“Paman!” Suara Lomuy menerobos Casvet Rumsun dengan kasar, tak utuh, seolah dipaksa keluar dari paru-paru yang hampir runtuh.
“Ada penyusup… di kantor pusat. Dia... dia sangat kuat. Pasukan… gagal. Ketua memerintahkan kami menyekapnya. Menutupi semuanya….” Suara Lomuy terdengar tergesa, serak, dan tidak stabil. Jelas datang dari seseorang yang baru saja dihantam hingga tubuhnya terlempar jauh.
Lomuy adalah satu dari seratus delapan puluh tujuh anggota pasukan keamanan yang dikerahkan untuk memasukkan kembali Cakra ke Alpam khusus. Misi itu gagal total. Dan Lomuy, pasukan bertingkat rendah, tingkat lima, menjadi salah satu dari sedikit yang masih sempat menghubungi siapa pun sebelum kesadarannya runtuh.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia memilih menghubungi Rumsun. Wakil Ketua Pemerintahan Distrik Nor. Kerabat jauhnya. Orang yang meski hubungan darah mereka tipis, cukup sering memanfaatkan Lomuy sejak ia pertama kali terjun ke dunia kerja.
Casvet kali ini tidak memunculkan hologram atau proyeksi tiga dimensi. Ia hadir sederhana, langsung, menghubungkan Lomuy pada Rumsun tanpa perantara visual yang rumit. Wajah Rumsun tampak tenang di seberang, terlalu tenang untuk kabar seberat itu.
“Bisa kirimkan data lengkapnya ke pamanmu ini?” tanya Rumsun, nadanya datar, nyaris santai.
Tak ada jawaban.
Koneksi Casvet terputus begitu saja.
Rumsun mengernyit. Saat itu ia tengah berada dalam rapat tertutup bersama tim kecilnya. Bersama lima orang yang dipercaya, ia membahas pengajuan pembatalan posisi Thungsiruv ke pusat. Ia mencoba menghubungi Lomuy kembali. Sekali. Lalu dua kali.
Tetap tak ada respons.
Casvet Lomuy tak lagi dapat diakses.
“Sial!” umpatan itu meluncur begitu saja dari mulut Rumsun. Namun ekspresinya berubah seketika. Bibir yang semula tegang perlahan terangkat, matanya menyipit penuh minat. Sanvar miliknya baru saja menerima kiriman data. Rekaman singkat bentrokan pasukan keamanan gedung pusat dengan seorang penyusup bernama Cakra.
Potongannya pendek. Terlalu pendek. Lomuy dan Sanvarnya sudah lebih dulu tak sadarkan diri sebelum data lengkap sempat terkirim sempurna. Namun bagi Rumsun, itu sudah lebih dari cukup. Seperti hembusan angin segar di ruangan pengap. Angin yang berpotensi menjatuhkan Thungsiruv dari kursinya.
Ia memang tak bisa melihat keseluruhan kejadian. Tak tahu bagaimana akhir bentrokan itu. Tapi satu hal ia yakini, Thungsiruv sedang menyembunyikan sesuatu yang besar.
"Atau jangan-jangan…" Benaknya berkelana cepat.
"Penyusup ini utusan pusat? Kiriman Baginda Raja untuk memata-matai Thungsiruv? Menemukan sesuatu yang seharusnya tak ditemukan, lalu dicegah sebelum terlambat?" lanjutnya liar.
Apa pun kebenarannya, satu hal jelas. Ini bukan perkara kecil. Ini celah. Dan celah seperti ini jarang datang dua kali.
Selama ini, Rumsun hanya mampu mengumpulkan kesalahan-kesalahan remeh tentang Thungsiruv. Tak pernah cukup tajam untuk menjatuhkannya. Kekalahan itu masih terasa pahit. Jabatan Ketua Distrik Nor yang kini diduduki Thungsiruv, suami sepupunya, diraih setelah ayah Rumsun wafat. Keluarga Rumsun sempat murka, yakin bahwa Thungsiruv tak mungkin mengunggulinya.
Namun kenyataan berkata lain. Dalam pemilihan, Thungsiruv menang.
“Kita dapat jackpot,” gumam Rumsun, lalu tertawa pelan. Dalam benaknya, ia sudah melihat bayangan kursi itu, kursi yang seharusnya menjadi miliknya.
Kerajaan Porkah memang monarki, tapi kekuasaan tak diwariskan begitu saja. Raja dipilih rakyat. Begitu pula para pemimpin distrik. Jika seorang pemimpin tumbang oleh usia, kelalaian, atau kudeta, maka rakyatlah yang kembali menentukan penggantinya.
Nama-nama calon pemimpin telah lama disosialisasikan ke seluruh warga Porkah. Bukan lewat poster atau seruan, melainkan langsung ke benak mereka melalui Casvet masing-masing. Di Porkah, jauh sebelum seorang Raja, Ketua Distrik serta deretan Menteri Kerajaan digulingkan atau wafat, proses itu sudah dimulai. Setiap warga memiliki hak untuk mencalonkan diri, atau mencalonkan orang lain. Sebagai Raja, Ketua Distrik, maupun petinggi kerajaan lainnya, selama nama itu memenuhi kriteria yang ditetapkan.
Sistem itu membuat kekuasaan terasa selalu terbuka. Selalu menunggu.
Rumsun telah lama menaruh namanya dalam daftar itu. Sejak usianya lima puluh tujuh tahun. Bukan hanya sebagai Ketua Distrik, ambisinya melampaui itu. Ia bahkan mencalonkan diri sebagai Raja.