Negeri Bawah Laut Porkah; #1 Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #11

Steven

“Anak yang duduknya di pojok kiri dekat jendela itu... dia anak ketua yayasan. Selama ini di depan guru dia cuma pura-pura jadi malaikat, tapi aslinya dia itu predator. Tukang bully tingkat tinggi. Siapa pun yang nggak dia sukai bakal jadi bangkai, dan mereka yang sudah jadi korban akhirnya cuma bisa pasrah. Nggak ada yang berani lawan, Cakra. Nggak ada.”

Dito menjawab pertanyaan Cakra mengenai identitas Steven dengan nada yang lebih mirip gumaman doa di pemakaman. Dan lagi-lagi, Cakra hanya bisa menjadi penonton pasif dalam teater ingatannya sendiri. Ia terjebak dalam arus sensorik yang presisi, mengikuti setiap adegan dengan detail yang menyakitkan. Ia tak mampu bergerak di luar skenario, bahkan untuk sekadar mengambil napas lebih panjang dari yang ia lakukan dua setengah tahun lalu.

“Emang nggak ada yang lapor?” tanya Cakra bingung.

Pertanyaan itu meluncur otomatis. Walaupun otaknya yang sekarang sudah mengingat betul seluruh rangkaian adegan ini—setiap koma dan titik dari tragedi yang akan datang—ia tetap harus menjalankan prosesi selaman ingatan tanpa adanya interferensi. Ia seperti hantu yang menghuni tubuhnya sendiri.

“Sudah! Sering!” Dito berbisik lebih lirih, matanya melirik waspada ke pojok kelas. “Tapi guru-guru nggak ada yang percaya. Steven itu terlalu 'bersih'. Terus tahu nggak apa yang terjadi besoknya setelah ada yang melapor? Tiba-tiba di dalam tas si pelapor ada rokok sama kondom! Kami semua yakin itu kelakuan Steven, tapi nggak ada yang bisa ngebuktiin. Soalnya, jangankan buat beli barang-barang kayak gitu, buat makan saja anak itu kadang susah. Malah sebelum diterima di sini, dia sering puasa karena keluarganya nggak punya apa-apa untuk dimakan!”

Cakra merasakan gelombang ngeri merambat di tulang belakangnya—sebuah gema emosi dari masa lalu yang kini terasa lebih tajam. Selama ini, Cakra pikir aksi perundungan hanyalah komoditas drama dalam sinetron yang sering disaksikan bundanya lewat layanan streaming. Mengingat mereka lama tinggal di luar negeri, internet adalah satu-satunya jembatan untuk menikmati segala hal yang berkaitan dengan Indonesia. Bundanya selalu bilang kalau drama-drama perundungan itu hanya fiksi yang dilebih-lebihkan untuk menaikkan rating. Cakra mempercayainya. Namun kini, di depan matanya sendiri, ia melihat betapa kenyataan bisa jauh lebih busuk daripada naskah televisi mana pun.

“Jadi ya terpaksa sekolah mengeluarkan dia. Itu semacam pesan, Cakra. Ancaman buat siapa pun supaya jangan main-main sama Steven.”

Amarah mulai membakar dada Cakra—rasa marah yang familiar pada seseorang yang menyalahgunakan status sosial untuk menginjak yang lemah. Jika saat itu Cakra tahu bahwa teman sekelasnya—yang sekarang menjadi salah satu sahabat terbaiknya—diperlakukan semena-mena, ia yakin Steven sudah akan berakhir di bangsal rumah sakit, koma akibat tinju yang ia layangkan. Cakra tak habis pikir, bagaimana bisa institusi pendidikan yang memakai nama "Berbudi Pekerti" bisa begitu buta.

“Brengsek! Parah juga ya tuh anak!” ujar Cakra sambil mendongakkan leher, matanya bergerak menyapu sudut langit-langit mencari benda yang ia cari. “Itu kan ada CCTV, emang nggak ada bukti siapa yang masukin?”

“Nah, itu dia masalahnya! File CCTV pas kejadian itu mendadak hilang. Katanya CCTV-nya mati tepat di jam itu. Ya semuanya pasti tahu kalau Steven sengaja masuk ke ruang kontrol buat matiin atau hapus filenya, cuma ya itu tadi... nggak ada bukti fisik!”

Dito menghela napas kecil. Tangannya yang sedari tadi ikut bergerak seiring mulutnya yang berceloteh kini terhenti. Padahal, guru di depan mereka sedang sibuk memaparkan materi melalui proyeksi cahaya dari alat proyektor kelas. Cahaya itu membelah udara kelas yang statis, menampilkan angka-angka dan rumus yang diabaikan oleh dua remaja di baris tengah itu.

“Lagian Steven itu murid teladan di mata mereka. Juara umum, pemenang olimpiade kimia. Beberapa kali dia bawa medali emas tingkat kota. Walaupun cuma tingkat kota, buat sekolah ini itu luar biasa. Guru-guru mana mungkin percaya kalau 'aset' berharga mereka itu seorang kriminal cilik?”

Dito melanjutkan penjelasannya tanpa menoleh pada Cakra, tangannya kembali sibuk menyalin tulisan yang tersuguh di dinding kelas. Suaranya yang lirih nyaris tenggelam oleh deru pelan AC ruangan.

“Oke, thanks infonya,” ucap Cakra, tangannya mulai bergerak mengikuti gerakan Dito mencatat.

Ia berusaha menyimak penjelasan guru mengenai energi mekanik, sementara di dalam kepalanya, ia mulai menyusun strategi perang untuk membalas Steven. Ia sangat mengingat perasaan itu—perasaan sombong namun mulia yang ia pegang teguh dari ayahnya: Lebih baik mati daripada hidup menutup mata melihat ketidakadilan.

Lihat selengkapnya