Negeri Bawah Laut Porkah; #1 Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #3

Melihat Kematian

"Bakalan kangen gue saat-saat kayak gini," bisik Tomi di sela napasnya yang tersengal setelah puas bergurau. Berusaha menciptakan momen indah bersama sahabat yang tak akan ia temui lagi dalam waktu lama. Tomi menatap Cakra dengan tatapan yang menunjukkan bahwa Cakra adalah matahari bagi sistem tata surya mereka.

Cakra terdiam sesaat. Di balik topeng keangkuhannya, ada rasa sakit yang dalam. Ia benci perpisahan. Ia benci fakta bahwa bulan depan ia harus terbang jauh dan mungkin tidak akan pernah merasakan kebebasan murni seperti ini lagi. Namun, Cakra Abiyoga tidak boleh terlihat lemah. "Duh, udah ah! Kita kan mau fun, bukan mau syuting drakor galau!" Ia melangkah lebih jauh ke dalam lautan, membiarkan air laut yang gelap mencapai pinggangnya.

“Eh Kra... bahaya bego!” ingat Dito ikut beranjak menghampiri Cakra yang melangkah ke bibir pantai, menuju lautan.

“Tau nih anak, songong banget! Kagak sayang nyawa lu?” Victor ikut-ikutan cemas, sedangkan Beni dan Tomi hanya memperhatikan mereka dari kejauhan.

"Eh, kalau gue nantangin dari sini, mungkin dia bakal dateng kali ya? Masa gue udah pakai baju ijo gini nggak nongol-nongol, dia? Apa ratunya lagi sibuk dandan?" ucap Cakra berusaha jenaka, menangkis semua kesedihannya. 

"Takut kali ama lu, lu kan PK kelas berat!" ejek Victor, mencoba mencairkan suasana, sembari mencoba mendekati remaja angkuh itu. Namun, ia tetap menjaga jarak aman, tidak seberani Cakra yang seolah ingin menelan samudera itu sendirian.

"Eh, dengerin gue! Kita bertiga teriak bareng-bareng, kita katain si Nenek Ratu!" tantang Cakra. Matanya berkilat menantang kegelapan yang seolah sedang menatap balik ke arahnya.

“Gile... boleh tuh ide lu!” disambut tawa oleh Dito yang sudah berada di belakang—sebelah kiri—Cakra.

Mereka hanya berjarak tiga meter.

"Siap ya! Satu... dua... tiga..., ANJING LU NYAI! KAYAK PEREK LU!!" Hanya suara Cakra yang mengguntur. Dito dan Victor ternyata berkhianat di detik terakhir; mereka hanya terkekeh di belakang, membiarkan makian kasar Cakra meluncur sendirian menuju cakrawala.

"Fuck lu bedua!" Cakra mengumpat sambil tertawa, berbalik untuk mengejar mereka, tangannya mencoba meraih kepala mereka untuk memberi jitakan balasan. Ia berlari di atas air yang dangkal dengan lincah, memamerkan fisik atletisnya yang sempurna. Lalu, semesta memutuskan bahwa kesombongan manusia ini sudah melampaui batas toleransi.

Bruk!

Lihat selengkapnya