Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #30

Sanvar

“Aku nggak percaya… jangan-jangan ini semua cuma mimpi,” gumam Cakra, suaranya pecah di tengah kebingungan.

Mynhemeni menangkap sinyal penolakan itu dengan jelas. Ia tidak menyela, tidak pula menghakimi. Nalurinya berkata, reaksi itu wajar. Jika posisi mereka tertukar, mungkin ia akan melakukan hal yang sama. Mencari celah paling logis untuk menyangkal kenyataan yang terlalu mustahil.

Namun akal sehatnya tetap berjaga. Terlalu berjaga, bahkan. Kepolosan Cakra bisa saja nyata, bisa pula kamuflase yang sempurna. Mynhemeni tak akan melepaskannya sebelum satu hal dipastikan: bahwa anak ini benar-benar tidak berbahaya bagi Bumi. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri. Cakra akan ia pulangkan, tapi hanya setelah dinyatakan aman. Dan setelah itu, ingatannya tentang Porkah harus dihapus.

Pikiran itu membuat dadanya terasa sedikit berat. Sayang, tapi perlu. Manusia darat tidak boleh mengetahui eksistensi mereka.

“Waktu pisauku membelah lenganmu tadi,” ujar Mynhemeni akhirnya, suaranya lembut tapi tegas, “kamu merasa sakit, kan?”

“Tentu saja—” Cakra terdiam sejenak, lalu menelan ludah.

“Oh… jadi ini bukan mimpi?” Mynhemeni hanya mengangguk.

Cakra mengacak rambutnya frustasi.

“Kalau ini di laut, kenapa terang? Apa sudah pagi? Terus… kita ini di laut bagian mana?” Pertanyaan itu keluar bertubi-tubi, seperti jangkar yang ia lemparkan ke kenyataan. Berharap ada satu saja yang mau mengait pada logika.

“Sebenarnya, posisi kita sekarang sekitar seribu dua ratus kilometer dari tempatmu hanyut,” ujar Mynhemeni tenang.

“Di kedalaman tujuh ribu meter.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Menurut satuan jarak bangsamu.”

“Tujuh ribu meter… di dalam laut?” suara Cakra nyaris tercekat. Angka itu menghantam kepalanya lebih keras daripada ombak mana pun. Ia menatap sekeliling lagi. Ruangan nyaman, cahaya lembut, tidak ada tekanan yang menghimpit dada. Semuanya terasa salah.

Mynhemeni hanya mengangguk, senyum tipisnya tetap terjaga, seolah jarak dan kedalaman hanyalah angka di layar.

“Di kondisi alami,” lanjutnya, “tempat ini seharusnya gelap total. Cahaya matahari tak pernah mencapai kedalaman ini. Gelombangnya sudah habis terkikis oleh molekul air laut Bumi yang sangat padat.” Ia menggerakkan tangannya pelan, seakan menggambarkan cahaya yang mati sebelum sempat lahir.

“Kalau begitu…” Cakra mengernyit.

“Kenapa aku bisa melihatmu? Kenapa di sini terang?” Mynhemeni menoleh, matanya berkilau samar. Bukan karena pantulan lampu, melainkan sesuatu dari dalam dirinya.

“Karena tubuh kami...”

“Tubuh kalian?”

“Tubuh kami mampu mengatur penyerapan cahaya,” jelasnya.

“Kami menentukan sendiri seberapa banyak cahaya yang ingin kami tangkap. Malam dan pagi bukan soal waktu bagi kami, itu soal pilihan.” Ucapannya mengalir rapi, terlalu rapi, hingga membuat kepala Cakra terasa penuh sesak.

Penjelasan itu membuat kepala Cakra terasa penuh, seperti dipaksa menampung laut dalam satu gelas. Ia terdiam, menyadari satu hal yang makin sulit disangkal: ini bukan mimpi. Dan dunia yang sedang ia pijak, atau mengambang di dalamnya, memiliki aturan yang sama sekali baru.

Namun di balik ketenangan wajahnya, Mynhemeni tahu ia tak sepenuhnya jujur. Bukan tubuh mereka semata yang melakukan semua itu melainkan Sanvar. Peranti tingkat tinggi yang tertanam dan menyatu dengan sel-sel bangsa Porkah. Sanvarlah sumber segalanya. Sanvar yang memungkinkan mereka bernapas di dalam laut, membengkokkan cahaya, dan hidup di dasar palung seolah masih berpijak di daratan.

Cakra melangkah mendekat, begitu dekat hingga ia bisa menghitung serat cahaya di iris perak mata Mynhemeni. Matanya jernih, dingin, dan nyaris tak menunjukkan keanehan apa pun. Tak melebar, tak menyempit. Tidak seperti yang ia bayangkan. Ia sempat mengira mata gadis itu akan berdenyut seperti mata kucing, bereaksi liar terhadap cahaya yang berubah-ubah.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Mynhemeni. Ia menyandarkan tubuh lebih dalam ke sofa, otot-ototnya menegang halus. Nalurinya sudah bersiap, satu langkah lagi dan mode pertahanan bisa aktif.

“Iris matamu nggak berubah,” jawab Cakra sambil mundur.

“Kupikir bakal melebar atau menyempit gitu.” Ia kembali menjatuhkan diri ke sofa. Benda itu seakan langsung menyesuaikan lengkung tubuhnya, memeluk punggung dan bahunya dengan kenyamanan yang nyaris berlebihan.

“Karena memang tak ada cahaya yang cukup terang,” jelas Mynhemeni datar.

“Tak ada rangsangan bagi otakku untuk mengatur penyerapan cahaya di iris mataku. Kenyataannya, tempat ini tetap gelap.”

Lihat selengkapnya