Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #29

Pari Anti Sadap

“Aman,” ucap Mynhemeni singkat, nadanya pasti.

Sebelum Cakra sempat bertanya aman menurut siapa, tubuhnya sudah terseret masuk. Bukan ditelan secara kasar, melainkan ditarik lembut, seolah udara di sekelilingnya berubah menjadi tangan tak terlihat yang mengarahkan langkahnya.

Dalam sekejap, dunia luar menghilang.

Sedetik kemudian, ia berdiri di dalam tubuh ikan pari itu.

Cakra tertegun.

Bagian dalamnya jauh dari bayangannya tentang mesin atau kendaraan perang. Ruangan itu luas, hangat, dan anehnya… nyaman. Ia seperti berada di lounge eksklusif di daratan. Di langit-langit, beberapa ubur-ubur kecil melayang perlahan, tubuh transparan mereka memancarkan cahaya warna-warni yang lembut. Biru, ungu, hijau, seperti lampu gantung hidup yang berdenyut mengikuti arus.

Kendaraan itu bergetar perlahan. Nyaris tak terasa. Kemudian mulai melaju. Tak ada kokpit. Tak ada kursi pengemudi. Yang ada hanya beberapa lemari kecil yang melayang bebas, sebuah meja rendah, dan dua sofa panjang di kanan-kiri ruangan. Sofa itu tampak hidup. Bergerak sedikit, bergeser mendekat, seolah sadar sedang diperhatikan. Ada dorongan aneh di benak Cakra, keyakinan tak masuk akal bahwa benda itu akan berubah bentuk jika ia memintanya. Menjadi kasur. Atau mungkin tempat berlindung.

“Ini… kendaraan?” gumamnya, nyaris tak terdengar.

Rasa takjub itu berubah menjadi kepanikan ketika pikirannya melayang ke luar. Seketika, dinding di sekelilingnya memudar, lalu transparan sepenuhnya. Pemandangan kota terbentang jelas di sekeliling mereka. Bangunan menjulang, terumbu karang melayang, lalu lintas cahaya yang sibuk. Semuanya tampak begitu dekat, seolah ruangan ini melayang bebas tanpa dinding, tanpa perlindungan.

Napas Cakra tersendat.

“Kenapa kamu panik?” tanya Mynhemeni santai sambil melangkah ke salah satu sofa. Ia duduk, tubuhnya tenggelam nyaman, seakan ini memang ruang pribadinya.

“Ruangan ini terbang tanpa sekat!” Cakra menoleh cepat ke segala arah, bahunya menegang.

“Bagaimana kalau ada yang melihat kita?”

Mynhemeni menyandarkan punggungnya, pandangannya berpaling dari Cakra. “Mereka tidak akan melihat,” katanya ringan.

“Dari luar, ini tetap terlihat seperti tubuh jet. Itu karena kamu yang minta,” jawab Mynhemeni cepat, lalu berhenti sejenak seolah menyadari kalimatnya terlalu panjang.

“Tak ada yang bisa melihat ke dalam sini. Aku sudah mengaktifkan mode penyamaran.” Ia menatap Cakra hangat.

“Bagi siapa pun di luar sana, jet ini akan terlihat seperti milik orang yang paling ingin mereka hindari. Jadi… kita aman.” Cakra menelan ludah. Di matanya, ini bukan sekadar jet melainkan ruangan hidup yang melayang cepat, mematuhi pikiran penghuninya. Dan entah kenapa, kesadaran itu justru membuat bulu kuduknya semakin berdiri.

Penjelasan itu tidak sepenuhnya menenangkan Cakra.

Ia justru memijat pelipisnya, dahi berkerut.

“Suaramu,” katanya pelan, nada suaranya goyah.

"Sama seperti suara yang berbicara di dalam kepalaku.” Baru saat itu ia sadar, lengannya sudah tidak lagi mendekap Mynhemeni. Sentuhan yang sejak tadi ia pertahankan entah kapan terlepas. Tubuhnya refleks menegang, menunggu serangan balasan yang tak kunjung datang.

Keanehan itu membuatnya semakin waspada.

Namun Mynhemeni tidak bergerak agresif. Ia justru duduk nyaman di atas sofa, menatap Cakra dengan ekspresi yang sulit dibaca olehnya. Lalu bibir gadis itu melengkung membentuk senyum tipis. Bukan senyum meremehkan, bukan pula ejekan. Itu senyum lega. Seperti seseorang yang akhirnya melihat potongan terakhir dari teka-teki yang selama ini ia bawa.

Cakra memperhatikan napas Mynhemeni yang mengendur, bahunya sedikit turun.

Firasat gadis itu benar.

Di dalam ruangan yang melayang di dasar laut itu. Di antara cahaya ubur-ubur dan dinding transparan yang berkilau seperti kaca gedung pencakar langit, Mynhemeni akhirnya yakin akan satu hal sederhana namun krusial.

Cakra bukan ancaman.

Cakra tersadar perlahan, seperti seseorang yang baru menyusun kembali ingatannya setelah terbangun dari mimpi panjang. Selama ini, sejak lorong, di dalam gedung, hingga ruang melayang ini. Suara dalam kepalanya adalah sosok yang duduk santai di hadapannya. Mynhemenilah yang tanpa sadar selalu berada di pihaknya. Senyum tipis terbit di wajahnya, dibalas oleh senyuman Mynhemeni yang lembut dan nyaris menenangkan.

Baru sekarang ia benar-benar memperhatikannya.

Gadis yang sempat ia culik itu ternyata sungguh cantik, dengan garis wajah halus yang masih menyimpan kesan belia. Usianya mungkin hanya terpaut satu atau dua tahun darinya. Ada kemiripan yang tak terbantahkan, struktur wajahnya mengingatkan pada Georu, pria cantik yang sebelumnya menyiksanya. Namun sikap Mynhemeni jauh lebih feminin, lebih hangat, seolah dua sisi dari koin yang sama namun berlawanan arah.

“Terima kasih sudah membantuku…” ucap Cakra tulus. Mynhemeni mengangkat bahu.

Cakra berjalan ke sofa di seberang, dipisahkan oleh meja kecil yang melayang tenang di antara mereka. Begitu tubuhnya menyentuh permukaan sofa, benda itu bergerak hidup, menggeser dan menopang tubuhnya dengan presisi yang membuatnya terkejut. Bahkan, sofa itu mengambil paksa namun halus tombak yang ia genggam. Tak lama, tombak itu mendarat perlahan di samping paha kanannya.

“Sebenarnya ini di mana?” Cakra melanjutkan cepat, sebelum rasa nyaman itu membuatnya terlalu lengah.

“Kenapa kamu menolongku? Apa aku sudah mati?”

Sofa itu sempat membuatnya panik. Lengkungan empuknya bergerak seolah menggerayangi tubuhnya, namun detik berikutnya ia mengerti. Sofa itu menyesuaikan dirinya, memaksa tubuh Cakra berada pada posisi paling ideal, paling nyaman, seakan membaca keinginannya sebelum sempat ia sadari sendiri.

Napasnya mengendur.

Lihat selengkapnya