Pikiran manusia adalah ruang sidang yang paling korup di alam semesta. Di saat-saat terakhir, tepat sebelum paru-paru menyerah pada tekanan hidrostatik dan saraf-saraf berhenti mengirimkan sinyal rasa sakit, Cakra Abiyoga mulai melakukan pembelaan diri yang luar biasa kreatif. Jika hidup adalah sebuah simulasi, maka Cakra sedang mencoba meretas sistem moralitasnya sendiri. Ia mulai menata ulang kepingan ingatannya, mengubah setiap dosa menjadi sebuah kebajikan yang disalahpahami, sebuah narasi kepahlawanan yang hanya dimengerti oleh dirinya sendiri.
Terbukti, malaikat indah itu tersenyum padanya.
"Iya... Gue nggak senakal itu, kok!" bisik hatinya di tengah kegelapan air yang menindih.
Cakra membayangkan wajah-wajah yang pernah ia sebut sebagai samsak. Dalam cahaya kematian yang redup di bawah samudera, mereka tidak lagi tampak seperti korban perundungan. Tidak, itu adalah istilah yang terlalu dangkal dan malas bagi orang luar. Bagi Cakra, mereka adalah saudara dalam peluh.
Ia ingat bagaimana ia membesarkan mereka.
Mereka adalah anak-anak dari keluarga yang dihimpit garis kemiskinan, yang masa depannya diselamatkan oleh kedermawanan ayah Cakra melalui beasiswa penuh di SMA Berbudi Pekerti. Cakra merasa dirinya adalah sang pelindung.
Setiap pukulan yang mendarat di tubuh mereka bukanlah bentuk penindasan. Melainkan tempaan besi panas lewat pelatihan bela diri. Mulai dari karate, judo, hingga Muay Thai. Cakra merasa dirinya adalah sang pandai besi yang sedang menyiapkan pedang-pedang tumpul itu agar menjadi tajam dan siap menghadapi dunia yang kejam.
Dan mereka pun menyadarinya.
Loyalitas mereka bukan karena takut, melainkan karena jenis cinta yang keras dan canggung. Jika mereka bersikeras mengelap setitik debu di sepatu Cakra, atau berlari membuatkan segelas susu hangat di tengah hujan, itu bukan perbudakan. Itu adalah sebuah ritual penghormatan yang tulus.
Lalu ada memori tentang Andi, kepala sekolah Cakra. Teringat insiden Cakra mengurung kepala sekolahnya di toilet diikuti petasan yang menggelegar. Di mata dunia yang kaku, itu adalah penghinaan terhadap otoritas dan pelanggaran disiplin berat. Namun di dalam kepala Cakra yang sedang sekarat, itu adalah sebuah masterpiece kasih sayang remaja.
Andi, pria tua yang sudah menganggap Cakra seperti anaknya sendiri, sedang merayakan ulang tahun yang sepi hari itu. Cakra memberikan kejutan yang akan diingat pria tua itu selamanya, sebuah ledakan adrenalin yang diikuti dengan pemberian hadiah mewah yang telah lama didambakan sang Kepala Sekolah namun tak mampu ia beli.
Mobil Sport.
Cakra bukan tiran di sekolah itu. Dia adalah penghancur kekakuan. Ia mengubah sekolah yang membosankan dan penuh tekanan menjadi panggung sandiwara yang penuh warna. Semua guru, dari yang paling galak hingga yang paling lembut, menyayanginya karena Cakra tahu cara memperlakukan mereka sebagai manusia. Ia memberikan mereka rasa hormat melalui kejutan penuh cinta, bukan melalui kepatuhan yang membosankan.
Bahkan daftar panjang gadis-gadis yang ia kencani. Dari Michelle yang elegan, Sveta yang eksotis, hingga Ningsih yang sederhana, terasa berbeda dalam cahaya kematian. Cakra merenung, betapa sulitnya menjadi manusia yang dikutuk dengan kesempurnaan. Ia tidak pernah bermaksud menjadi penjahat hati yang haus akan penaklukan. Sebaliknya, ia adalah korban dari kelembutan hatinya sendiri. Ia menerima pernyataan cinta para gadis karena ia tidak tega melihat kehancuran di mata mereka, jika ia berkata tidak.
Namun, ia kecewa. Begitu para gadis itu berada dalam jangkauan lengannya, kesucian yang mereka tawarkan dengan agresif justru membuatnya muak. Ia menghormati perempuan lebih dari mereka menghormati diri mereka sendiri.