Tiga puluh menit berlalu. Waktu yang cukup bagi Cakra untuk menenangkan sisa-sisa kemarahan yang berdenyut di pelipisnya. Ia duduk sendirian di sofa kantor kepala sekolah, jemarinya menari malas di atas layar ponsel. Di luar, suara hiruk-pikuk sekolah mulai mereda, namun atmosfer di dalam ruangan ini terasa seperti udara sesaat sebelum badai besar melanda.
Tiba-tiba, pintu terbuka tanpa drama. Adipramana melangkah masuk, disusul oleh Andi yang mengekor di belakangnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. Campuran antara bingung, kagum, dan rasa kecil yang amat sangat. Cakra mendongak, matanya bertemu dengan mata ayahnya, dan sebuah senyuman kemenangan yang tipis namun tajam merekah di wajahnya.
“Kenapa kamu senyum-senyum begitu?” Tanya Adipramana tenang. Ia menghampiri Cakra, menepuk bahu putranya sejenak, lalu duduk di sebelahnya. Kehadiran pria itu seketika membuat sofa yang tadinya terasa sempit bagi Steven kini terlihat seperti singgasana bagi Adipramana.
“Nggak apa-apa, Yah,” jawab Cakra, masih menyeringai.
Andi mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya. Kursi yang selama ini ia anggap sebagai takhta kekuasaannya, namun kini terasa seperti bangku plastik di depan pria di hadapannya. Ia berdeham, mencoba mengumpulkan sisa-sisa wibawanya.
“Maaf... dengan Bapak siapa, kalau saya boleh tahu?” tanya Andi ragu.
“Adipramana,” jawab ayah Cakra singkat. Ia merentangkan tangannya, menawarkan jabat tangan yang mantap dan hangat ke arah Andi.
Andi menyambut tangan itu dengan telapak yang sedikit lembap karena keringat dingin. Entah mengapa, ia merasa jiwanya mendadak mengerdil. Beberapa menit lalu, saat ia keluar dari UKS, ia melihat sebuah mobil mewah meluncur masuk ke area sekolah. Jenis mobil yang hanya muncul di film-film atau halaman depan majalah ekonomi dunia. Mobil itu adalah potongan teknologi otomotif yang terlalu indah untuk jalanan Jakarta.
Awalnya, Pak Andi mengira orang di dalam mobil itu salah alamat atau mungkin sedang mencari petunjuk arah. Namun, keterkejutannya mencapai puncaknya saat pintu mobil terbuka. Ia mengharapkan sesosok pria dengan setelan jas seharga ribuan dolar, rambut klimis, dan sepatu yang bisa memantulkan cahaya bulan. Namun, yang keluar adalah seorang pria yang tampak sangat biasa.
Adipramana mengenakan sweater rajutan sederhana dengan kancing tarik pendek di bawah leher, celana kain yang jatuh tepat di atas lutut, dan hanya beralaskan sandal. Penampilannya adalah definisi dari quiet luxury. Kekayaan yang begitu besar sehingga pemiliknya tidak merasa perlu membuktikannya kepada siapa pun. Di usia empat puluh lima tahun, aura Adipramana tidak datang dari pakaiannya, melainkan dari cara dia bernapas, cara dia berdiri, dan tatapan matanya yang seolah-olah sudah melihat seluruh isi dunia.
“Oh iya, saya Andi. Kepala sekolah Cakra,” ucap Andi dengan suara yang sedikit bergetar. Ia lupa memperkenalkan diri saking terpesonanya.
“Begini, Pak Adipramana... Pak Handoko, ketua yayasan kami, meminta Bapak datang. Tapi beliau sedang mengantar putranya ke klinik. Khawatir akan ada cedera internal, katanya. Tadi saya sudah kabarkan kedatangan Bapak, dan beliau sudah dalam perjalanan kembali. Ternyata tidak ada luka serius pada anaknya.”
Adipramana mendengarkan dengan saksama, meski ekspresinya tetap datar.
“Kalau boleh tahu, anaknya Pak Handoko kenapa ya, Pak?” tanya Adipramana, suaranya mengandung nada ingin tahu yang sopan, meski ia sudah bisa menebak arah pembicaraan ini.
Cakra hanya tersenyum lebar saat ayahnya menoleh padanya.
“Kamu nggak keterlaluan kan, Dek?” tanya Adipramana dengan nada cemas yang dibungkus sedikit rasa bangga yang tersembunyi.
“Ya enggaklah, Yah... kan Pak Andi sudah bilang tadi kalau anaknya nggak kenapa-napa,” ucap Cakra enteng. Ia kembali menunduk ke ponselnya, menonton dokumenter tentang robotika molekuler. Baginya, melihat bagaimana partikel nano bekerja lebih menarik daripada mendengarkan dramatisasi Steven.
“Jadi Pak Adipramana sudah tahu kejadiannya?” tanya Andi.
“Belum sepenuhnya, Pak. Tapi saya tahu anak saya ini bisa menjadi sangat ekspresif jika dia diganggu atau diperlakukan semena-mena. Bisa Bapak jelaskan urutan peristiwanya?” Adipramana mengusap kepala Cakra dengan penuh kasih sayang, sebelum kemudian memberinya tepukan keras yang membuat Cakra cemberut.
Andi menarik napas dalam. Ia berusaha berbicara se-objektif mungkin. Ia tidak tahu mengapa, tapi ia merasa bahwa pria di depannya ini memiliki aura bos mafia yang sedang menyamar.
“Menurut versi Cakra, Steven, putra Pak Handoko, dengan sengaja membuat Cakra terjatuh. Setelah itu, bukannya meminta maaf, Steven justru menyerang Cakra secara fisik. Cakra membela diri... self-defense.” Andi menjeda kalimatnya, menatap Adipramana yang hanya mengangguk pelan.
“Sedangkan dari pihak Steven,” lanjut Andi.
"Dia mengaku tidak sengaja menyenggol Cakra. Katanya, dia sudah berniat meminta maaf, tapi Cakra langsung memukulinya secara membabi buta. Begitu laporannya, Pak.”
“Hmm. Menarik,” gumam Adipramana. Ia menatap Cakra, namun pertanyaannya diarahkan ke udara.
“Lalu bagaimana dengan CCTV-nya, Pak? Bukankah teknologi diciptakan untuk mengakhiri perdebatan seperti ini?” Pertanyaan itu terasa seperti jebakan.
Adipramana tahu Cakra telah memasang sistem pengintai pribadinya semalam. CCTV berteknologi tinggi dengan lensa resolusi super yang bisa menembus bayangan. Benda yang bahkan tidak akan disadari keberadaannya oleh teknisi tercanggih sekalipun.
Andi menghela napas panjang, bahunya merosot. “Itulah masalahnya, Pak Adipramana. Saya harus meminta maaf secara pribadi karena kelalaian ini. Sistem CCTV sekolah kami... entah bagaimana, sedang mengalami malfungsi tepat saat kejadian berlangsung. Kami tidak memiliki rekaman apa pun.”
Andi menunduk, merasa sangat bersalah. Ia yakin Cakra adalah pihak yang jujur, namun tanpa bukti rekaman, arogansi Handoko akan memenangkan argumen ini. Ia takut Cakra akan dikeluarkan, sama seperti murid berprestasi yang dijebak Steven bulan lalu.
“Oh... begitu ya? Ya sudah, tidak apa-apa, Pak Andi. Kita tunggu saja Pak Handoko. Dia sudah dihubungi, kan?” jawab Adipramana dengan ketenangan yang hampir tidak manusiawi.
Andi tertegun. Ia mengharapkan ledakan amarah atau ancaman somasi, namun pria di depannya ini justru terlihat seolah-olah sedang menunggu pesanan kopi.
BRAKK!