Mati itu ternyata tidak berisik.
Selama ini, Cakra Abiyoga mengira kematian akan datang dengan raungan terompet atau setidaknya jeritan dramatis seperti di film-film horor yang sering ia tonton sambil memaki-maki pemerannya "bodoh". Namun, saat ini, di bawah langit Pantai Parangtritis yang hitam pekat tanpa bintang, kematian hanya berupa suara glug yang samar dan tarikan dingin yang tak kenal ampun di pergelangan kakinya.
Secara teknis, ia tahu persis apa yang sedang terjadi pada tubuhnya. Sebagai jenius fisika, otaknya secara otomatis memproses data di tengah maut: ini adalah rip current. Arus seret mematikan ini terbentuk karena massa air laut yang besar menumpuk di pesisir, lalu mencari jalan keluar melalui saluran sempit di dasar laut dengan kecepatan yang melampaui kemampuan renang atlet olimpiade sekalipun.
Namun, pengetahuan tidak menyelamatkannya dari hantaman gelombang backwash yang menghujam dadanya. Sakitnya seperti Mjölnir yang dilempar Thor dari langit. Berat, kejam, dan tak memberi ruang bagi paru-parunya untuk bernapas. Cakra, yang baru saja merayakan kelulusan SMA dengan keangkuhan seorang pangeran, kini merasa tidak lebih dari sebutir debu yang tersedot ke dalam ruang hampa.
"Tolong!" Sungguh kalimat itu tidak keluar dari mulutnya, sekadar terngiang di kepala. Malah upayanya membuka mulut hanya menghasilkan gelembung udara yang pecah sia-sia. Ditambah rasa asin menyerbu indra perasanya bersamaan dengan hantaman gelombang laut yang terasa sekeras beton.
Air garam yang dingin merangsek masuk ke saluran pernapasannya, menciptakan sensasi terbakar yang kontradiktif di dalam paru-paru. Di bawah permukaan, ia kehilangan orientasi. Atas dan bawah menjadi semu. Ia hanya tahu bahwa dirinya semakin menjauh dari daratan, ditarik oleh tangan-tangan tak kasat mata menuju kegelapan yang lebih pekat.
"Sial," pikirnya di sisa kesadaran.
"Ini benar-benar cara yang bodoh untuk mati!" Cakra mencoba menggerakkan otot-ototnya yang terlatih. Tubuhnya yang atletis, hasil dari latihan bela diri dan angkat beban bertahun-tahun, mencoba melakukan freestyle untuk melawan arus. Tetapi tekanan air di kedalaman ini mulai mengompresi tubuhnya. Ia melihat ke atas; permukaan air tampak seperti langit perak yang retak, semakin lama semakin kecil hingga menjadi titik cahaya yang nyaris padam.
Kematian sudah pasti menghampiri dan ia takut. Otaknya tak memiliki data akan referensi kematian. Mengapa tidak pernah ada yang mengatakan bahwa proses kematian sangat menyiksa?
Tidak ada guru agama yang berkata bahwa kematian akan terasa seperti diseret perlahan ke dasar neraka, sambil tetap diberi waktu cukup untuk menyesal. Tidak ada buku yang menjelaskan bahwa rasa takut tidak datang setelah mati—ia datang sebelum itu, ketika kita masih sepenuhnya hidup dan sadar bahwa waktu segera usai.
Cakra takut.
Di sisa napasnya, penglihatan Cakra mulai mengabur. Oksigen yang menipis menciptakan halusinasi yang mengerikan. Di tengah kegelapan air yang pekat, sebuah bayangan hitam muncul.
"Aku belum siap," batinnya, saat sebuah ombak besar setinggi tiga meter menghantam kepalanya, memaksanya masuk ke dalam kegelapan yang lebih dalam. "Aku belum siap mati sebagai remaja sombong di pantai selatan."
Sosok itu menjulang tinggi, bergerak dengan keanggunan yang mengerikan, seolah-olah densitas air tidak memiliki pengaruh padanya. Jubahnya yang gelap berkibar-kibar dalam arus, mengingatkan Cakra pada penggambaran Grim Reaper atau Malaikat Maut dalam buku-buku atau film-film fantasi koleksinya. Namun, ada keanehan yang mencolok: di sekeliling siluet itu, air tampak berpendar. Bukan cahaya biasa, melainkan kilatan kemerahan seperti bara api yang masih menyala di bawah tekanan ribuan ton air.
Cakra pasrah. Ia yakin, sang penjemput telah datang. Di ambang maut itu, pikirannya mulai berputar ke belakang, menghadirkan fragmen-fragmen kehidupan yang ia jalani selama delapan belas tahun terakhir.
Cakra takut.
Bukan pada kematian itu sendiri, tapi pada apa yang menunggunya setelah napas terakhir. Seumur hidup, ia diajari bahwa setelah mati hanya ada dua pintu: surga atau neraka. Hitam atau putih. Tidak ada abu-abu. Tidak ada pengadilan banding. Dan semakin oksigen meninggalkannya, semakin jelas pula jawabannya.
Neraka.