Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #18

Halusinasi yang Nyata

Sudah hampir delapan jam sejak nama Cakra resmi berubah status. Dari anak yang sedang berlibur menjadi orang hilang. Dan, sudah hampir delapan jam pula sejak Pantai Parangtritis, yang biasanya hanya menjadi saksi bisu janji cinta remaja dan langkah kaki wisatawan, berubah menjadi panggung operasi internasional.

Matahari yang semula hanya berupa garis oranye malu-malu di ufuk timur, kini telah naik sepenuhnya, menggantung di langit seperti mata raksasa yang tidak berkedip, mengawasi kekacauan yang terjadi di bawahnya. Cahayanya menyinari drama geopolitik paling absurd dalam sejarah modern Indonesia. Memperjelas garis-garis ombak yang sejak malam tadi menelan seorang remaja bernama Cakra tanpa sisa.

Pantai itu bukan lagi tempat wisata dengan penjual jagung bakar. Itu telah berubah menjadi pusat gravitasi dunia. Delegasi dari Amerika, Rusia, Inggris, China, hingga Jepang berdatangan seolah-olah ada tambang vibranium yang baru saja ditemukan di bawah pasir. Alasan mereka bukan karena cinta pada kemanusiaan. Kehadiran mereka bukan sekadar simbol persahabatan diplomatik, ini adalah perlombaan mencari harta karun hidup.

Nama Adipramana adalah gravitasi yang menarik para pemimpin dunia untuk mengirimkan utusan terbaik mereka. Ayah Cakra adalah jenis orang yang jika dia bersin, pasar saham di London akan mengalami demam. Siapa pun negara yang berhasil menemukan Cakra terlebih dahulu, mereka akan memegang kartu as untuk mengikat kesetiaan dan sumber daya tak terbatas milik Adipramana.

Dalam satu jam pertama, jet pribadi Adipramana, mesin terbang yang lebih mirip peluru perak daripada pesawat, telah membelah langit Jakarta-Yogyakarta hanya dalam hitungan menit. Di belakangnya, langit berubah menjadi parade logam. Helikopter berbagai bendera berdengung seperti lalat-lalat besi yang lapar.

Di permukaan air, kapal patroli TNI Angkatan Laut yang dipimpin langsung oleh Laksamana Besar membelah ombak, sementara di bawah kegelapan air, robot-robot pencari dan kapal selam tak berawak memindai dasar laut dengan laser biru yang dingin.

Di daratan, kekacauan lain tumbuh.

Warga dan awak media berkerumun di balik garis polisi. Mereka berbisik, berspekulasi, menebak-nebak siapa gerangan yang mampu membuat dunia menoleh ke pantai selatan Jawa. Menciptakan kebisingan yang menyaingi deru mesin. Rumor menyebar lebih cepat daripada api di padang ilalang kering.

"Kaya'e, presiden Korea Utara sing klelep! Sopo jenenge? Kim Jon?" seru seorang pria dengan topi petani.

"Lho ora, kata anakku sing weruh langsung kejadiannya kuwi, sing mati kuwi isih nom-noman kok! Katanya bule ngono, lho. Anak presiden Amerika!” timpal seorang ibu yang sedang menggendong balita.

"Hooh, bener, bule… tapi dudu anak presiden Amerika, tapi pangeran Inggris!" seorang pemuda pantai tak mau kalah.

“Huuu… ngawur tenan kabeh!" sela ibu lainnya dengan nada sok tahu. "Jelas-jelas sing keseret ombak terus hanyut kuwi mafia kok! Kriminal tingkat dunia! Mangkanya langsung heboh!”

Spekulasi tumbuh liar di kawasan itu karena kebenaran dikunci rapat. Adipramana secara tegas meminta, tidak ada satu pun media yang meliput identitas Cakra. Lokal, nasional, apalagi asing. Maka yang tersisa hanyalah desas-desus. Kebenaran terkunci rapat di balik garis polisi yang dijaga ketat oleh ratusan aparat bersenjata lengkap.

Tak jauh dari garis pantai, di area sterilisasi, pemerintah telah mendirikan kompleks tenda yang lebih mirip markas komando perang. Di tengah-tengahnya, berdiri sebuah tenda eksekutif yang interiornya lebih menyerupai suite hotel bintang lima. Lengkap dengan fasilitas kenyamanan maksimal namun tak satu pun mampu meredam kecemasan. Di dalamnya Bunda Cakra, Diajeng Pramudhita Rahayu, duduk membeku di tepi dipan. Matanya yang sembab menatap lurus ke cakrawala dengan tatapan kosong. Panorama biru yang biasanya menenangkan kini terasa seperti penjara raksasa yang menyekap putranya. Air matanya mengalir tanpa suara, membasahi pipinya yang pucat.

Pikirannya adalah labirin duka.

Lihat selengkapnya