Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #16

Sang Idola

Keheningan yang mengikuti pemutaran video itu terasa lebih menyakitkan daripada ledakan granat. Handoko langsung menunduk, wajahnya yang tadi merah padam karena amarah kini memucat, layu oleh rasa malu yang tak tertanggungkan. Di sampingnya, Steven tampak seperti patung lilin yang mulai meleleh di bawah terik matahari.

Dengan gerakan yang dipicu oleh kepanikan murni, Handoko tiba-tiba beranjak dari duduknya. Matanya liar, tangannya terayun cepat di udara, berniat melayangkan tamparan keras ke wajah Steven. Sebuah upaya primitif untuk menunjukkan disiplin di depan atasannya.

Namun, kepalan tangan itu tidak pernah sampai ke tujuannya.

Adipramana bergerak lebih cepat. Dengan sigap, ia meraih pergelangan tangan Handoko di udara. Cengkeramannya tidak terlihat kuat, namun Handoko seketika membeku, tak mampu bergerak satu inci pun. Adipramana menatapnya dengan tatapan tajam yang memancarkan emosi yang tertahan rapat. Sebuah amarah dingin yang jauh lebih menakutkan daripada teriakan.

Andi duduk terpaku kaku di kursinya. Pikirannya melayang, mencoba mencerna bagaimana sebuah drama sekolah bisa berubah menjadi medan perang kelas kakap tepat di depan matanya. Seluruh spekulasi buruknya mengenai Steven selama ini mulai mekar dari tunasnya, menjadi kenyataan yang pahit. Ia tahu ia tak bisa lagi menolong Steven.

Di dalam benak Andi, berbagai skenario buruk berputar. Bisakah Adipramana memecat ketua yayasan hanya dalam satu jentikan jari? Jika iya, bagaimana nasib sekolah ini? Ia merasa sangsi, namun sekaligus ngeri. Sebenarnya, ada bagian kecil dalam dirinya yang tidak ingin Steven dikeluarkan.

Ia percaya pada kesempatan kedua.

Namun, ia juga sadar bahwa selama Steven ada di sini, sekolah ini tidak akan pernah benar-benar aman. Bayangan tentang para siswa yang pernah menjadi korban perundungan Steven muncul di benaknya, mereka akan menuntut keadilan. Satu-satunya cara agar Steven bisa hidup tenang tanpa bayang-bayang dosanya adalah dengan pergi dari sini.

“Saya kecewa sama kamu, Handoko,” ucap Adipramana pelan. Suaranya rendah, namun mengandung berat ribuan ton tekanan atmosfer. Ia masih mencengkeram tangan Handoko, membiarkan gelombang amarah dan kekecewaannya meresap ke kulit pria tua itu.

Handoko hanya mampu menunduk, gelagapan. Tubuhnya yang besar seolah menyusut di depan Adipramana. Ia tidak bisa berkata-kata, hanya bisa meratapi kebodohan yang ia pelihara bertahun-tahun.

Adipramana kemudian melepaskan cengkeramannya dan menoleh ke sisa manusia di ruangan itu.

“Pak Andi, Steven, dan kamu Dek... bisa keluar sebentar? Ada yang harus saya bicarakan secara pribadi dengan orang ini.”

Perintah itu mutlak. Tanpa perlu disuruh dua kali, mereka bangkit. Steven bergegas keluar lebih dulu, langkahnya cepat dan tidak stabil, tanpa berani menatap siapa pun. Andi dan Cakra menyusul di belakangnya.

Begitu pintu tertutup, Steven langsung berbelok menuju ujung lorong yang sepi. Ia berjongkok di sana, menyandarkan punggungnya ke dinding semen yang dingin. Pikirannya berkecamuk hebat. Egonya yang setinggi langit kini sedang dihantam badai. Ia ingin mengakui kesalahan, namun rasa kecewa melihat ayahnya yang pengecut. Ayah yang tidak membelanya, malah ingin menamparnya. Membuat rasa benci mulai tumbuh di hatinya. Benci pada ayahnya, dan benci pada dirinya sendiri yang ternyata hanyalah seorang pengecut.

Cakra berdiri tak jauh dari pintu ruangan, bersandar pada tembok dengan gaya santai. Ia mengeluarkan ponselnya, melanjutkan tayangan dokumenter robotika yang tadi tertunda. Ia sempat melirik ke arah ujung lorong, melihat Andi berjalan menghampiri Steven. Kepala sekolah itu berusaha mengajak Steven bicara, namun Steven justru bergeser tiga langkah menjauh, menolak segala bentuk simpati. Cakra merasakan secuil rasa iba, namun rasa muaknya terhadap sikap pecundang Steven masih lebih dominan.

Di dalam ruangan, suara Handoko terdengar lirih memohon.

“Pak Adipramana... saya sungguh minta maaf! Saya malu... saya lepas kendali karena emosi!” Handoko memasang wajah paling sayu yang ia miliki, berharap ada setitik belas kasih dari pria di depannya.

“Saya tidak hanya bicara soal perkelahian ini, Handoko,” sahut Adipramana dingin.

“Sikapmu terhadap Pak Andi, tamparanmu pada anak saya, dan barusan... kamu mau memukul anakmu sendiri di depan orang lain hanya untuk menyelamatkan mukamu? Itu menjijikkan.”

“Maaf, Pak... saya janji tidak akan mengulanginya!”

“Apakah kamu memperlakukan mereka seperti itu juga?” tanya Adipramana, matanya menyipit.

Lihat selengkapnya