Divisi Analis Distrik Nor mendadak berubah menjadi sarang kekacauan terkontrol, jika kepanikan masih bisa disebut terkontrol. Cahaya holografik di ruang pemantauan bergetar halus, hologram panel-panel data berpendar tak stabil, seolah ikut merasakan perubahan gelombang dari tubuh Cakra. Anak remaja itu tiba-tiba tersadar, tepat di tengah proses pembongkaran asal-usulnya.
“Sanvar tahanan menunjukkan lonjakan kesadaran!” seru salah satu analis.
“Aktifkan Maroz pada Sanvar tahanannya!” perintah sebuah suara perempuan. Nadanya tinggi, tajam, memerintah tanpa memberi ruang bantahan, suara seseorang yang terbiasa menentukan hidup dan mati lewat satu kalimat.
“Perintah diterima,” jawab suara laki-laki. Otaknya langsung mengaktifkan Maroz, alat pembeku lawan yang langsung menyerang titik saraf. Tidak dapat membuat lawan bergerak, lima detik kemudian kesadaran hilang. Akan tetapi, alat itu tidak bekerja pada Cakra.
Sejenak hening lalu napas tertahan terdengar jelas.
“Maaf, Komandan,” lanjutnya, kali ini suaranya pecah. “Maroz tidak bekerja padanya!”
Hologram di tengah ruangan berdenyut lebih terang. Siluet Cakra bergerak.
“Apa?” suara perempuan itu menajam. “Tingkat berapa?”
“Tingkat satu,” jawab sang analis cepat. Ia menelan ludah. “Mohon izin naik ke tingkat dua.”
Ruangan seolah menyempit. Bahkan arus air di luar dinding transparan tampak melambat, menekan seperti dada yang ditahan napas.
“Laksanakan.”
Satu kata. Pendek. Berat. Kembali sunyi.
“Maaf, Komandan… tingkat dua masih belum mampu membekukannya!” suara laki-laki itu terdengar nyaris pecah, jemarinya gemetar di atas cahaya hologram, lepas kendali. “Apakah kami harus lanjutkan ke tingkat tiga?”
“Jangan bodoh!” potong Komandan tajam. Nada suaranya menghantam ruangan seperti gelombang pasang. “Tingkat tiga bisa menghancurkan tubuhnya!”
Ia melangkah maju setengah langkah, rahangnya mengeras. “Seharusnya tingkat satu sudah cukup membuatnya tak sadarkan diri. Tingkat dua bisa meremukkan tulang. Tapi anak itu—” ia menarik napas pendek, menahan keterkejutan yang tak ingin ia perlihatkan, “—anak itu terlalu kuat.”
Ruangan kembali sunyi.
Komandan memejamkan mata sejenak, pikirannya bergerak cepat, menyusun kemungkinan demi kemungkinan. Lalu ia mengedip. Dari pupil matanya, sebuah bola sekecil kutu kucing muncul. Halus, bercahaya, seolah lahir dari cahaya itu sendiri. Bola itu melayang ke udara, bergetar pelan, lalu mengembang. Dalam sekejap, ia memecah diri menjadi hologram dua dimensi, memproyeksikan sosok lain dengan detail tajam.
“Georu,” ucap Komandan, suaranya kini lebih dingin, terkontrol. “Anak itu tidak mempan terhadap Maroz. Alpam juga belum mendapatkan jawaban apa pun darinya.”
Ia berhenti sejenak, menatap hologram itu lurus.
“Kamu yang ambil alih. Interogasi dia. Jika dia melawan, lumpuhkan dengan kejut listrik.” Nada suaranya merendah, namun justru terdengar lebih berbahaya.
“Ingat, jangan sampai anak itu terluka. Apalagi mati.” Hologram berpendar singkat, garis-garis cahayanya bergetar halus seperti makhluk hidup yang mengiyakan. Tanpa kata tambahan, proyeksi itu memudar.
Georu langsung bergerak.
Tubuhnya melesat menembus koridor menuju ruang penahanan Cakra Abiyoga. Langkahnya senyap, nyaris tanpa suara, seolah laut sendiri memberi jalan. Dan disaat Cakra sudah sadar sepenuhnya, sebuah suara menembus pendengarannya. Dalam, menggema, terasa terlalu dekat, seperti bisikan tepat di balik tengkoraknya.
“Bangun.”
Suara itu memecah sandiwara Cakra.
Suara seorang pria!
Tenor, sedikit cempreng, dan mengandung nada otoritas yang tak terbantahkan. Cakra tetap bergeming. Ia masih berharap pria itu akan percaya pada aktingnya.
"Kamu mau bangun sendiri, atau saya bangunkan paksa!?" ancam suara itu lagi, kali ini dengan nada yang lebih tinggi, tersirat rasa jengkel yang jelas.