Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #28

Area Parkir Lima

Cakra seharusnya sudah terbiasa. Namun nyatanya, setiap detik di tempat ini selalu berhasil mencuri napasnya. Kota di hadapannya terasa seperti planet asing. Perpaduan antara Utapau dan Neimoidia dari serial Star Wars yang dulu sering ia tonton, hanya saja kini tak lagi di balik layar. Ia benar-benar ada di sana.

Ia merasa berdiri di dasar sebuah ngarai raksasa yang luar biasa cantik. Dinding-dinding tebingnya dipahat menjadi bangunan menjulang, modern, berkilau teknologi, seolah tumbuh alami dari batu, menembus ketinggian lebih dari seribu meter. Di antara ruang-ruang kosong ngarai, terumbu karang melayang membentuk pulau-pulau kehidupan. Pemukiman lengkap dengan hiruk-pikuk penduduk yang berlalu-lalang seolah hukum gravitasi hanyalah mitos.

Langit kota itu sendiri hidup. Makhluk-makhluk asing berenang di udara, berdampingan dengan kendaraan aneh: menyerupai penyedot debu raksasa, ikan pari, kuda laut, hingga keong mekanis berlapis cahaya. Semuanya berterbangan tak beraturan, namun anehnya selaras. Seperti rasi bintang yang kacau, tapi justru membuat angkasa terasa utuh.

Cakra nyaris lupa bernapas saat matanya mengikuti lintasan kendaraan-kendaraan yang melaju kencang di hadapannya.

Di dalam laut, namun dengan sensasi seperti berdiri di tengah kota daratan, arus air terasa jinak, nyaris tak terasa. Seolah teknologi di tempat ini menundukkannya. Kendaraan-kendaraan itu berlari saling tumpang tindih, membelah air dengan garis cahaya, tanpa klakson, tanpa tabrakan.

Beberapa kali Cakra refleks menegangkan bahu, siap berteriak, ketika dua kendaraan tampak akan saling menghantam. Namun alih-alih bertabrakan, keduanya justru menyatu. Rangkanya melebur halus seperti cairan logam, membentuk satu kendaraan baru dengan siluet yang asing dan elegan. Seolah fusion bukan kecelakaan, melainkan bagian dari aturan lalu lintas.

Di lain waktu, sebuah kendaraan hampir menyerempet yang lain. Jantung Cakra sempat melonjak, lalu kendaraan itu lenyap begitu saja. Air di sekitarnya bergetar sesaat, dan detik berikutnya kendaraan itu muncul kembali beberapa meter dari titik semula, seakan ruang dilipat dan dibuka ulang. Teleportasi, pikirnya, dengan rasa ngeri yang bercampur kagum.

Dadanya terasa sesak oleh rasa takjub. Ia menelan ludah. Meresapi kekaguman. Sistem transportasi di hadapannya bukan sekadar canggih. Melainkan hidup, berpikir, dan mengambil keputusan sendiri.

Tak kalah mencengangkan, orang-orang berlalu-lalang di atas petakan-petakan plitan melayang dengan bentuk dan warna beragam. Ada yang bening seperti gelembung, ada yang berpendar lembut menyerupai sisik ikan. Semuanya bergerak cepat, saling silang, tumpah tindih, tanpa tabrakan. Cakra menundukkan kepalanya, menatap petakan besi tipis hitam metalik di bawah kakinya. Petakan itu meluncur mulus, mendorong mereka ke depan tanpa hentakan, menuju area parkir lima. Sensasinya aneh, tidak sepenuhnya seperti terbang, tapi juga bukan berenang apalagi berjalan. Tubuhnya terasa ringan, seolah laut dan daratan bersepakat untuk bertemu di titik ini.

Pandangan Cakra tertarik pada cahaya putih menyilaukan di sisi jauh kota. Cahaya itu berdiri tegak, tenang, namun menekan. Seperti mata raksasa yang mengamati segalanya.

Itulah Vorna.

Bukan sekadar gerbang, melainkan penjaga keputusan. Vorna merupakan gerbang antar distrik yang mengelilingi wilayah Porkah, menghubungkan ruang-ruang yang terpisah ribuan kilometer. Dalam satu langkah, seseorang bisa berpindah dunia. Namun Vorna bukan pintu yang ramah. Ia membaca identitas, izin, kondisi mental, bahkan potensi ancaman yang bersembunyi di balik niat terdalam seseorang. Cahaya itu terasa dingin, seolah air di sekitarnya ikut menahan napas.

Ia kembali meragukan dirinya.

Pemandangan ini jelas bukan neraka. Tapi Cakra juga tak yakin menyebutnya surga. Jika ini surga, mengapa setiap tatapan, gerakan, dan tindakan yang mereka hadirkan padanya seperti berhadapan dengan teroris? 

“Ini sebenarnya di mana?” lirihnya tak sadar, suaranya tenggelam oleh dengung kota.

“Akan saya jelaskan setelah kita aman…,” jawab suara itu di dalam kepalanya, tenang namun tertahan.

Cakra mengalihkan pandangan pada Mynhemeni.

“Bawa saya ke area parkir lima. Sekarang.”

Lihat selengkapnya