Negeri Bawah Laut Porkah; #1 Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #4

Ruang Hampa

Cakra Abiyoga terbangun, dan hal pertama yang ia sadari adalah bahwa rasa sakit ternyata memiliki tekstur.

Pergelangan kaki dan tangannya berdenyut dengan irama yang sinkron. Sebuah simfoni penderitaan yang berasal dari belenggu rantai logam dingin, yang mengikatnya di atas permukaan keras. Ia mencoba menggerakkan jari-jarinya, namun ia mendapati dirinya terbaring di atas tanah berbatu halus yang terasa asing, terlalu rata untuk disebut alami, terlalu halus untuk disebut buatan pabrik manusia.

Sensasi yang merayap di kulitnya sangatlah aneh, sebuah paradoks sensorik yang akan membuat ilmuwan saraf manapun gila. Di satu sisi, Cakra merasa seolah ia sedang berendam di dalam bak mandi yang penuh, namun ia tidak merasa basah.

Tidak ada air yang menempel di pori-porinya, namun ada tekanan konstan yang memeluk tubuhnya, sebuah berat yang hanya bisa dihasilkan oleh kolom cairan yang masif. Ia tidak merasa kedinginan, namun di waktu yang bersamaan, tulang-tulangnya terasa seperti ditusuk oleh seribu jarum kecil.

"Sakit." Pikiran itu menggema di kepalanya yang terasa seperti baru saja disengat ribuan lebah.

"Mungkin inilah rasa sakit kematian," pikirnya dengan getir. Tak ada yang lebih menakutkan daripada kematian itu sendiri, bukan karena ketiadaannya, melainkan karena proses transisinya yang terasa seperti sedang dikuliti hidup-hidup oleh takdir.

Cakra mencoba menggerakkan tubuhnya. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaga dari otot-ototnya yang biasanya ia banggakan di gym sekolah. Ia menarik tangan dan kakinya, berharap dapat meloloskan diri dari lubang rantai yang melingkar begitu ketat hingga menghentikan aliran darahnya. Namun, setiap inci tarikan itu hanya mengundang siksaan baru. Seribu jarum kecil tadi mendadak berubah menjadi paku-paku panas yang menghujam penopang badannya. Tak ada yang terlewati—sendi, tendon, hingga tengkoraknya ikut berdenyut nyeri.

Ia tidak bisa menahannya lagi. Cakra berteriak.

Suaranya terdengar teredam, seolah-olah gelombang suaranya harus berjuang menembus medium yang lebih kental dari udara. Ia mengangkat badannya, mencoba duduk setegak mungkin, namun belenggu itu hanya mengizinkannya mengangkat kepala dan sedikit bagian dada—membentuk sudut kurang dari tiga puluh derajat. Posisi yang sangat tidak berdaya bagi seseorang yang biasanya memandang dunia dari ketinggian 185 sentimeter.

Cakra berkedip berkali-kali. Kelopak matanya terasa berat. Ia mengharapkan ada setitik cahaya yang membantunya melihat, namun kegelapan di sekelilingnya begitu pekat, begitu absolut. Ia mulai meragukan, apakah ia buta karena kerusakan saraf saat hanyut tadi, ataukah kematian memang merupakan sebuah ruang tanpa warna?

Lihat selengkapnya