Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #22

Suara di Dalam Kepala

“Cukup!”

Suara Mynhemeni menggema keras, memantul di lorong bawah laut seperti dentuman palu. Ia berdiri di barisan terdepan, tubuhnya terbungkus Sanvar yang berkilau dingin, memantulkan cahaya listrik yang berkelebat di udara.

“Kembali ke ruanganmu,” katanya tegas, satu langkah maju.

“Kami perlu memastikan apakah kamu ancaman… atau sekadar kesalahan.”

Ia berhenti. Napasnya tertahan sepersekian detik.

“Kalau kamu menolak,” lanjutnya, nada suaranya menajam, “jangan salahkan kami jika harus membunuhmu.”

Ancaman itu terdengar meyakinkan. Terlalu meyakinkan. Padahal di balik kilau Sanvarnya, Mynhemeni tahu, anak itu tak boleh mati. Bukan sekarang. Mungkin tidak pernah.

Cakra tak menjawab.

Matanya bergerak cepat, menyapu barisan dua tingkat di hadapannya. Pasukan di lantai, pasukan melayang. Jarak. Sudut. Waktu reaksi. Semua dihitung dalam detak napas.

"Kalau mereka maju bersamaan… Gak ada waktu buat ragu. Harus gue serang semampu gue!"

Ia melangkah.

Lorong seolah menegang.

Dalam satu hentakan, Cakra melesat. Tubuhnya menerjang lurus ke depan, tinjunya mengarah langsung ke Mynhemeni. Cepat, brutal, tanpa peringatan.

Namun serangan itu tak pernah sampai.

Plitan bergerak serempak. Pasukan menyilang dari kanan dan kiri, naik dari bawah, turun dari atas. Dinding hidup terbentuk di udara, menutup jalur Cakra. Dua tubuh menghantam bahunya, satu menekan dari belakang. Mynhemeni ditarik mundur, diselubungi barisan pelindung, lenyap ke lapis belakang.

Cakra terperangkap di tengah pusaran.

Kilatan biru menyambar.

Ujung tombak beraliran listrik menghantam sisi tubuhnya. Arus menjalar kasar, membuat otot-ototnya menegang. Beberapa pasukan bersorak tertahan.

“Kena!” seru salah satu dari mereka. Untuk sesaat, mereka percaya.

Cakra meraung pelan, bukan kesakitan, melainkan marah. Tubuhnya bergetar, lalu tenang. Listrik yang menjalar seolah tenggelam ke dalam dirinya, ditelan, diabaikan. Ia menoleh perlahan ke arah penyerangnya. Dengan satu tarikan kasar, ia merenggut tombak itu dari genggaman lawan.

Krakk!

Logam patah di tangannya. Ledakan cahaya memukul udara. Dua pasukan terpental, tubuh mereka berputar tak terkendali sebelum menghantam dinding.

Cakra bergerak liar.

Ia berputar di udara, menghantam satu wajah dengan sikunya, menendang Plitan hingga miring, lalu menghujamkan tinju ke dada pasukan di bawahnya. Tubuh-tubuh melayang, bertabrakan, jatuh dalam lintasan kacau.

“Dorong dia!” teriak salah satu pemimpin regu.

“Jangan beri ruang!”

Mereka maju. Tanpa ragu. Melangkahi rekan-rekan yang terkapar. Pasukan di bawah menekan ke atas, yang di atas menukik turun. Serangan datang bertubi-tubi.

Namun Cakra menolak dipenjara. Tak ingin kembali ke ruangan yang membelenggu dan menyiksanya.

Ia menerobos. Memukul. Menendang. Setiap gerakan presisi, brutal, seolah tubuhnya mengingat sesuatu yang belum pernah ia pelajari. Satu per satu, pasukan tumbang. Ada yang terlempar jauh. Ada yang jatuh tak bergerak.

Lorong berubah jadi puing.

Dinding runtuh, material pecah, lubang-lubang menganga tak beraturan. Cahaya listrik memantul liar di reruntuhan. Tubuh-tubuh tergeletak di atas sisa struktur yang hancur.

Keraguan merayap.

Barisan pasukan melambat. Formasi retak.

Cakra tak menyia-nyiakan celah itu.

Ia melesat mundur, cepat, nyaris tak terlihat, meninggalkan pusaran pertempuran menuju arah semula, ke lorong yang mengarah ke Alpam khusus untuk menahannya.

Namun langkah itu bukan pelarian.

Itu hanya jeda.

Lihat selengkapnya