“Kamu! Berani-beraninya kamu membuat onar di sekolah yang sudah bermurah hati menampung anak sepertimu!”
Suara Handoko meledak, memantul di dinding ruangan yang sempit itu. Ia mengacungkan telunjuk kanannya tepat di depan hidung Cakra, hanya berjarak beberapa inci dari bola mata pemuda itu. Tangannya yang lain terkepal erat, seolah-olah ia sedang menahan diri agar tidak melayangkan tamparan kedua.
Di luar ruangan, atmosfer sekolah mendadak berubah. SMA Berbudi Pekerti yang biasanya tenang, dipenuhi anak-anak yang terobsesi dengan nilai dan masa depan, kini mendidih oleh rasa penasaran. Murid-murid dari kelas sepuluh hingga dua belas mulai berkerumun di koridor, menjaga jarak aman namun tetap berusaha mengintip melalui celah pintu atau jendela kaca yang buram. Kehadiran Handoko adalah lonceng kematian bagi siapa pun yang berselisih dengan Steven. Kabar burung menyebar lebih cepat dari kecepatan cahaya. Cakra, si anak baru misterius itu, akan segera didepak.
Di kelas Cakra, perasaan teman-temannya bercampur aduk seperti badai kimia. Ada yang merasa iba, ada yang didera rasa bersalah karena membiarkan Cakra dikucilkan, namun ada juga yang merasa Cakra pantas dikeluarkan karena telah mengusik ketertiban yang selama ini dipelihara di bawah kaki Steven. Sementara itu, Mia tetap duduk di bangkunya, menatap keluar jendela dengan ekspresi datar yang dingin. Seolah-olah seluruh drama ini hanyalah gangguan semu di dunianya.
Para guru berusaha membubarkan kerumunan itu, namun rasa ingin tahu manusia adalah mesin yang sulit dimatikan. Mereka sendiri sebenarnya penasaran, karena Handoko adalah sosok yang selalu hadir dalam setiap kebijakan sekolah, seorang diktator kecil yang suaranya lebih berat daripada peraturan tertulis mana pun.
“Pak Andi!” Handoko kini memalingkan tatapan kejinya ke arah kepala sekolah. “Saya mau anak ini dikeluarkan sekarang juga! Tanpa syarat! Dia adalah noda bagi institusi ini!”
Steven, yang duduk di sofa seberang, tidak menyembunyikan rasa bahagianya. Ia menyeringai licik ke arah Cakra, sebuah tatapan yang mengatakan: Aku sudah bilang, bukan? Dunia ini milikku.
Cakra membalas tatapan itu dengan ketenangan yang ganjil. Ia sedang mengerahkan seluruh energinya untuk menahan diri agar tidak membuat pria tua di depannya berakhir di unit gawat darurat. Tamparan tadi memang perih, tapi rasa perih itu tidak ada apa-apanya dibanding api yang mulai membakar jiwanya. Alasan utama Cakra tetap diam hanya satu, ayahnya selalu mengajarkannya untuk tetap menghormati orang tua, seburuk apa pun karakter mereka. Namun, rasa hormat itu kini tipis sekali, setipis lapisan atmosfer Bumi yang hampir habis.
“Tapi, Pak Handoko...” Andi mencoba masuk ke sela-sela amarah itu, suaranya bergetar.
“Kenapa lagi? Apa yang kamu tunggu?”
“Dia anak baru, Pak. Baru kemarin terdaftar. Jika kita mengeluarkannya secara instan tanpa prosedur yang jelas... nanti apa kata pihak Dewan Direksi Yayasan, Pak? Laporan ini harus melalui audit mereka,” Andi berusaha mengingatkan posisi mereka dalam hierarki perusahaan yang lebih besar.
“Saya ini ketua yayasan di sini! Saya berhak mengambil keputusan darurat!” Handoko membentak, arogansinya menutupi logika hukum yang seharusnya ia patuhi. “Lagipula, kenapa bisa ada murid baru yang masuk tanpa sepengetahuan saya? Siapa yang memberi izin?”
Niat Andi sebenarnya tulus. Ia ingin melindungi Handoko agar tidak berbenturan dengan Dewan Direksi Monument Group, para raksasa yang tidak pernah ramah pada kesalahan sekecil apa pun. Namun, arogansi Handoko telah membutakannya. Ia merasa sekolah ini adalah kerajaan pribadinya, di mana titahnya adalah hukum.
Mendengar perdebatan itu, Cakra tidak kuasa menahan diri. Sebuah senyum ejekan muncul di bibirnya. Ia melihat Handoko bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai badut yang memakai mahkota kertas di atas menara yang akan segera runtuh.
“Berani-beraninya kamu mengejek saya!” Handoko berteriak, wajahnya merah padam. “Kamu dari panti asuhan mana, hah?! Kenapa anak sepertimu bisa masuk ke sini tanpa izin saya?”
“Dewan Direksi yang memerintah langsung, Pak!” Andi menyela dengan cepat sebelum situasi semakin tidak terkendali. “Cakra ini adalah kandidat utama tim olimpiade fisika yang akan mewakili Indonesia ke IPhO (International Physics Olympiad). Saya pikir Bapak sudah membaca disposisinya.”
Handoko sedikit tersentak. Ia bergidik sedikit, matanya kembali menelisik Cakra dengan tatapan yang lebih waspada. Kandidat IPhO bukanlah posisi sembarangan, itu adalah aset nasional yang bisa meningkatkan reputasi sekolah secara drastis di mata internasional.