Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #31

Bertolak Arah

“Sanvar bekerja otomatis,” katanya tenang.

“Sanvar mendeteksi materi yang tak lagi dibutuhkan tubuhmu, mengeluarkannya, lalu mengolahnya kembali menjadi energi.”

“Jadi…” Cakra menghembuskan napas, masih tak percaya pada rasa kosong yang bersih di tubuhnya.

“Limbah tubuhku… jadi bahan bakar?”

“Kurang lebih begitu.”

Cakra menggeleng pelan, lalu tertawa pendek. Tawa orang yang akal sehatnya sedang mengejar ketertinggalan. Ia kembali ke sofa dan duduk berhadapan dengan Mynhemeni, posisi yang terasa anehnya normal. Seperti percakapan santai di ruang tamu daratan.

“Kalau aku lapar?” tanyanya kemudian.

“Kalau aku pengen makan, gimana?”

“Tinggal gerakkan kepalamu lagi sebagai rangsangan,” ujar Mynhemeni santai, seolah sedang memberi petunjuk menggunakan alat dapur biasa.

“Bola kecil itu akan keluar dari bajumu, lalu masuk ke mulutmu. Setelah itu, Sanvar akan mengolahnya menjadi makanan yang diinginkan tubuhmu, dengan porsi yang sudah disesuaikan dengan metabolisme.”

Cakra menurut tanpa banyak tanya. Ia menggerakkan kepalanya perlahan. Dari lipatan bajunya, sebuah bola kecil meluncur halus, melayang sekejap seperti mengikuti arus tak terlihat, lalu masuk begitu saja ke mulutnya.

Detik berikutnya, lidahnya menyentuh sesuatu yang padat.

“—Hah?” Ia refleks mengunyah.

Irisan daging wagyu memenuhi mulutnya. Lembut, berlemak, meleleh nyaris tanpa usaha. Sensasi panas dan gurihnya terasa begitu nyata sampai Cakra harus memejamkan mata sesaat.

“Woow…” gumamnya dengan mulut masih bekerja.

“Ini… ini kayak sihir.” Ia membuka mata, menatap Mynhemeni dengan wajah setengah tak percaya.

“Gimana ceritanya daging bisa tiba-tiba muncul di mulutku?”

Belum sempat Mynhemeni menjawab, Cakra menelan. Dan saat pikirannya sekilas melayang pada durian. Aroma tajam, rasa manis yang ia rindukan. Tekstur di mulutnya berubah. Kini yang ia kunyah adalah daging buah durian, legit dan pekat, seolah baru saja dibelah di pasar pagi.

Mynhemeni tersenyum kecil.

“Sanvar menyimpan basis material seluruh bahan pangan yang ada di bumi. Darat maupun laut,” jelasnya.

“Begitu menerima sinyal dari otak dan tubuhmu, alat itu membentuk makanan sesuai keinginan. Bisa bekerja otomatis, bisa juga manual.” Ia menggerakkan kepalanya ringan. Sebuah bola lain muncul, melayang menuju meja di antara mereka. Bola itu berhenti, bergetar lembut, lalu merekah. Bukan meledak, tapi membuka diri seperti kelopak. Dalam sekejap, sebuah set hidangan tersaji rapi.

Seekor kuda laut berukuran besar terhidang di piring oval bercahaya, beratnya mungkin tak lebih dari tiga ratus gram, dikelilingi dedaunan asing dengan warna hijau kebiruan yang berkilau halus. Ukiran di piring itu memantulkan cahaya seperti permukaan laut dangkal. Di sampingnya, sebuah cangkir sedang berdiri tenang, berisi cairan berlapis warna biru, ungu, keemasan. Cairan itu tidak bercampur, seolah masing-masing memiliki kehendak sendiri.

Aroma hidangan itu menyeruak lembut, asin-manis, segar seperti angin laut bercampur rempah daratan. Perut Cakra bergejolak lagi, kali ini bukan karena bingung, melainkan lapar yang sungguh-sungguh.

Ia menelan ludah.

“Oke,” katanya pelan, setengah tertawa.

“Selamat makan.” Cakra kembali mengerakkan kepalanya perlahan. Bola kecil menyesat, sedetik kemudian ia menikmati sensasi segala macam jenis makanan kesukaannya. Tak banyak, setengah sendok setiap suapan.

“Jadi… kalau manual, kita bisa makan dan minum di atas meja seperti ini?” tanya Cakra di sela kunyahan, matanya mengikuti gerakan tangan Mynhemeni. Gadis itu tampak tenang menggoyangkan pisau makannya, memotong daging kuda laut dengan presisi rapi di sela kunyahannya. Gerakan yang terasa sangat manusiawi untuk seseorang yang hidup di dasar laut.

“Tapi…” Cakra menyipitkan mata, masih memindai piring dan cairan berwarna di cangkir.

“Ini benar-benar bisa dimakan? Maksudku, ini kan di dalam laut. Pasti basah. Kena air laut, kan?” Pisau Mynhemeni berhenti di udara. Ia menatap Cakra beberapa detik, lalu menghela napas kecil. Bukan kesal, lebih seperti menahan tawa.

Lihat selengkapnya