“Sayang... bangun yuk!”
Sebuah gelombang sinyal getar merambat melalui udara, mendobrak paksa benteng pertahanan organ dengar Cakra. Saraf-saraf halus yang tertanam di dalam telinganya seketika menangkap stimulus frekuensi tersebut, mengalirkan data suara langsung ke pusat kesadaran otaknya. Dalam hitungan milidetik, sinapsisnya menarik kesimpulan. Itu adalah suara wanita dengan tingkat ambitus rendah pada nada F—suara yang begitu akrab, begitu hangat, dan begitu dirindukan. Suara Bunda.
Kelopak mata Cakra bekerja layaknya pintu otomatis yang mengalami malfungsi, silih berganti membuka dan menutup dalam jeda waktu sepersekian detik. Pandangannya buram, seolah lensa matanya tertutup kabut tipis. Samar, ia menangkap siluet kontur tubuh bundanya yang berdiri di tengah pendaran cahaya yang tak pasti. Ia berupaya keras, memaksakan setiap jengkal kesadarannya untuk bangkit dari kegelapan yang tadinya memeluknya erat.
Garis kerutan pada kelopak dan pucuk matanya muncul dan menghilang, sebuah perjuangan fisik untuk menolak rasa lelah yang masih ingin menyeretnya kembali ke alam bawah sadar. Usahanya membuahkan hasil. Seiring dengan terbukanya kelopak mata secara penuh, seberkas cahaya menyilaukan menyerang penglihatannya, menciptakan hambatan sensorik baru yang perih. Cakra mengangkat tangan kirinya dengan gerakan kaku, mengucek-ucek matanya secara bergantian, sementara tangan kanannya bertumpu pada permukaan lembut di bawahnya, berusaha mendorong tubuhnya untuk bangkit.
Ia tahu rutinitas ini. Semua orang melakukannya untuk menajamkan fokus lensa mata agar dapat bekerja maksimal. Toh, Cakra tidak punya riwayat penyakit mata; ia selalu bangga dengan penglihatan tajamnya yang sering ia gunakan untuk membedah rumus fisika di papan tulis. Kini, setelah kabut itu sirna, ia dapat melihat dengan jelas. Di depannya terpampang wajah bundanya dalam ukuran close-up.
Wanita itu telah memasuki usia kepala empat, namun gurat kecantikannya masih bertahan dengan anggun. Wajah ovalnya, dengan pipi yang sedikit mengembang, tampak semakin berseri saat melihat Cakra mulai terjaga. Bibirnya yang tebal menggariskan senyuman tulus—sebuah ekspresi kasih sayang yang begitu jujur hingga membuat dada Cakra terasa sesak. Dari hidung kecilnya yang lancip, terdengar desahan lembut syukur seiring udara yang keluar dari nasal vestibule-nya.
Bunda duduk di celah kecil pada pinggiran ranjang. Pinggulnya mencoba mengambil ruang lebih agar dapat menopang tubuhnya tanpa membuat ranjang itu bergoyang terlalu hebat. Ia sesekali membetulkan posisinya yang kurang nyaman, namun matanya tetap fokus pada satu misi suci pagi itu: membangunkan sang putra mahkota.
Cakra bergerak menaikkan badannya, meski tangan kanannya terasa sedikit kaku, seolah-olah ia baru saja terbangun dari tidur yang berlangsung selama berabad-abad. Ia menggeser posisinya agar Bunda bisa duduk lebih nyaman di sisi ranjangnya yang empuk.
“Yuk, nanti kamu terlambat!” suara Bunda kembali terdengar, kali ini lebih nyaring dan bersemangat. Ia kemudian beranjak, melangkah pergi meninggalkan Cakra yang masih mematung dalam keheranan yang luar biasa.
“Ini di mana, Bun? Nanti terlambat untuk apa?” tanya Cakra. Suaranya terdengar asing bagi telinganya sendiri—lebih muda, lebih ringan, tanpa beban kegelapan yang baru saja ia alami.
Pandangannya mengikuti gerakan Bunda yang melangkah menuju lorong di sebelah kiri, sekitar tiga meter dari ranjangnya. Lorong itu berukuran cukup lebar, mungkin empat meter, cukup untuk dua orang berjalan bersisian. Lorong itu membentang sejauh tujuh meter, berakhir pada dua daun pintu besar layaknya pintu utama sebuah penthouse. Di sisi kanan dan kiri lorong, terdapat kusen tanpa pintu. Cakra tahu betul peta ruangan ini. Di balik kusen kanan adalah kamar mandi mewah tempat ia membersihkan diri, dan di balik kusen kiri adalah ruang walk-in closet tempat segala perlengkapan sekolahnya tersimpan rapi.
Cakra belum sepenuhnya menyadari keanehan ini. Awalnya, ia merasa asing dengan panorama mewah di sekelilingnya. Namun, saat neuron di otaknya mulai memindai objek-objek tersebut, memori lama mulai berdatangan seperti air bah.
Ia melihat jam besar berdiameter lima meter yang tertempel di dinding lorong. Jam itu adalah karya seni kustom; angka-angkanya digantikan oleh ukiran tokoh Marvel favoritnya, dengan jarum jam berbentuk pedang dan anak panah. Jam itu berdiri di antara dua lemari kaca setinggi tiga meter yang menyentuh langit-langit kamar. Lemari pertama di pojok penuh dengan deretan action figure anime Jepang yang ia koleksi dengan susah payah. Lemari kedua, di dekat lorong, berisi jajaran pahlawan super Hollywood.
Ia menoleh ke kiri. Di sana tergantung tumpukan foto masa kecilnya hingga remaja. Di bawahnya, sebuah meja belajar besar berdiri megah dengan dua rak melayang tanpa tiang berisi buku-buku pelajaran. Di hadapannya, menggantikan dinding kamar, terdapat set lemari buku raksasa dengan televisi layar datar di tengahnya. Buku-buku itu tersusun begitu padat hingga seekor cicak pun harus berjuang keras untuk menyelinap masuk.