Dengan cekatan, seluruh pasukan aktif keamanan gedung pusat pemerintahan Distrik Nor yang jumlahnya tak sampai dua ratus personel, bergerak serempak dari berbagai sisi gedung menuju lantai bawah tanah tingkat lima, sektor tujuh, seperti yang diperintahkan Mynhemeni. Proyeksi wajah Komandan Divisi Analisis yang muncul beberapa detik lalu masih membekas di benak mereka, cukup untuk membuat langkah tak ragu, meski arah tujuannya penuh tanda tanya.
“Ada yang tahu ini soal apa?” bisik seseorang di tengah desis plitan yang membawa mereka melayang kilat, membelah lorong-lorong gedung.
Tak ada jawaban. Hanya gelengan kepala.
"Komandan Bzarrmu hanya memastikan," ucap petugas lainnya, memimpin unit regu yang tidak sampai dua puluh orang itu, "kita mengikuti arahan Komandan Mynhemeni selama beliau tidak dapat dihubungi!" lanjutnya tegas.
Begitu tiba, mereka mendapati beberapa rekan petugas keamanan gedung sudah lebih dulu sampai. Tatapan saling bertemu, disusul gelengan kepala, angkat bahu singkat. Bahasa diam yang menyampaikan kebingungan yang sama. Tidak ada penjelasan. Tidak ada spekulasi yang berani diucapkan keras-keras.
“Bukan operasi rutin,” gumam yang lain, lebih pada kesimpulan daripada pertanyaan.
Dan memang bukan.
Hanya tujuh pasukan dengan posisi tinggi yang benar-benar memahami apa yang sedang terjadi. Saat ini, hanya merekalah yang mengetahui perkara Cakra Abiyoga. Mereka bukan pasukan biasa, melainkan gabungan dari keamanan nasional, keamanan distrik, keamanan manusia darat, dan keamanan gedung pusat pemerintahan. Para pemimpin unit. Para komandan elit. Individu-individu yang, dalam satu institusi yang sama, memegang keputusan hidup dan mati.
Unit Tempur Kerajaan Porkah.
Dan jika unit ini dikumpulkan, maka sesuatu telah melampaui batas prosedur.
Belum lama para pasukan saling bertukar pandang dan berbisik rendah, Mynhemeni tiba-tiba muncul. Ia melesat keluar dari balik dinding yang meleleh kilat. Reaksi datang seketika. Barisan dirapikan, tubuh menegang, fokus terkunci pada satu titik.
Untuk pertama kalinya, mereka berada dalam situasi yang sepenuhnya tidak sesuai protokol.
Seharusnya mandat datang melalui Bzarrmu, Komandan Pasukan Keamanan Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor. Bukan dari Mynhemeni yang hanyalah seorang komandan divisi analisis. Namun perintah terakhir Bzarrmu jelas, arahan Mynhemeni harus diikuti. Tanpa bertanya. Tanpa menolak. Tanpa pengecualian.
“Kita tidak punya banyak waktu,” ucap Mynhemeni begitu Plitannya menyatu dengan lantai.
Nadanya ringkas, mendesak. “Silakan saksikan ini.”
Ia mengedipkan mata.
Butiran casvet kembali keluar dari kedua matanya, bergetar, lalu memecah menjadi partikel-partikel lebih kecil yang melesat lurus ke kening seluruh pasukan. Dalam sekejap, tak ada lagi cahaya yang tersisa di udara.
Seluruh pasukan berdiri mematung, seperti terseret ke satu mimpi yang sama.
Tubuh mereka bereaksi terhadap tayangan dalam Casvet mereka. Cakra yang hanyut di Parangtritis, ombak menggulung tubuhnya, lalu Cakra yang bangkit, menghantam, merobek dinding material tingkat tinggi dengan tangan kosong. Tidak hanya itu, mereka juga mengerti ketakutan Thungsiruv jika Cakra diketahui oleh Pusat. Mata bergerak cepat di balik kelopak yang terbuka, napas tertahan. Ada yang terkesiap. Ada yang mengepalkan tangan tanpa sadar.
Hingga satu per satu, butiran casvet keluar dari kening mereka, berkumpul kembali, dan melesat masuk ke mata Mynhemeni.
Ruang itu kembali hening.
“Sekarang kita harus menyusul Komandan Atuyju, Komandan Huplok, dan Komandan Bzarrmu ke Alpam khusus tempat anak itu berada,” perintah Mynhemeni.
“Bentuk barisan. Sekarang.”
Serentak, Sanvar seluruh pasukan seperti meleleh. Mengalir di permukaan tubuh mereka, meliuk, lalu mengeras menjadi zirah prajurit kualitas tinggi. Kilauannya dingin dan padat, seolah kehancuran sebesar bom atom pun akan tampak menciut di hadapan armor itu. Di saat yang sama, lantai di bawah pijakan kaki mereka bergetar pelan.
Plitan bangkit dengan gagah.
Mereka terangkat, membentuk formasi tumpukan. Barisan militer dua tingkat. Pasukan bawah mengunci posisi, sementara yang lain melayang tepat di atas kepala mereka, menyisakan rongga kurang dari satu meter. Rapi. Presisi. Siap bergerak.
“Sebelum berangkat,” suara Mynhemeni kembali terdengar, tegas dan berat, “jangan gunakan kekuatan penuh. Jangan mencoba menyakiti anak itu. Jangan sampai ada satu tetes darah pun.”