Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #23

Menyandera Mynhemeni

“Jangan kelihatan ragu begitu,” suara itu mendesak, tajam seperti pisau.

“Kalau kamu sendiri tidak yakin, mereka akan mencium ketakutanmu. Dan begitu mereka tahu, kamu mati.” Cakra menelan ludah. Ia tahu caranya berkelahi. Tinju, benturan, rasa nyeri yang datang tanpa rencana. Tapi ini berbeda. Mengancam nyawa seseorang. Sengaja menempatkan tangan di titik yang bisa mengakhiri segalanya. Ia belum pernah, dan tak pernah ingin melakukan itu.

“Fokus,” suara itu kembali, kali ini lebih rendah, seolah menahan kesabarannya sendiri.

“Kamu tidak perlu membunuhnya. Kamu hanya perlu membuat mereka percaya.”

Napas Cakra memburu, lalu dipaksa melambat.

“Cengkeram kedua tangannya,” perintah itu datang cepat.

“Kunci. Jangan beri celah.”

Ia menuruti. Tangan kiri Cakra menjepit pergelangan Mynhemeni, memutar sedikit hingga sendinya terkunci. Mynhemeni tersentak, tubuhnya menegang. Tangan kanan Cakra tetap melingkar di lehernya, tepat di atas Sanvar yang melindungi kulitnya. Cukup dekat untuk mengancam, cukup jauh untuk membuatnya ragu.

Di hadapan mereka, barisan pasukan membeku. Langkah-langkah melambat. Senjata tetap terangkat, tapi tak satu pun berani maju. Mereka bergerak setipis napas, menunggu. Salah langkah sedikit saja bisa membuat komandan mereka tumbang.

Namun tidak semua punya kesabaran yang sama.

Seorang petugas di barisan atas samping kanan terlihat berang. Rahangnya mengeras. Tangannya meraih senjata lain. Lebih kecil, lebih berbahaya dalam jarak dekat.

Mynhemeni melihatnya.

“Jangan konyol!” teriaknya keras, suaranya memantul di lorong sempit.

“Kamu buta, ya?! Saya sedang dalam bahaya!” Teriakan itu mengejutkan Cakra. Refleks, cengkeramannya sedikit mengendur. Dan itu adalah kesalahan. Mynhemeni sadar akan celah itu, ia terpaksa mendekatkan kembali lehernya ke arah ujung tombak yang digenggam Cakra. Gerakannya cepat, setengah terpaksa, setengah nekat. Bola kecil cahaya di ujung senjata menyentuh Sanvar yang melapisi lehernya.

Sekejap kemudian, kilatan listrik meledak.

Bukan besar, tapi cukup keras untuk menggema, berderak seperti mesin rusak yang dipaksa hidup. Cahaya memercik, menyambar logam pelindung yang dipancarkan Sanvar Mynhemeni, menjalar singkat sebelum padam.

Mynhemeni menjerit, pendek, tajam, dan refleks Cakra kembali bekerja melampaui pikirannya. Cahaya pada ujung tombak tertekan lebih dalam ke leher Mynhemeni. Sekejap saja, cukup untuk membuat napas Cakra tersangkut di dada.

Padahal, jika mau, Mynhemeni bisa membebaskan diri saat itu juga. Mengaktifkan perintah balik. Mematikan senjata yang kini berada di tangan musuhnya. Ia tahu itu. Seluruh pasukan yang mengelilinginya juga tahu itu. Namun ia memilih diam.

Ia membiarkan kesan rapuh itu hidup.

Ancaman Cakra harus terlihat nyata. Cukup nyata untuk menahan pasukannya sendiri agar tidak gegabah. Dan meski sebagian dari mereka mulai bertanya-tanya bagaimana mungkin komandan mereka dapat dikuasai tanpa perlawanan berarti, satu hal tetap lebih kuat dari keraguan: perintah atasan adalah hukum.

“Hentikan!” suara di kepala Cakra membentak, memotong kepanikannya.

“Kau benar-benar bisa melukainya!” Cakra tersentak. Tangannya gemetar, napasnya kacau. Tanpa sadar, ia membalas. Bukan dengan suara, tapi dengan pikirannya sendiri.

"Maafkan saya… saya tidak bermaksud…"

“Aku tahu,” jawab suara itu, kali ini lebih tenang, tapi tak kalah tegas. Tapi justru membuat Cakra terbeblalak. Ia tak menyangka batinnya dapat terdengar oleh suara yang bergema di dalam selaput otaknya.

“Sekarang dengarkan baik-baik. Ancamlah mereka dengan benar. Jangan beri mereka celah. Jadikan wanita itu sandera. Dan, pastikan mereka percaya.”

Cakra menarik napas panjang. Sekali. Dua kali. Lalu suaranya keluar, lebih keras, lebih padat. Dipaksa stabil.

“Dengarkan!” Lorong itu kembali sunyi.

“Saya akan membunuh wanita ini kalau kalian tidak mengikuti kata-kata saya!” Keheningan langsung menelan ruangan. Sunyi yang menyesakkan. Tak ada langkah. Tak ada senjata yang bergerak. Barisan pasukan itu membeku, kaku seperti patung Terakota. Bahkan dada mereka tampak menahan naik-turunnya napas. Tidak berkutik. Hanya mata mereka masih menangkap setiap gerakan Cakra. Kini anak remaja itu mencondongkan tubuhnya. Bibirnya mendekat ke telinga kanan Mynhemeni, suaranya turun drastis, hanya untuk gadis yang ia sekap.

“Kamu tidak apa-apa, kan?” Nada itu… jujur. Dan terlalu penuh rasa khawatir untuk seseorang yang sedang mengancam nyawa orang lain.

“Tolong lepaskan saya,” ujar Mynhemeni, nadanya rapi, nyaris seperti kalimat protokol.

“Kita bisa bicarakan ini baik-baik.”

Ia sama sekali tidak menoleh. Pandangannya justru bergerak cepat, menyapu tiap pasukan di lorong. Menghitung jarak, membaca gelagat. Kecemasannya bukan pada Cakra, melainkan pada kemungkinan salah satu dari mereka bertindak bodoh.

Lihat selengkapnya