Negeri Bawah Laut Porkah; #1 Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #8

Distrik Nor

Sang Komandan cantik melangkah cepat, seolah setiap detik yang terbuang adalah pelanggaran terhadap sumpahnya sendiri. Di pundaknya bertumpu kerahasiaan Distrik Nor, beratnya tak kasatmata namun terasa menekan hingga ke tulang, merayap perlahan ke setiap sendi. Sepatunya menyatu sempurna dengan seragam komando, terbuat dari polimer adaptif yang menyerap suara dan menyesuaikan tekanan. Tak satu pun langkahnya menggema saat ia mendekati satu-satunya dinding besi di ruangan berbentuk segi enam itu.

Tanpa perintah verbal, dinding tersebut bereaksi.

Permukaannya beriak, lalu bergerak turun—bukan terbuka, melainkan meleleh, seolah besi itu kehilangan kehendak untuk tetap padat. Dalam sekejap, dinding itu lenyap, ditelan lantai hitam mengilap yang tampak seperti cermin cair. Mynhemeni melangkah keluar dan berhenti sejenak di koridor sunyi, mengatur napas yang sebenarnya tak ia perlukan. Bukan tubuhnya yang butuh udara—melainkan pikirannya yang butuh jeda.

Tiba-tiba, dari bawah pijakan kakinya, lantai besi mengalami perubahan.

Sebidang besi selebar tubuh besar manusia dewasa naik perlahan, muncul tanpa suara, tanpa celah, tanpa bekas sambungan. Seolah atom-atom lantai membelah diri dan menyusun ulang dengan presisi yang melampaui logika fisika. Tak ada retakan, tak ada tanda bahwa sesuatu telah berubah. Bidang besi itu adalah Plitan—platform transportasi internal. Dan seperti semua hal di Kerajaan Porkah, ia bekerja dengan kepatuhan mutlak.

Setiap bangunan di wilayah Kerajaan Porkah memiliki Plitan, dan Mynhemeni telah menggunakannya sepanjang hidupnya tanpa pernah benar-benar menyadari keberadaannya. Plitan selalu muncul dari lantai, membentuk bidang besi yang akrab, dengan ukuran yang menyesuaikan kebutuhan—cukup untuk satu atau beberapa tubuh sekaligus.

Setelah itu, ia meluncur mengikuti jalur vertikal dan horizontal yang tak pernah terlihat, bergerak menyusuri tubuh setiap gedung seperti bagian dari sistem peredaran yang hidup. Plitan tunduk bukan karena diperintah, melainkan karena tatanan Porkah menuntutnya demikian. Keteraturan itu biasanya menenangkan bagi Mynhemeni. Namun kini, di bawah tekanan waktu dan rahasia yang ia bawa, kepatuhan itu terasa seperti ujian kesabaran.

Platform plitan di bawah Mynhemeni mulai bergerak, membawa tubuhnya melayang lembut menyusuri lorong panjang Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor. Kecepatannya stabil, dua puluh kilometer per jam—aman, efisien, sempurna. Namun bagi sang Komandan, itu terasa menyiksa. Detak jantungnya berlari lebih cepat dari Plitan, pikirannya melampaui koridor-koridor yang dilewatinya.

Ia meluncur melewati aula-aula luas tanpa sekat, tempat warga Porkah bekerja dalam keheningan yang efisien. Tidak ada percakapan sia-sia. Tidak ada gerakan berlebih. Setiap individu tahu perannya, dan dunia bergerak mengikuti mereka. Ruangan-ruangan lain terbentang dengan ukuran dan warna yang beragam, dinding-dindingnya bertekstur, pintu-pintunya fungsional, tak satu pun dibuat untuk sekadar indah. Segalanya ada untuk tujuan tertentu.

Di beberapa titik, ia berpapasan dengan bidang plitan lain. Ada yang berukuran raksasa, membawa hingga dua belas orang sekaligus, memaksanya berhenti sejenak demi mematuhi protokol lalu lintas internal. Ada pula platform yang sengaja melambat, memberi jalan serta melakukan sebuah gestur kecil, namun sarat makna, sebagai bentuk penghormatan pada seorang Komandan Distrik.  

Sesekali, Plitan Mynhemeni melayang lebih tinggi, melintas anggun di atas kepala orang-orang. Sebuah tarian mekanis yang hanya mungkin terjadi karena langit-langit Distrik Nor dibangun setinggi sepuluh meter. Bagi mereka, ruang vertikal adalah jalan raya.

Akhirnya, Plitan melambat.

Mynhemeni berdiri tegak saat platform berhenti di depan dinding berwarna kuning terang, mencolok, hampir berani, di antara dominasi warna logam dan abu-abu. Begitu kakinya menyentuh lantai, Plitan di bawahnya kembali larut, menyatu dengan permukaan, warnanya berubah menjadi peach pastel yang lembut, menyesuaikan diri dengan estetika ruang di hadapannya.

Tak ada bekas. Tak ada jejak.

Dari permukaan dinding kuning, muncul sebuah hologram kecil yang memproyeksikan seorang wanita muda dengan wajah ramah namun formal, rambut ikalnya diikat ke belakang layaknya ekor kuda, membiarkan kumpulan gelombang emas itu jatuh dengan indah di atas pundaknya.

“Selamat siang, Nyonya Mynhemeni. Ketua Thungsiruv sudah menanti Anda, silakan masuk,” ucap hologram itu dengan suara yang merdu, terlatih, dan netral.

Seketika, wanita itu lenyap.

Dinding kuning di hadapan Mynhemeni mulai bergerak. Dari satu titik di tengah dinding, materialnya bergerak teratur dengan kecepatan tinggi, menjauhi titik pusat dan bergerak melingkar secara mekanis. Persis seperti cara kamera membuka dan menutup lensanya. Kini, di hadapannya terdapat lubang dengan bentuk segitiga sama sisi yang sempurna.

Lihat selengkapnya