“Baik. Tapi sebelumnya,” Thungsiruv menghela napas pendek, sorot matanya mengeras, “kau harus berjanji untuk tidak membesar-besarkan masalah ini.”
Nada suaranya menyimpan kegelisahan yang tak ia sembunyikan sepenuhnya. Ia ragu apakah bijak membuka soal Cakra kepada orang yang selama ini tak pernah berhenti mencari celah untuk menjatuhkannya. Namun setelah dipikirkan ulang, ia sadar tak ada pilihan lain. Ini sudah menyentuh wilayah tugas Rumsun. Menyembunyikan hal itu justru bisa berbalik menjadi pisau di leher mereka sendiri.
Lagipula, jika perkara ini sampai menyeret sanksi, bukan hanya dirinya yang akan terseret jatuh. Seluruh jajaran pemerintahan Distrik Nor akan ikut menanggung akibatnya. Termasuk Rumsun, wakilnya yang kini duduk di hadapannya. Pikiran itu membuat Thungsiruv hanya bisa berharap satu hal. Semoga Rumsun cukup dewasa untuk tidak menjadikannya senjata.
“Baiklah…” Rumsun menjawab pelan. Ada nada kecewa yang tak berhasil ia sembunyikan. Dalam benaknya, skenario lain sudah runtuh. Ia semula yakin Thungsiruv ketahuan menyekap mata-mata kerajaan. Kesalahan fatal yang bisa menjatuhkannya dari kursi Ketua Distrik. Bahkan mungkin mengasingkannya seumur hidup. Harapan itu kini menguap perlahan.
Thungsiruv menegakkan bahu.
“Penyusup itu,” katanya, berhenti sejenak seolah menimbang dampaknya, “seorang anak remaja. Usianya delapan belas tahun.”
“Apa?” Rumsun tersentak. Tubuhnya menegang, alisnya terangkat tinggi.
“Anak… delapan belas tahun?” Wajahnya menegang, seolah sebuah kepingan realitas baru saja dipaksa masuk ke kepalanya.
Seluruh anak Porkah dari usia lima hingga dua puluh enam tahun, seharusnya berada di Janrugkou, distrik pendidikan dan formasi bangsa Porkah. Tidak ada pengecualian. Janrugkou adalah dunia tersendiri, tempat enam belas tahun kehidupan mereka dibentuk, dipoles, dan diarahkan. Bukan sekadar sekolah seperti di daratan Bumi, melainkan sistem pembentukan utuh.
Di sana, tahap pertama dari dua fase pendidikan utama diajarkan. Mereka dipaksa hidup bersanding dengan kurikulum dasar yang keras dan disiplin. Pendidikan yang akan mengasah intelektual, etika, serta sejarah Bangsa Porkah. Disusul penguasaan Sanvar, teknologi dasar, segala ilmu pengetahuan di alam semesta, hingga pelatihan militer yang ditanamkan perlahan, sistematis, tanpa ruang untuk kecerobohan. Anak-anak tidak hanya diajari berpikir, tapi juga diajari bertahan.
“Tidak masuk akal…” gumam Rumsun, menggeleng pelan.
“Apa anak itu menyusup karena kabur dari Janrugkou?” Begitu kata-kata itu keluar, ia sendiri sadar betapa rapuhnya dugaan tersebut.
Ia tahu betul aturan Janrugkou. Selama masa pendidikan, para murid tidak diizinkan pulang ke rumah. Mereka tinggal bersama para pengajar, pembimbing, formator. Hidup dalam satu ekosistem yang nyaris tertutup. Rindu pada keluarga bukan alasan untuk kabur. Jika ingin bertemu, Casvet cukup dipanggil. Wajah yang dirindukan akan hadir, sedekat napas, tanpa melanggar batas wilayah.
Dan saat masa libur tiba, justru keluargalah yang datang ke Janrugkou. Menginap. Tinggal. Menyesuaikan diri dengan ritme distrik itu. Bukan sebaliknya.
“Tidak ada murid yang bisa kabur,” lanjut Rumsun, kali ini lebih pelan, seolah bicara pada dirinya sendiri.
“Bahkan kalau mereka mau.” Ia menatap Thungsiruv dengan sorot mata tajam, kebingungan mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya. Jika anak itu benar-benar berusia delapan belas tahuh. Maka kehadirannya di luar Janrugkou bukan sekadar anomali. Itu adalah pelanggaran langsung terhadap fondasi Bangsa Porkah sendiri.
Aturan yang selama ribuan tahun tak pernah retak.
Rumsun menghela napas, rahangnya mengeras. Pikiran Rumsun melesat, memaparkan satu demi satu skenario terburuk. Anak itu bukan hanya kabur dari tempat pendidikan. Ia seperti melompati seluruh lintasan hidup yang sudah ditetapkan baginya. Sebuah penyimpangan yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
“Kalau begitu… anak ini bukan sekadar melanggar aturan,” gumamnya pelan. “Dia keluar dari jalur hidup yang seharusnya.”
Pendidikan bangsa Porkah tidak berhenti di Janrugkou. Itu hanyalah fase pertama. Setelahnya, setiap warga memasuki tahap kedua yang jauh lebih menentukan, yaitu kurikulum profesi.
Tahap ini berlangsung selama sembilan tahun dan terbagi ke dalam tiga program kerja. Setiap program dijalani selama tiga tahun penuh. Di sinilah setiap warga memilih bidang sesuai minat dan bakatnya, lalu membiarkan waktu dan hasil menilai pilihan tersebut. Kegagalan bukan akhir. Mereka diberi hingga dua kesempatan tambahan, bukan untuk dimanjakan, melainkan agar tak ada potensi yang terbuang percuma.
Ada yang menapaki satu bidang yang sama selama sembilan tahun penuh. Ada pula yang berpindah jalur satu atau dua kali, hingga akhirnya menemukan tempat yang benar-benar selaras dengan dirinya. Setelah seluruh fase pendidikan itu selesai, barulah mereka mengabdi sepenuhnya kepada Kerajaan Porkah. Waktu, tenaga, dan pikiran dicurahkan tanpa ragu.
Bagi sebagian besar bangsa Porkah, usia tiga puluh lima atau tiga puluh enam tahun menandai awal kehidupan kerja tetap. Namun terkadang, ada yang melangkah lebih cepat. Meski jarang, talenta muda tetap muncul di antara mereka. Pendidikan dan karier mereka melesat, bahkan ketika usia mereka masih jauh dari standar kurikulum profesi.
Namun yang kini didapati Rumsun adalah kenyataan yang sama sekali berbeda. Remaja itu, di usia delapan belas tahun, bukan melesat karena prestasi atau melompati fase pendidikan. Ia justru memilih kabur dari sistem yang telah ditetapkan.
Ia menggeleng, seakan mencoba menepis kemungkinan itu.
“Tapi itu mustahil. Tidak ada celah untuk kabur dari Janrugkou.” Nada suaranya naik, lalu jatuh lagi.
“Dan kalau memang ada murid yang kabur... Seluruh rakyat pasti sudah diberi tahu.” Ia terdiam. Kata-katanya sendiri memantul di kepalanya, tak memberi jawaban. Hanya menambah beban. Rumsun menekan pelipisnya, pusing yang aneh merayap perlahan.
“Jadi… anak itu kabur dari Janrugkou tanpa jejak?” bisiknya.
Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan itu, Rumsun tidak terdengar yakin. Dan ketidakpastian itu, di negeri yang dibangun di atas kepastian, terasa jauh lebih berbahaya daripada satu penyusup bersenjata.
“Sayangnya… anak itu bukan bangsa kita.”
Kalimat itu jatuh tanpa aba-aba. Pendek, dingin, dan mematikan. Wajah Rumsun seketika berubah warna, ungu gelap merambat cepat dari pelipis hingga rahangnya. Napasnya tertahan sepersekian detik, seolah tubuhnya lebih dulu memahami ancaman sebelum pikirannya sempat menyusul.