Di dalam perut Distrik Nor—Distrik Teknologi Pangan dan Material Bilogis Kerajaan Porkah— tepatnya di jantung fasilitas pemantauan keamanan yang tersembunyi tujuh ribu meter di bawah permukaan laut—kedalaman di mana tekanan mampu meremukkan kapal manusia menjadi serpihan, dan cahaya matahari hanya tersisa sebagai konsep dalam arsip sejarah. Kebenaran sedang dibedah.
Bukan dengan pisau.
Bukan dengan darah.
Melainkan dengan cahaya dan pikiran. Sebuah proyeksi transparan melayang di udara tanpa penopang apa pun—merupakan bagian dari Casvet. Tidak ada kabel, tidak ada sumber cahaya yang terlihat. Ia hanya ada, diam, stabil, patuh.
Bagi bangsa Porkah, Casvet bukan sekadar teknologi. Ia adalah ekstensi kesadaran kolektif mereka. Dunia virtual yang dapat dipanggil keluar untuk menindih realitas, menekan dunia nyata hingga batas antara yang terjadi dan yang diingat menjadi kabur, bahkan tak ada pembeda.
Casvet tidak memiliki satu rupa tetap. Ia muncul sesuai kebutuhan dan kehendak penggunanya. Kadang ia membentang sebagai layar cahaya tipis—tenang dan datar—tempat data mengalir dalam barisan simbol yang bergerak seperti makhluk hidup, menyesuaikan diri dengan siapa pun yang memandangnya. Huruf dan angka tidak hanya ditampilkan, mereka beradaptasi, belajar bagaimana harus terlihat agar mudah dicerna oleh otak yang berbeda-beda.
Di waktu lain, Casvet mengembang menjadi hologram berlapis. Cahaya menebal, saling bertumpuk, membentuk bangunan, tubuh, bahkan lanskap utuh.
Dalam bentuk yang lebih terkonsentrasi, Casvet dapat dipadatkan menjadi bola pikiran seukuran semut. Berkilau lembut, nyaris tak terlihat. Bola itu mampu menembus tubuh seseorang tanpa melukai jaringan apa pun, lalu pecah di dalam kesadarannya. Saat itu terjadi, subjek tidak lagi mendengar cerita. Ia menjadi cerita itu sendiri—merasakan emosi dan sensasi sensorik yang sama, melihat dari sudut pandang yang sama, terjebak dalam alur waktu yang identik dengan pemilik ingatan aslinya.
Namun bentuk paling ekstrem—dan paling jarang digunakan—adalah ketika Casvet memproyeksikan simulasi tiga dimensi penuh. Cahaya mengeras menjadi daging semu. Permukaan dapat disentuh. Suhu dapat dirasakan. Hambatan fisik menjadi nyata.
Tetapi proyeksi itu tetap mati.
Ia tidak hidup.
Ia tidak memilih.
Ia hanya mengulang apa yang telah berlalu.
Casvet bukan pencipta.
Ia adalah penjaga—penjaga data dan kenangan yang dipaksa untuk terlihat.
Kini, Casvet menampilkan tubuh seorang anak manusia.
Cakra Abiyoga.
Sosoknya tergambar dalam layar berpendar, terkulai di atas meja interogasi batu—bagian dari sistem Alpam. Otot-ototnya masih menegang. Sengatan listrik terakhir dari Georu, si pria cantik, belum sepenuhnya pergi dari sistem sarafnya. Tubuhnya bereaksi bahkan saat ia diam. Jari-jari yang sesekali bergetar, rahang yang mengeras tanpa disadari. Wajahnya membeku di antara tiga emosi yang saling bertabrakan: marah, bingung, dan takut.
Tidak satu pun menang sepenuhnya.
Di hadapan proyeksi Casvet—yang menampilkan sosok Cakra, berdiri seorang pria bertubuh besar. Bahunya lebar, dadanya tebal, seolah tubuhnya dibentuk bukan untuk duduk berjam-jam di ruang analisis, melainkan untuk bertarung. Wajahnya keras, nyaris sadis, dengan bekas luka lurus sepanjang lima sentimeter yang melintang di pipi kiri—luka lama, sembuh rapi, sengaja dibiarkan sebagai pengingat.