Sang Ketua Distrik Nor bertanya ke inti, suaranya tajam, seolah tak ada ruang bagi basa-basi di antara mereka. Ia mengisyaratkan agar Mynhemeni duduk di sofa panjang yang membentang di sisi meja kerja. Namun gadis itu memilih tetap berdiri di hadapan Sang Ketua Distrik Nor, yang sudah berada di depan sofa.
Begitu Thungsiruv menyentuh tempat duduknya, sofa itu bergerak menyambut. Permukaannya naik sedikit dari lantai, melengkung halus, seolah sepasang tangan tak terlihat menarik tubuh Sang Ketua agar duduk tanpa perlu usaha. Bentuknya menyesuaikan postur Thungsiruv dengan presisi tenang—sebagaimana semua bangku, kursi, dan sofa di seluruh Kerajaan Porkah selalu melakukan hal yang sama bagi siapa pun yang hendak duduk. Kenyamanan itu adalah standar, bukan kemewahan. Sebuah janji diam-diam bahwa tubuh tak perlu berjuang hanya untuk beristirahat.
Namun, kenyamanan itu gagal menenangkan kegelisahan yang tetap terpahat jelas di wajah Thungsiruv.
Garis-garis tegang di sekitar matanya tak memudar. Tatapannya tetap waspada, seperti seseorang yang menunggu kabar buruk meski sudah tahu kabar itu akan datang. Pada titik tertentu, ia memilih menelan ketegangan itu dengan obat penenang.
Thungsiruv memiringkan kepalanya. Dari lipatan jas merah gelap berbentuk jubah, sebuah butiran kecil terlepas dan melesat masuk ke hidungnya. Dalam sekejap, ketenangan singkat merayapi pikirannya—cukup untuk menahan dunia agar tak runtuh lebih cepat.
“Negatif, Ketua!” jawab Mynhemeni kaku.
Nada suaranya terkontrol—terlalu terkontrol. Ia berdiri tegak meski telah dipersilakan duduk, punggungnya lurus, bahunya kokoh seperti dinding benteng. Namun ketegangan tetap menyelinap di sela-sela kata-katanya, tipis, hampir tak terdengar, tetapi cukup bagi Thungsiruv untuk menangkapnya.
“Dia tetap mengaku bahwa dia hanyalah remaja biasa, Ketua,” ujar Mynhemeni. Rahangnya mengeras sesaat sebelum ia melanjutkan. “Kami tidak dapat menelusuri ingatannya lebih jauh. Setiap upaya lanjutan selalu ditolak, seolah ada batas yang sengaja ditanam di sana.”
Ia menarik napas singkat.
“Kami hanya mampu mengorek memori saat ia terombang-ambing ombak dan menghantam karang. Selebihnya…” Pandangannya bertemu mata Thungsiruv. “…nihil. Seakan otaknya memiliki sistem pertahanan yang sadar sedang disusupi.”
Thungsiruv memicingkan mata.
Bibirnya terkatup rapat.
Gerakan kecil yang selalu muncul ketika tekanan mulai bekerja di dalam dirinya. Mynhemeni mengenal ekspresi itu. Ia telah melihatnya muncul saat Kirgals—istri Thungsiruv—wafat, saat pusat melakukan inspeksi dadakan, saat teknologi pangan mengalami stagnansi, dan di saat misteri kehancuran Planet Porkah ratusan ribu tahun lalu belum juga diketahui hingga kini.
Namun kali ini, ekspresi itu terasa lebih berat. Lebih menekan. Tampak jelas, ancaman terhadap Bumi seakan segera terjadi lewat Cakra Abiyoga, remaja yang mereka tahan.
“Apa yang sebenarnya kamu lihat dari fragmen ingatan yang berhasil didapat lewat Alpam?” Suaranya akhirnya keluar, setelah lama menimbang. Walau bibirnya mengarah pada Mynhemeni, sorot matanya tampak kosong, seolah pikirannya telah lebih dulu berkelana ke tempat lain.
“Anak itu melihat Letnan yang sedang bertugas, Ketua!”
“Maksudnya?”
Thungsiruv menyandarkan tubuhnya lebih dalam ke sofa. Furnitur itu kembali menyesuaikan diri, menopang punggungnya, menahan berat tubuhnya dengan lembut, nyaris meninabobokan. Namun matanya tak pernah lepas dari Mynhemeni—menusuk, menguliti.
Walau begitu, pikirannya justru sibuk merangkai berbagai skenario masa depan. Semua itu berpusat pada satu nama: Cakra Abiyoga—seorang anak remaja manusia daratan yang kini terperangkap dalam jaring Alpam.
“Seperti yang Ketua tahu,” lanjut Mynhemeni, “selama ini kita selalu menyelamatkan manusia darat yang hanyut.” Ia melirik sekilas ke dinding bening samudera, seolah mengingat ribuan kasus serupa.
“Teknologi kita biasanya memicu otak mereka untuk melihat wujud yang mereka yakini sebagai mitos. Sosok yang terasa familiar bagi mereka.” Ia kembali menatap Thungsiruv. Pria itu hanya menatapnya, menunggu kelanjutan. “Di wilayah tempat anak itu hanyut, seharusnya dia melihat sosok wanita berpakaian hijau. Mereka memanggilnya Nyai Roro Kidul.”
Sebuah jeda tipis menyelinap. Ia ingin memastikan setiap kata jatuh dengan bobotnya masing-masing.
“Namun pada anak ini, proyeksi itu gagal total. Dia melihat kita dengan wujud asli, lengkap dengan peralatan kita.”
Hening merambat di ruangan.
“Coba Ketua perhatikan ini.”
Mynhemeni mengedipkan mata dua kali.
Gerakan kecil, nyaris tak kasatmata. Dari kornea matanya, dua titik cahaya putih melesat keluar, bergerak cepat di udara, bertabrakan di tengah ruangan, lalu meledak menjadi proyeksi hologram tiga dimensi—Casvet, melambung berbentuk bola pikiran seukuran semut kecil.
Seketika, ruang kerja Thungsiruv dipenuhi kilasan citra.
Ombak hitam menghantam karang. Langit kelabu terbelah petir. Tubuh seorang remaja terombang-ambing, terhempas, terlempar tanpa kendali. Suara air, gema benturan, dan detak panik bercampur menjadi satu kesan yang hampir terasa nyata.
“Lihat ini, Ketua.” Mynhemeni menunjuk ke arah siluet Letnan Rihum yang muncul dalam proyeksi, mengenakan helm patroli dan memegang tongkat senjata. “Dan saat anak itu menghantam karang... perhatikan!”
Adegan itu berulang, diperlambat.
Tubuh Cakra menghantam karang.