Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #20

Svalin Pertama

Ruangan kerja Thungsiruv tidak pernah benar-benar sunyi. Bahkan saat tidak ada siapa pun yang berbicara. Dengung energi dari dinding baja Porkah yang melingkupinya tetap berdenyut seperti nadi raksasa. Desis halus sistem Plitan beriringan dengan kepulan asap tipis bercampur percikan air di bawah lantai. 

Berbaur dengan suara nyaring nyaris cempreng dari kecerdasan buatan ruangan yang terus memproses data tak terlihat.

Dari atas, atmosfer langit Bumi dipantulkan melalui lapisan sintetis, menciptakan gema lembut seperti desir angin jauh di dasar laut. Bahkan gerakan kecil makhluk-makhluk berkilau yang mengambang seperti debu bercahaya, selalu memberi kesan bahwa ruangan itu bernapas, hidup, dan mengamati.

Namun kali ini, keheningan yang tercipta terasa salah.

Seolah seluruh sistem berhenti bukan karena perintah, melainkan karena insting.

“Manusia darat yang kita kurung di Alpam... dia... dia tiba-tiba kabur!”

Kata-kata itu jatuh seperti benda berat ke lantai ruangan. Tidak memantul. Tidak bergema. Hanya menghantam.

Bibir Eunop bergetar tak beraturan, rahangnya menegang seakan setiap kata harus dipaksa keluar dari tenggorokan yang mendadak kering. Rambut wajahnya yang lebat dan keriting tak mampu menyembunyikan ekspresi ketakutan yang merambat cepat ke seluruh wajahnya. Kulitnya memucat, kontras dengan busana Porkah yang biasanya membuatnya tampak gagah. Bola matanya bergerak tak menentu, menghindari tatapan Mynhemeni dan Thungsiruv, seolah dua sosok itu bukan sekadar atasan, melainkan vonis hidup dan mati.

Lima detik berlalu.

Tidak ada suara.

Bunyi peringatan masih tersiar di seluruh ruangan kerja Thungsiruv. Nada panjang, datar, dan berulang. Ia terdengar seperti denyut jantung mesin raksasa, menandai bahwa sesuatu di dalam sistem kerajaan kini keluar dari lintasan yang seharusnya. Lampu-lampu indikator di dinding berkedip samar, bukan merah, bukan hijau. Warna transisi yang jarang muncul, pertanda ketidakpastian ekstrem.

Thungsiruv perlahan berdiri.

Gerakannya tenang, nyaris santai, namun justru itulah yang membuat udara di sekitarnya menegang. Rantai jabatannya, simbol kekuasaan tertinggi distrik Kerajaan Porkah, berkilau di balik jubah formalnya, memantulkan cahaya dingin ke lantai. Sorot matanya tajam, bukan marah, melainkan heran. Dan bagi siapa pun yang pernah bekerja di bawahnya, ekspresi heran dari Sang Ketua jauh lebih mengerikan daripada amarah.

“Bagaimana anak itu bisa kabur?!”

Suaranya tidak keras. Tidak meninggi. Namun setiap suku kata memantul di dinding ruangan, menekan dada siapa pun yang mendengarnya.

Pengikat mahluk pada ruang interogasi Alpam yang melingkar di pergelangan tangan dan kaki Cakra Abiyoga bukanlah teknologi biasa. Itu adalah belenggu hidup. Besi sadar yang memiliki naluri bertahan. Ia akan menghancurkan dirinya sendiri hanya untuk kembali menyatu dan mencengkeram ulang targetnya. Bahkan jika dihancurkan, rantai itu akan bangkit kembali, lebih cepat, lebih ganas, lebih kejam. Tak ada catatan dalam arsip Porkah tentang satu pun tahanan yang berhasil lolos darinya.

Eunop menelan ludah.

“Saat kita berhasil mengorek lebih jauh ingatannya,” katanya akhirnya, suara sedikit serak, “tiba-tiba dia terbangun.”

Eunop berhenti sejenak. Dadanya naik turun lebih cepat dari seharusnya, seolah paru-parunya lupa cara bekerja normal.

“Dia menghancurkan belenggu dan dinding Alpam khusus itu, menggunakan tangannya sendiri, Ketua!" Mata Eunop membesar, bukan karena ingin melebih-lebihkan, melainkan karena otaknya masih menolak menerima apa yang telah disaksikan. Ingatan visual itu terus berputar di kepalanya. Logam melengkung, ledakan energi, dan seorang anak manusia berdiri di tengah kehancuran.

“Anak itu sangat kuat,” Eunop menegaskan, suaranya bergetar tipis. “Dia menghancurkannya hanya dalam beberapa kali tinju.”

Keheningan kembali jatuh.

“Bagaimana dengan Georu?” Mynhemeni angkat bicara, suaranya dingin namun terkendali. Tubuhnya tegak, tangannya terkepal samar di sisi Sanvar, busananya.

“Dia sedang berlari menuju Alpam khusus dan akan melumpuhkan anak itu Komandan!” Kali ini Eunop berani menatap Mynhemeni, meski hanya sepersekian detik. Ada harapan rapuh di sana, seolah menyebut nama Georu saja sudah cukup untuk menahan kehancuran yang mengintai.

“Ok amati terus anak itu…” Mynhemeni menutup saluran percakapan singkat itu.

Lihat selengkapnya