“Aku yang mengemudikannya,” ujar Mynhemeni santai.
“Kamu ingat cahaya kuning kecil yang tadi tersedot ke dalam jet ini?” Cakra mengangguk pelan. Mana mungkin ia lupa. Beberapa kali ia melihat kilau kecil itu melesat keluar dari mata perempuan di hadapannya. Terlalu halus untuk disebut senjata, terlalu presisi untuk dianggap kebetulan. Walaupun dalam ukuran dan warna berbeda, namun tetap saja itu hal yang tidak mungkin ia lupakan.
“Itu alat pengambil alih,” lanjut Mynhemeni. Suaranya datar, seolah sedang menjelaskan cara kerja lampu lalu lintas.
“Tapi, hanya bergerak kalau pemilik kendaraan memberi izin. Tanpa persetujuan, alat itu tak akan pernah mendekat.”
Ia mengedipkan mata sekali. Gerakan sederhana, hampir tak terlihat.
“Begitu masuk, alat itu langsung terhubung ke otakku. Mengambil alih navigasi, membaca arah tujuan, bahkan memilih sistem penyamaran yang kuinginkan.” Bibirnya melengkung tipis.
“Dan yang terpenting... memastikan kendaraan ini bersih. Tak ada alat sadap. Tak ada pelacak.” Seolah menjawab ucapannya, dengung halus bergetar di sekitar mereka. Dari balik kelopak matanya, cahaya lain muncul, kali ini berwarna jingga.
“Apa itu? Apa yang ingin kamu lakukan?” Cakra refleks setengah bangkit, suaranya pecah oleh panik ketika alat bercahaya itu melayang ke ruang kosong di antara mereka.
Cahaya jingga itu berhenti di udara, lalu mengembang. Dalam sekejap, ia berubah menjadi hologram berbentuk planet Bumi. Tak lebih besar dari bola basket kesayangan Cakra, namun terasa jauh lebih berat oleh maknanya. Permukaannya berputar perlahan, samudra dan benua berkilau seperti dilapisi kaca. Lapisan demi lapisan terbelah, menyingkap isi planet itu: kerak, daratan, kota-kota, hingga potongan kecil dunia yang terlalu spesifik untuk disebut kebetulan.
Cakra tercekat.
Ia melihat Distrik Nor. Melihat bangunan-bangunan asing yang tadi membuat kepalanya pening. Bahkan ia melihat dirinya sendiri, duduk di dalam jet, menatap hologram planet itu dengan wajah pucat.
“Seperti yang kamu lihat,” kata Mynhemeni tenang, seolah pemandangan mustahil ini hanyalah peta biasa, “kita masih di Bumi.” Planet itu kembali menyempit, berputar cepat, lalu berhenti pada satu titik berdenyut cahaya.
“Tepatnya… di sini.” Hologram menampilkan hamparan laut luas. Garis pantai selatan Pulau Jawa menjauh, sementara daratan Australia membentang di kejauhan. Titik cahaya mereka melayang di tengah samudra. Hampir sejajar dengan Christmas Island, pulau kecil di teritori Australia yang namanya pernah ia dengar sekilas, entah dari pelajaran geografi atau obrolan tak penting.
“Jadi kita di sini?” Cakra menelan ludah.
“Di tengah-tengah lautan… antara Jawa dan Australia?” Suaranya bergetar, bukan karena takut air atau jarak, melainkan karena satu hal yang jauh lebih menakutkan. Semakin lama, dunia ini terasa terlalu nyata untuk disebut mimpi.
“Entahlah…” Cakra mengembuskan napas panjang.
“Aku masih belum percaya.” Kalimat itu keluar pelan, seolah jika ia mengucapkannya terlalu keras, dunia di sekitarnya akan runtuh seperti kaca tipis. Pandangannya turun lagi ke kaki kanannya. Ia menggeser posisi, memiringkan betis, mencari sudut yang dulu selalu ia tunjukkan dengan bangga. Bekas luka lima sentimeter yang jadi bukti kenakalan masa kecilnya.
Tidak ada.
Kulitnya mulus. Terlalu mulus. Seolah luka itu tak pernah ada, seolah Swiss, motor besar itu, dan teriakan bundanya hanyalah cerita yang salah ia ingat. Belum sempat ia mencerna rasa ganjil itu, kilatan cahaya melintas di luar kabin. Cepat, terang, seperti kilat yang dipaksa bergerak lurus. Seluruh jet bergetar halus, bukan guncangan, melainkan sensasi seolah ruang di sekitar mereka dilipat lalu dibentangkan kembali.
“Cahaya apa itu tadi?” Cakra refleks menoleh, matanya menyisir dinding transparan pesawat. Mynhemeni menatapnya lekat, seperti sedang menilai seberapa jauh batas kewarasan anak itu masih bertahan.
“Kita baru saja melewati gerbang kecepatan cahaya,” katanya tenang.
“Kami menyebutnya Vorna.”
“Gerbang…?” Cakra mengernyit.
“Teleportasi,” lanjut Mynhemeni.
“Dengan Vorna, kami bisa berpindah ke mana saja tanpa perjalanan panjang. Setiap kota punya Vorna di hampir setiap sudut. Biasanya digunakan untuk melompat antar distrik.”
“Oh.” Cakra terdiam sejenak, lalu mendongak.
“Jadi… kalian nggak bisa teleportasi sembarangan tanpa gerbang itu?”
“Bisa,” jawab Mynhemeni ringan.
“Tapi tidak sambil membawa jet. Kalau kendaraan ikut serta, harus lewat Vorna.”
Ia memiringkan kepala sedikit. “Kalau hanya perseorangan…”
Ia mengedipkan mata.
Dan tubuhnya lenyap.
Udara di depan Cakra kosong. Tidak ada kilatan dramatis, tidak ada suara ledakan. Hanya ruang hampa yang tiba-tiba terasa salah. Jantung Cakra melonjak, meski ia sudah setengah siap. Tetap saja, melihat seseorang menghilang begitu saja rasanya seperti dunia baru saja lupa menampilkan satu lapisan realitas.
“Hah—!”
Belum sempat ia bangkit, suara itu muncul dari belakangnya.
“Seperti ini.”