Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #25

Terpesona Distrik Nor

“Bawa saya ke area parkir lima.” Suara Cakra rendah, nyaris tanpa emosi, namun perintah itu tak menyisakan ruang untuk dibantah.

Ia berdiri tepat di belakang Mynhemeni. Lengan kirinya masih membelenggu tubuh komandan itu, sementara tangan kanannya menjaga tombak tetap berada di posisi yang sama. Sedikit saja bergerak, cahaya di leher Mynhemeni langsung berdenyut lebih terang. Kuncian itu tidak semakin kuat, tapi juga tidak mengendur. Tepat. Terukur.

Tanpa jawaban, lantai di bawah kaki mereka langsung melesat. Tubuh Cakra terangkat, meluncur mengikuti lorong, lalu berbelok tajam ke kanan. Untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai, ia merasa cukup aman untuk benar-benar menyadari sensasi terbang. Ringan, hampir memabukkan.

Langit-langit lorong menjulang begitu tinggi hingga terasa mustahil berada di dalam bangunan. Di atas sana terbentang langit, atau sesuatu yang sangat menyerupainya. Matahari berada di ambang tenggelam atau terbit, ia tak tahu pasti. Warna jingga, ungu, dan biru saling bertaut lembut. Awalnya ia mengira itu hanya lukisan raksasa, tapi keraguannya runtuh ketika awan tipis bergerak perlahan, hidup.

 

Titik-titik cahaya berderet seperti gugusan bintang, berkilau tenang. Di antaranya, makhluk-makhluk kecil menyerupai ulat bersayap melayang bebas. Tubuh mereka bercahaya, setiap kaki memancarkan sinar mungil berwarna-warni, seperti lampu natal yang bernapas. Jumlahnya ratusan mungkin ribuan, menumpuk dan mengalir di langit-langit lorong.

 

Ketakjuban itu belum sempat reda ketika lorong berakhir.

Ruang di hadapannya terbuka luas, membuat Cakra merasa seolah berdiri di dasar sebuah jurang raksasa. Sebuah ruang berbentuk lingkaran membentang, diameternya lebih dari lima puluh meter, dikelilingi beberapa lorong yang bercabang seperti sarang lebah raksasa.

Di tengahnya berdiri sebuah patung kolosal.

Ibu jari kakinya saja menjulang lebih tinggi dari tubuh Cakra.

Patung itu dikelilingi biota laut berukuran kecil, berenang perlahan di udara, bercampur dengan makhluk-makhluk asing yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Terumbu karang berwarna-warni tumbuh di sisi kanan-kiri patung, memercikkan cahaya lembut seakan memiliki daun bercahaya sendiri.

Cakra terdiam.

Di tengah pelarian, ancaman, dan kekacauan, ia justru berdiri di salah satu tempat terindah yang pernah ia lihat.

Tempat itu menyerupai atrium raksasa. Perpaduan hotel mewah dan gedung pencakar langit yang dibuat berlebihan tanpa rasa bersalah. Langit-langitnya menjulang jauh di atas, seolah bangunan itu sengaja lupa dipasangi atap. Patung di tengah ruangan berdiri lebih dari empat ratus meter, menyisakan ruang kosong yang luas antara puncaknya dan hamparan langit lembayung sore.

Matahari menggantung rendah, nyaris tenggelam, memercikkan cahaya keemasan yang menyusup di antara garis-garis awan tipis. Pemandangan itu terlalu nyata untuk disebut lukisan, terlalu hidup untuk sekadar ilusi.

Lalu Cakra menyadari sesuatu yang ganjil.

Dari langit itu, butiran putih seperti salju perlahan turun, bercampur dengan tetes air menyerupai hujan. Keduanya melayang turun, menghujani patung raksasa di bawahnya. Namun tak pernah benar-benar membasahi apa pun. Tak ada cipratan. Tak ada jejak basah.

Cakra mengernyit, mengamati lebih saksama.

Barulah ia paham.

Langit lembayung itu bukan langit. Salju dan hujan itu bukan cuaca. Semua itu adalah lanskap atap gedung tempatnya berdiri. Sebuah ilusi hidup yang berfungsi, bernapas, dan menipu mata dengan sempurna.

Selain patung raksasa itu, lorong-lorong lain membentang mengelilinginya, saling berhadapan seperti cincin bertingkat. Dari susunannya saja, Cakra bisa memastikan satu hal. Ia berada di lantai bawah sebuah gedung pencakar langit. Setidaknya tiga, mungkin empat lantai dari dasar bangunan. Lorong-lorong itu tampak seperti lantai bertingkat, namun tanpa elevator, tanpa eskalator, bahkan tanpa tangga.

Lihat selengkapnya