Kekacauan di permukaan laut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang terjadi di jantung pemerintahan Distrik Nor Kerajaan Porkah.
Cakra, yang baru saja menghancurkan dinding selnya, kini berdiri di tengah koridor futuristik yang diterangi cahaya neon biru pucat. Napasnya memburu, indranya menajam seperti pemangsa yang baru bangun dari tidur panjang. Ia baru saja menyadari bahwa tubuhnya bukan lagi miliknya yang dulu. Ada kekuatan yang berdenyut di bawah kulitnya, sesuatu yang purba sekaligus mekanis.
Dari ujung koridor, sesosok penjaga melayang dengan sepatu kinetik yang menyatu pada petakan Plitan. Cahaya oranye berkedip di bagian perut busananya, sebuah tanda otoritas. Georu. Penjaga Keamanan Tingkat Lima Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor.
“Tetap di sana, Subjek 01!” teriak Georu, suaranya menggema di lorong logam tersebut.
Cakra memicingkan mata. Melihat wajah si pria cantik, amarahnya menyulut sesuatu di dalam dadanya. Sebuah tungku energi yang mulai mendidih. Ia ingat sengatan listrik dari Georu sebelumnya. Rasanya seperti setiap saraf di tubuhnya dibakar hidup-hidup. Tanpa peringatan, Cakra melesat. Kecepatannya melampaui logika manusia biasa. Namun, Georu adalah produk dari teknologi militer tingkat tinggi.
Ia memiringkan kepalanya ke bahu kanannya yang tegap, penuh otot kering sempurna. Dalam gerakan yang sangat mulus dan cepat, pakaian peraknya seolah mencair dan merakit diri kembali.
Dari punggungnya, partikel-partikel logam keluar, membiaskan cahaya seperti pelangi di atas minyak, lalu memadat menjadi sebilah tombak sepanjang lima puluh sentimeter. Tombak itu melayang di hadapannya, seolah mengenali tuannya. Georu lalu menggenggamnya. Cahaya oranye-kebiruan berdenyut dari dalam senjata itu, seolah-olah ada bintang kecil yang terperangkap di intinya.
Cakra terpaku sejenak.
"Anjir! Keren banget sumpah!" Ia bahkan berniat mendesak Georu untuk melakukannya lebih perlahan. Atau mungkin, menyeret penjaga cantik itu ke coffee shop terdekat dan memintanya untuk melakukan hal ajaib dan menakjubkan lainnya.
Namun detik berikutnya, Georu sudah melesat ke arahnya, tombak energi menebas udara menuju lehernya, memaksa Cakra berpindah dari kagum ke bertahan hidup. Cakra merunduk, merasakan panas dari bilah energi yang lewat hanya beberapa milimeter di atas rambutnya.
Tubuh Cakra cepat memahami situasi, gerakannya tiba-tiba terasa lebih ringan, lebih cepat, seolah gravitasi tidak lagi memiliki otoritas penuh atas dirinya. Ia meluncur di bawah serangan Georu dan melayangkan tinju ke arah rahang penjaga itu. Akan tetapi, sebelum tinjunya berhasil mendarat di pipi bagian kiri Georu, gerakannya terhenti. Seolah menghantam sesuatu yang keras dan transparan. Sebuah perisai kinetik.
Riak energi kebiruan menyebar dari titik benturan.
"Bodoh," ejek Georu dengan senyum meremehkan.
Detik berikutnya, Georu mendaratkan tinju ke perut Cakra. Kekuatan itu setara dengan hantaman palu beton seberat tiga kilogram.
Benturan itu keras.
Seharusnya itu cukup untuk mematahkan tulang rusuk Cakra dan membuatnya muntah darah. Namun, Cakra hanya mundur satu langkah. Ia tidak merasa sakit. Yang dirasakan Cakra hanyalah seperti disentil secara kasar. Ia bahkan merasakan energi yang baru saja diterimanya dari Georu diserap oleh tubuhnya.
Senyum Cakra melebar.