Cakra dan lima remaja lainnya kini duduk berhadap-hadapan di atas sofa ruang kantor kepala sekolah SMA Berbudi Pekerti. Ruangan itu tidak luas, mungkin hanya sekitar empat kali lima meter. Ukuran yang ironisnya sama persis dengan ruang penyimpanan pakaian di kamar megah Cakra. Di tempat sesempit ini, ego manusia biasanya akan saling berbenturan hingga pecah.
Cakra menarik sudut bibirnya, sebuah senyum geli yang tak tertahankan. Ia melihat Steven dan antek-anteknya duduk berdesakan di atas satu sofa yang sebenarnya hanya dirancang untuk empat orang dewasa. Mereka bersikukuh menempel satu sama lain, menciptakan pemandangan yang menyedihkan sekaligus konyol. Sementara itu, Cakra duduk di sofa seberang dengan ukuran yang sama, sendirian, lega, dan menguasai ruangannya sendiri.
Ia tak mengerti jalan pikiran mereka. Entah mengapa rasa gengsi yang rapuh dapat mengalahkan kenyamanan fisik yang mendasar. Padahal, saat mereka baru masuk tadi, Cakra sempat menawarkan dengan sopan agar sebagian dari mereka duduk di sisinya. Namun, tawaran itu dibalas dengan tatapan jijik. Victor bahkan sempat mengancamnya dengan kepalan tangan yang gemetar karena amarah.
Dalam hati, Cakra yang asli, yang sedang menyelam dalam ingatan ini, berusaha melawan alur adegan. Ia ingin sekali berteriak, bangkit, dan memeluk Victor. Di masa depannya, Victor adalah sahabat yang ikut hanyut bersamanya saat mereka menantang penguasa Pantai Selatan. Ia baru menyadari sekarang bahwa bibit kesetiaan Victor sudah ada sejak dulu, meski saat ini diarahkan pada orang yang salah. Ada dorongan kuat dalam kesadaran Cakra untuk membelokkan memori ini, untuk berpindah ke adegan saat ia dan Victor mulai akrab.
Namun, hukum ingatan tidak bisa dinegosiasikan. Usahanya sia-sia.
Cakra tetap terjebak dalam tubuh remajanya, duduk berhadapan dengan musuh-musuhnya dengan tatapan geli yang sama seperti yang ia lakukan bertahun-tahun lalu.
“Aneh... kenapa sering sekali CCTV mati ya? Apalagi di saat-saat krusial seperti ini!” gumam Andi, sang kepala sekolah. Suaranya kecil, sebuah keluhan retoris yang ditujukan pada layar monitor di mejanya, namun masih cukup tajam untuk tertangkap oleh telinga Cakra.
Steven tersenyum tipis. Sebuah senyuman kemenangan yang kotor. Cakra tahu betul apa yang ada di balik senyum itu. Steven sudah merencanakan pemadaman ini.
Andi beranjak dari meja kerjanya. Laporan dari ruang kontrol baru saja masuk. CCTV di area kantin sedang dalam perbaikan berkala. Pria itu tidak menaruh curiga. Mungkin ia terlalu lelah, atau mungkin ia sudah terbiasa dengan kebetulan-kebetulan aneh yang selalu melibatkan Steven. Baginya, teknologi pengamat itu hanyalah hiasan dinding yang mahal dan tidak bisa diandalkan.
“Jadi... apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Andi sambil menyandarkan tubuh tambunnya pada sebuah sofa kecil di tengah, menciptakan segitiga posisi di antara mereka. Jaraknya tak sampai lima puluh sentimeter dari lutut Steven dan Cakra.
Keheningan jatuh seberat timah begitu sang kepala sekolah mendarat di takhtanya. Andi menoleh ke arah kelompok Steven, lalu ke arah Cakra, mencari kebenaran dalam pupil mata mereka yang masih memancarkan adrenalin sisa perkelahian.
“Kamu anak baru, kan? Nak Cakra? Kenapa bisa ada kejadian memalukan seperti ini di hari-hari awalmu?” tanya Andi, matanya tertuju pada Cakra.
Cakra mengatur napasnya, suaranya keluar dengan ketenangan yang mengintimidasi.
“Dia tiba-tiba menjegal kaki saya, Pak, sampai saya jatuh dan makanan saya tumpah. Bukannya minta maaf, dia malah mengejek saya. Saat saya mau pergi, saya malah dipukuli. Ya saya melawan... Self-defense, Pak. Tindakan defensif tidak bisa dihukum, bahkan oleh pengadilan internasional sekalipun.” Cakra menunjuk Steven dengan jari telunjuknya yang stabil.
Tatapan mereka bertemu di udara.
Ada arus kebencian yang mendidih di mata Steven, sementara Cakra hanya membalasnya dengan kekosongan yang dingin. Baginya, Steven hanyalah variabel gangguan dalam sebuah persamaan fisika.
“Nggak, Pak! Saya nggak mungkin melakukan hal serendah itu! Andi tahu sendiri kan, selama ini saya tidak pernah punya catatan kekerasan!” bela Steven menggebu-gebu. Ia menggunakan seluruh modal reputasinya yang telah dibangun bertahun-tahun di sekolah itu. Ia yakin, seorang narapidana baru di matanya tidak akan bisa menumbangkan murid teladan dalam satu kali sidang.
Andi beralih ke kelompok Steven. “Kalian bagaimana? Apa yang kalian lihat?”
“Iya, Pak! Dia yang mulai duluan!” Victor menyahut cepat, suaranya serak.
“Steven tadi nggak sengaja menyenggol dia, dan Steven sudah minta maaf. Tapi dia nggak terima. Dia langsung memukuli Steven. Kami nggak terima teman kami dianiaya, jadi kami mencoba melerai. Eh, malah dia memukuli kami juga, Pak! Jadi ya kami balas memukul. Self-defense, Pak!” Victor menekankan kata self-defense dengan nada mengejek yang kental, diikuti cekikikan pelan dari Steven dan yang lainnya.