahun ia meninggalkan segalanya-karier yang stabil di bank, hubungan dengan Bimo yang hampir membawa mereka ke pelaminan, serta kepercayaan orangtuanya yang kini pudar bagai kabut pagi.
Suara ketukan di pintu membuat Almira tersentak. Tubuhnya menegang, napasnya terhenti sejenak sebelum ia menyadarkan diri bahwa Bram tidak akan kembali. Pria itu pergi bersama uang tabungannya, bersama mimpi-mimpi palsu tentang bisnis properti yang menggiurkan. Almira tidak bergerak dari lantai. Biarkan siapa pun yang di luar itu menunggu, mengetuk, lalu pergi.
"Almira! Buka pintunya!"
Suara itu membuat jantungnya berdegup kencang. Bimo. Kenapa dia ada di sini? Kenapa sekarang? Almira merangkak mundur, punggungnya menempel dinginnya dinding. Ia tidak siap menghadapi mantan kekasihnya, tidak siap melihat penyesalan yang pasti tercermin di mata Bimo.
"Aku tahu kamu di dalam. Lampu apartemenmu menyala dari bawah." Suara Bimo terdengar tegang, terkendali namun penuh urgensi. "Almira, dengar. Ini bukan tentang kita. Ini tentang Bram."
Nama itu terdengar seperti cambuk. Almira bangkit dengan tangan yang gemetar, melangkah perlahan menuju pintu. Kuncinya berputar dengan bunyi klik yang terasa terlalu keras di telinganya.
Bimo berdiri di ambang pintu dengan kemeja yang kusut dan mata merah karena kurang tidur. Ia tidak masuk, hanya menatap Almira dengan ekspresi yang sulit dibaca-campuran dari kemarahan tertahan, kelegaan, dan sesuatu yang lebih gelap.
"Dia bukan cuma penipu," kata Bimo, suaranya rendah dan cepat. "Dia buron. Polisi mencarinya sejak seminggu lalu. Kasusnya lebih besar dari yang kamu kira."
Almira merasakan lututnya lemas. Ia menahan diri di kusen pintu, jari-jarinya mencengkeram kayu dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Apa maksudmu?"
"Uangmu bukan yang pertama. Ada lima korban sebelum kamu. Total kerugian miliaran." Bimo mengeluarkan selembar kertas dari saku belakangnya, sebuah foto yang buram namun cukup jelas menunjukkan wajah Bram bersama seorang wanita lain di bandara. "Ini dari tadi malam. Dia sudah di luar negeri, Almira. Kamu tidak bisa mengejarnya."
Almira mengambil foto itu dengan tangan yang bergetar. Wajah Bram di gambar itu tersenyum santai, seolah-olah baru saja menang lotre. Di sampingnya, wanita berambut pirang yang tidak pernah Almira lihat sebelumnya memeluk lengannya dengan mesra.
"Kenapa kamu tahu semua ini?" tanya Almira, suaranya serak. Ia tidak menatap Bimo, matanya masih terpaku pada senyum penipu di foto itu.
Bimo diam sejenak. Angin pagi menerobos celah pintu, membawa bau kopi dan knalpot dari jalan di bawah. "Karena aku yang melapor ke polisi. Tiga bulan lalu. Saat kamu masih percaya dia lebih baik dariku."
Kata-kata itu menusuk. Almira akhirnya menatap Bimo, dan yang ia lihat bukanlah kemarahan yang ia duga, melainkan kelelahan yang mendalam. Bimo telah berusaha menyelamatkannya, bahkan ketika Almira sendiri menolak diselamatkan.
"Aku tidak minta maaf," kata Almira, suaranya pecah. "Aku tidak berhak."
"Bukan waktunya untuk itu." Bimo melangkah mundur, memberi jarak. Di belakangnya, di ujung koridor, Almira melihat bayangan dua pria berjas yang berdiri di dekat tangga darurat. "Petugas ingin bertanya padamu. Mereka butuh detail untuk memperkuat kasus. Apa yang kamu tahu tentang rekening Bram, nama kontaknya, tempat-tempat yang kalian kunjungi bersama."
Almira mengangguk perlahan. Kepalanya berputar, namun ada sesuatu yang mulai mengeras di dalam dadanya-bukan kebencian, bukan pula keinginan balas dendam, melainkan tekad untuk tidak lagi menjadi korban yang pasif.
"Aku punya catatan," kata Almira, suaranya lebih stabil sekarang. "Di laptop. Semua transfer, semua percakapan, semua janji-janji kosongnya. Aku simpan semuanya."
Bimo mengangguk, sekilas senyum tipis muncul di sudut mulutnya sebelum lenyap. "Itu gadis yang kukenal."
Ia berbalik, memberi isyarat pada kedua pria di ujung koridor. Almira melihat mereka mendekat dengan langkah seragam, identitas polisi tampak jelas dari cara mereka bergerak. Namun sebelum mereka sampai, Bimo berhenti sejenak.
"Almira," panggilnya tanpa menoleh. "Setelah ini, kamu butuh istirahat. Bukan di sini. Apartemen ini bukan tempat yang aman sekarang. Bram punya teman-teman yang mungkin masih mencari apa yang tersisa."
Almira memahami maksudnya. Ia mengembalikan foto itu ke tangan Bimo, lalu berbalik untuk mengambil tas dan laptopnya. Tidak ada banyak yang perlu diselamatkan-pakaian, beberapa dokumen, dan secarik kertas dengan nomor telepon ibunya yang sudah lama tidak dihubungi.
Ketika Almira keluar dari apartemen, koridor terasa sempit dan panjang. Dua petugas polisi menyapanya dengan sopan, namun matanya mencari Bimo yang sudah berjalan menuju tangga darurat. Ia ingin memanggilnya, ingin mengatakan sesuatu, namun kata-kata macet di tenggorokan.
Di lantai dasar, Almira berdiri di dekat pintu masuk gedung. Hujan ringan mulai turun, mengubah jalanan menjadi cermin yang memantulkan lampu-lampu kota yang baru terbangun. Ia melihat Bimo berbicara dengan seorang petugas di dekat mobil patroli, tangan kanannya mengusap wajah dengan gerakan yang familiar-kebiasaan Bimo saat stres, sesuatu yang Almira hampir lupa.
Petugas yang lebih tua mendekati Almira dengan buku catatan kecil. "Ibu Almira Wijaya? Kami perlu ibu menemani kami ke kantor untuk pencatatan formal. Setelah itu, ada beberapa pertanyaan teknis tentang transaksi yang ibu lakukan."
Almira mengangguk. Ia melihat ke atas, ke jendela apartemennya di lantai empat yang kini gelap dan kosong. Tidak ada yang tersisa di sana yang layak dirindukan.
"Satu hal lagi, Bu." Petugas itu menundukkan suaranya. "Kami menemukan sesuatu di apartemen unit 712, lantai tujuh. Sebuah komputer dan dokumen yang terkait dengan jaringan yang sama. Kami butuh saksi yang bisa mengidentifikasi apakah ada keterkaitan dengan kasus ibu."
Almira mengerutkan dahi. Ia tidak pernah mendengar Bram menyebut unit 712, namun sesuatu di dalam dadanya memberitahu bahwa ini penting. Ini mungkin bagian dari teka-teki yang lebih besar, jejak yang Bram tinggalkan tanpa sengaja.
Bimo kembali dari mobil patroli, ekspresinya lebih tegang dari sebelumnya. "Almira, aku harus pergi dulu. Ada urusan yang tidak bisa ditunda." Ia berhenti sejenak, tangannya terangkat setengah hati sebelum jatuh kembali ke sisi tubuhnya. "Telepon aku kalau... kalau kamu butuh sesuatu. Nomorku sama."
Almira mengangguk. Ia menatap Bimo pergi dengan langkah cepat, menghilang di sudut jalan. Sesuatu yang hangat dan menyakitkan bersamaan menggumpal di dadanya, namun ia menekannya. Sekarang bukan waktunya.
Almira tetap di lantai apartemen dalam diam. Di lantai tujuh, Bimo bersama petugas polisi berhenti di depan pintu unit 712 yang bernomor miring.
Bau karbol menyengat di koridor lantai tujuh, bercampur bau apek dari unit yang terkunci rapat. Bimo berjalan di depan dua petugas berseragam, langkahnya tidak stabil, sepatu kulitnya menyeret ubin retak seolah setiap inci pergerakan adalah kesalahan. Tangannya gemetar saat menunjuk unit 712, nomor yang terpampang miring di pintu warna cokelat pudar.
"Di sini," ucapnya, suaranya seperti terlontar dari tenggorokan kering. Satu petugas mengetuk. Tidak ada jawaban. Bimo menyeret napas panjang, lalu mendorong sendiri. Engsel berdecit. Ruangan gelap, hanya cahaya dari jendela yang terbuka sedikit menyisir dinding.
Sudut ruangan, di samping lemari dapur yang terbuka. Almira duduk bersimpuh dengan lutut menempel dada. Blus putihnya kusut, ada noda di lengan kanan yang tidak bisa Bimo identifikasi dalam kegelapan. Matanya terbuka, tapi kosong-melihat namun tidak melihat, seperti orang yang sudah menyerah menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.
"Al." Bimo berlutut di sampingnya. Lantai keramik dingin menembus celana panjangnya. Almira tidak bergerak. "Al, ini aku." Tangannya terangkat, melayang di udara sejenak, lalu menurun perlahan. Jemarinya menyentuh bahu Almira yang dingin, bergetar hebat seolah baru keluar dari air es.
Tidak ada makian. Tidak ada tangan yang terangkat. Bimo hanya melepas jaketnya, selimut tipis yang tidak cukup hangat, dan menyampirkannya ke bahu istrinya. Bahu yang pernah ia peluk saat mereka masih muda, saat Almira menangis karena film sedih, saat dunia masih sederhana dan utang hanya cerita orang lain.
"Kita pulang, Al." Suara Bimo parau, seperti disayat kerikil. "Anak-anak menunggumu." Almira berkedip sekali. Dua kali. Air mata akhirnya menetes, tersedu-sedu yang terdengar seperti batuk dalam, seperti tubuh yang menolak mengeluarkan sesuatu yang terlalu besar untuk ditampung.
Tangannya terangkat, mencengkeram lengan Bimo dengan kekuatan yang mengejutkan. Kukunya putih menancap kain kemeja suaminya. "Aku-" suaranya pecah, "-aku tidak bisa, Bi. Aku tidak bisa lihat mereka." Bimo tidak menjawab. Ia hanya menunduk, dahi menempel puncak kepala Almira yang berbau apek keringat dan ketakutan.
Di sudut mata, Bimo melihat petugas yang lebih muda memalingkan wajah. Yang lebih tua hanya mengamati, catatan kecil di tangannya tidak terisi apa pun. Tidak ada yang perlu ditulis. Pengkhianatan finansial, penipuan yang Almira terlibat, utang yang menumpuk di tiga tempat berbeda-semua itu sudah tercatat di kantor polisi. Yang tertinggal di sini hanyalah seorang suami yang menemukan istrinya hancur, dan pilihan untuk tetap menyelimutinya meski kepercayaan sudah terkoyak tak terperbaiki.
Almira menangis semakin keras, tubuhnya meluruh ke depan, dahi menempel lantai dingin. Bimo menahan, tangannya menyangga punggung istrinya yang bergetar tanpa henti. Di balik kerah blus Almira, masih tercium aroma parfum laki-laki yang Bimo kenal-Bram, sang pemodal fiktif, penipu yang menghilang bersama uang pensiun dan tabungan pendidikan anak-anak mereka. Bimo menelan ludah pahit. Tidak ada yang ia ucapkan tentang bau itu.