Ruangan itu tidak terlalu kecil, tapi terasa sempit seperti dada yang ditekan rasa bersalah. Udara di dalamnya kental, seolah setiap kata yang pernah diucapkan di sana masih menggantung, menunggu untuk dijatuhkan sebagai vonis. Lampu neon di langit-langit berdengung pelan, suara yang biasanya diabaikan, namun kali ini terdengar seperti detak jam menuju kehancuran.
“Jadi, kamu mengakuinya?”
Suara Andi memecah keheningan yang menyesakkan di ruangan itu. Nada suaranya tidak tinggi, tidak pula marah. Justru itulah yang membuatnya terasa lebih berat. Andi menatap Steven dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan seorang pendidik yang telah melihat banyak murid tersesat, namun belum pernah menyaksikan kegelapan yang begitu terawat rapi. Ada kekecewaan, ada juga ketakutan, seperti seseorang yang baru menyadari bahwa monster tidak selalu datang dengan taring, kadang ia mengenakan seragam sekolah dan senyum sopan.
“Iya, saya mengakuinya. Saya salah,” ucap Steven. Nada suaranya datar, terlalu datar untuk seorang remaja yang sedang diadili. Dingin, seperti es di kutub utara yang tak tersentuh matahari.
“Saya meminta maaf sedalam-dalamnya kepada Cakra karena telah mengganggunya. Dan saya meminta maaf kepada Pak Andi karena sudah berbohong” Steven menatap mata mereka satu per satu. Andi kepala sekolahnya. Handoko ayahnya. Adipramana ayah Cakra. Cakra. Namun sorot matanya membisikkan cerita yang berbeda. Tidak ada penyesalan di sana.
Permintaan maaf itu hanyalah rangkaian kata formalitas, sebuah protokol sosial yang ia jalankan dengan presisi sempurna. Seperti daftar keselamatan sebelum pesawat jatuh. Matanya masih menyimpan api kebencian yang berkobar, hanya saja kini api itu tertutup abu keputusasaan.
Ia tidak menyesal. Ia hanya kalah.
“Cuma itu doang?” potong Cakra. Suaranya tenang, tapi ada tekanan di setiap suku kata. Seperti tanah yang tampak diam sebelum retak oleh gempa. Cakra tidak ingin sekadar formalitas. Ia tidak datang sejauh ini hanya untuk mendengar kata maaf yang kosong. Ia ingin Steven memuntahkan seluruh racun yang selama ini ia simpan rapi di balik kekuasaan ayahnya.
Tujuan Cakra bukan hanya memenangkan perkelahian di kantin. Itu hanya pemicu. Yang ia incar adalah sistem pembulian sistemik yang selama ini dipelihara Steven seperti kerajaan kecilnya sendiri.
“Maksud lo?” Steven mendesis, tatapannya tajam seperti silet. Untuk sesaat, topeng dinginnya retak, memperlihatkan binatang yang terpojok.
“Begini, Pak Andi,” Cakra mengalihkan pandangan pada sang kepala sekolah.
“Saya yakin Bapak sering curiga kenapa sistem CCTV sekolah ini selalu kebetulan mati setiap kali ada keributan yang melibatkan Steven." Cakra berhenti sejenak. Ia tahu cara kerja kebenaran. Tidak perlu berteriak, cukup diucapkan dengan tenang.
"Itu bukan malfungsi. Itu sabotase. Steven yang mematikannya."
Pak Andi membeku.
"Saya tahu karena Pak Bayu, kepala keamanan kita, yang membantu saya memasang sistem pengintai pribadi saya di seluruh sekolah.”
Kalimat itu jatuh seperti palu sidang.
Cakra menjeda sejenak, membiarkan informasi itu meresap ke dalam benak Pak Andi.
“Kalau Bapak ragu... Silakan tanyakan langsung sama Pak Bayu." Lanjut Cakra,
"Dia punya bukti salinan yang disimpan secara rahasia. Selama ini mereka menuruti Steven hanya karena ancaman pemecatan. Mereka takut pada bayang-bayang Pak Handoko.”
Wajah Handoko berkedut.
Ia ingin membantah. Ia ingin berteriak bahwa ini semua fitnah. Namun lidahnya terasa lumpuh. Karena jauh di dalam dirinya, ia tahu. Bayang-bayang itu nyata, dan ia sendiri yang menciptakannya. Otaknya dengan cepat memerintahkan lehernya berputar bagai mesin kaku ke arah Steven. Ia perlu pondasi pertahanan, dan Stevenlah yang harus berkorban. Bocah remaja itu hanya terdiam kelu, jari kanannya menggenggam kehampaan, seakan jati dirinya sedang disobek.
Cakra melanjutkan tanpa jeda, setiap katanya adalah peluru yang menembus pertahanan Steven. “Bahkan anak yang dikeluarkan bulan lalu, yang katanya ditemukan alat kontrasepsi dan rokok di tasnya, itu semua ulah Steven."
Steven tersentak.
"Dia yang memasukkan barang-barang itu. Para petugas keamanan menyalin rekaman aslinya sebelum dihapus, sebagai jaminan jika suatu saat dewan direksi melakukan audit. Selama ini, mereka terpaksa mau menuruti Steven. Tapi, mereka juga tahu bahwa otoritas tertinggi bukan Steven, bukan Pak Handoko."
Cakra menatap Andi lurus-lurus.
“Mereka hanya butuh jaminan, dan itu wajar. Jadi, Pak Andi… anak itu tidak bersalah. Saya ingin dia kembali bersekolah di sini.”
Hening.
Bukan hening yang kosong, tapi hening yang penuh gema.
Cakra menyudahi kalimatnya dengan menatap Steven. Ia berharap ada percikan kesadaran di mata teman sekelasnya itu. Ia ingin Steven sadar bahwa kekuasaan yang dibangun di atas penderitaan orang lain adalah istana pasir yang akan hancur oleh ombak kebenaran. Cakra sebenarnya sudah memiliki rencana, ia ingin menggandeng Steven, mengubah energi negatif itu menjadi kekuatan untuk membangun sekolah.