Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #24

Rencana Cemerlang

“Sekarang minta wanita itu untuk menghubungi atasannya, agar kalian dapat keluar dari tempat ini." Suara itu kembali bergema di kepala Cakra, tepat ketika dinding ruangan menutup rapat di hadapan mereka.

“Hubungi atasanmu! Bawa saya keluar dari tempat ini,” perintah Cakra, suaranya masih tegang meski napasnya mulai teratur.

Mynhemeni berkedip dua kali.

Butiran casvet kembali keluar dari matanya, membentuk proyeksi hologram Thungsiruv yang berpendar di udara.

“Bagaimana? Sudah dapat kabar mengenai asal-usul anak itu?”

Thungsiruv bertanya tanpa curiga sedikit pun. Suaranya terdengar datar dan profesional. Sama sekali tidak menyadari bahwa komandan kepercayaannya kini berada dalam posisi yang sangat berbeda dari laporan resmi mana pun. Proyeksi hologram itu hanya menampilkan punggung tubuhnya, siluet tegap yang menghadap ke arah lain. Ia tak melihat Mynhemeni yang kini terkunci dalam cengkeraman orang yang sedang ia bicarakan.

Cakra mengamati hologram itu dengan napas tertahan. Tangan kirinya mencengkeram pergelangan Mynhemeni, memastikan gadis itu tak bergerak bebas. Tangan kanannya tetap melingkar di leher Mynhemeni, tombak bercahaya menempel tipis di kulitnya. Cukup dekat untuk mengancam, cukup hati-hati agar tak melukainya. Mynhemeni berdiri kaku, rahangnya mengeras, menahan diri untuk tidak bereaksi berlebihan.

Sebenarnya, Thungsiruv tak perlu menunggu laporan langsung dari Mynhemeni. Ia bisa menarik data dari seluruh analis dan pasukan di bawah komando wanita itu. Namun ia tak tahu satu hal penting, satu langkah kecil telah mengubah segalanya. Tepat setelah pintu gudang tertutup rapat, Mynhemeni telah mengaktifkan mode penyamaran penuh. Sistem itu memutus seluruh jejak, mematikan pelacakan dan membutakan seluruh sistem pengawasan, sensor, sinyal, dan pemantauan internal. Bahkan Eunop dan tim analis terbaik pun kini buta terhadap keberadaan mereka.

“Apa pun yang terjadi, jangan ikut campur. Itu semua rencanaku.” Itulah perintah terakhirnya. Mynhemeni mengemukakan mandat tersebut tepat setelah memerintahkan seluruh pasukan keamanan untuk bertemunya di ruang latihan terdekat dari Alpam khusus, tempat Cakra ditahan.

“Percayalah,” lanjut Mynhemeni kala itu, “jawaban tentang anak itu akan kita dapatkan lewat cara ini.”

Perintah itu bekerja dengan sangat sempurna. Karena itulah Thungsiruv selama ini hanya bisa menunggu, bertanya, dan bersabar.

“Ketua! Saya disandera olehnya!”

Seruan itu memecah keheningan ruang kerja Thungsiruv seperti kaca yang dihantam peluru. Sang Ketua Distrik berhenti di tengah langkah, telapak tangannya terangkat setengah jalan, seolah refleks tubuhnya lebih dulu menyadari bahaya sebelum pikirannya sempat menyusul. Ia berbalik perlahan, terlalu perlahan bakan. Dan untuk satu detik penuh, ia hanya menatap tanpa berkedip.

Kilatan cahaya menyerupai petir melingkari leher Mynhemeni. Energi itu berdenyut, hidup, menjalar seperti urat-urat cahaya yang saling mengunci. Bukan sekadar ancaman visual. Bahkan dari jarak itu, Thungsiruv bisa merasakan tekanannya. Dingin, tajam, dan siap merenggut nyawa bila si pemiliknya menghendaki. Mynhemeni berdiri kaku, rahangnya mengeras, tubuhnya tegang namun tidak roboh. Energi itu jelas bukan untuk menyiksa. Hanya menahan. Mengingatkan.

“Apa yang sebenarnya terjadi?!”

Suara Thungsiruv terdengar keras, nyaris memantul di dinding ruangannya sendiri. Namun bagi Cakra, dunia tetap sunyi. Tak satu pun kata itu mencapai telinganya.

Sebaliknya, suara itu bergema langsung di dalam benak Mynhemeni. Jernih, dingin, dan penuh kendali.

Svalin aktif.

Komunikasi sunyi itu mengalir tanpa getaran, tanpa cahaya, tanpa tanda apa pun yang bisa ditangkap indera biasa. Cepat. Diam. Mematikan. Dan di tengah senyap itu, kekhawatiran Thungsiruv terasa jauh lebih nyaring daripada teriakannya barusan.

Mynhemeni menelan ludah. Lehernya nyaris tak bisa bergerak, setiap denyut nadi berirama dengan kilatan energi di sekelilingnya. Tanpa menggerakkan bibir, tanpa perubahan raut yang kentara, ia menjawab.

"Anak ini sungguh kuat, Ketua." balas Mynhemeni melalui Svalin, tanpa gerakan bibir, tanpa suara.

"Tapi, dia bukan pencari masalah."

Di belakangnya, Cakra berdiri mantap. Napasnya teratur, bahunya tak menegang berlebihan. Tombak di tangannya tidak bergetar. Genggamannya tegas, terukur. Tidak ada amarah liar di sana. Yang ada hanyalah kewaspadaan dingin, seperti seseorang yang tahu betul bahwa satu kesalahan kecil bisa berarti akhir.

"Dia hanya melindungi diri," ungkap Mynhemeni kemudian. "Dia bisa saja membunuh pasukan kita dengan mudah."

Ada jeda singkat dalam aliran Svalin. Sepersekian detik yang terasa terlalu panjang.

"Tapi dia memilih tidak melakukannya." Mynhemeni menuntaskan laporannya. Sunyi kembali melanda.

Kesunyian itu menghantam Thungsiruv lebih keras daripada teriakan mana pun. Dalam benaknya, potongan-potongan peristiwa menyatu menjadi satu gambaran yang mengerikan. Seorang remaja yang mereka kurung lolos tanpa hambatan, melumpuhkan puluhan pasukan terlatih, dan kini menyandera seorang komandan senior seolah itu hal sepele.

Thungsiruv menelan ludah.

Pikirannya berputar, memutar segala skema, segala kemungkinan laporan, segala bentuk hukuman. Dan di balik semua itu, satu bayangan jauh lebih menyesakkan muncul perlahan. Apa yang akan terjadi jika Paduka Raja mengetahui semua ini?

"Lalu, semua pasukan keamanan tumbang di tangan anak itu?" Akhirnya, ketakutan yang membungkusnya berhasil ia lontarkan. Nada suaranya pecah di tengah kalimat. Campuran antara cemas yang ditahan dan ketakutan yang terlalu lama dipendam.

"Tidak, Ketua." Jawaban Mynhemeni mengalir cepat melalui Svalin.

"Dia memerintahkan saya mengurung sisa pasukan di ruang penyimpanan peradaban manusia darat. Setelah itu, dia meminta mereka mengaktifkan mode lelap."

Ada jeda singkat, seolah Mynhemeni memastikan setiap detailnya tepat.

Lihat selengkapnya