“Akan tetapi, yang kamu lihat justru ini…”
Dalam sekejap, sosok Nyai Roro Kidul memudar seperti bayangan yang tersapu arus. Dalam satu tarikan napas, cahaya hijau yang menyelimutinya runtuh seperti tirai, menyingkap kembali wujud Letnan Rihum. Namun seragamnya tidak lagi menyerupai milik Mynhemeni. Pakaian itu menjelma seperti jubah panjang berwarna gelap, menjuntai berat, dengan ujung-ujung yang tampak tercabik seolah pernah terseret karang dan badai.
Senjata kecil di tangannya melengkung perlahan, berubah menjadi sabit berkilau. Helm yang semula tampak futuristik kini berubah. Dari sisi kanan dan kirinya tumbuh tanduk menyerupai tanduk rusa, dan di sela-selanya menyala api tipis yang bergoyang tenang meski berada di bawah laut. Kereta kencana yang tadi melayang anggun pun berlipat kembali, menjelma jet pesawat yang sama dengan yang kini menaungi Cakra.
“Itu yang aku lihat saat aku tenggelam…!” seru Cakra. Bulu kuduknya meremang, napasnya tertahan. Suaranya bergetar, dadanya terasa sesak. Ingatan itu terlalu nyata untuk sekadar ilusi. Mynhemeni hanya menatapnya lama sebelum berbicara.
“Kamu melihat Letnan Rihum dengan kostum yang aneh,” ujarnya pelan. Wajahnya mengeras.
“Dan di situlah masalahnya. Mode penyamarannya seakan tidak bekerja padamu.” Ungkap Mynhemeni menatap Cakra dalam. Ia menggerakkan kepalanya sedikit. Tak lama jet mulai bergerak, perlahan menjauhi dinding karang tempat Cakra dahulu terombang-ambing.
“Hei, kenapa kita malah mundur?” tanya Cakra.
Mynhemeni tidak menjawab.
Mereka kembali melewati kapal selam yang masih diam di tempatnya, tak satu pun awak di dalamnya menyadari keberadaan mereka. Bagi yang berada di dalam kapal selam Rusia, mereka hanya melihat seekor tuna besar melesat di kejauhan, cepat dan tenang, seperti kilatan bayangan di jalan raya bawah laut.
Beberapa detik kemudian, jet itu menukik ke atas. Permukaan laut terbelah, dan dalam satu hentakan mereka menembus permukaan. Air berubah menjadi kabut, lalu hilang sama sekali. Jet itu melesat ke udara seperti roket, meninggalkan laut di bawah seperti hamparan kaca biru.
“Kita mau ke mana sebenarnya?” suara Cakra terdengar lebih kecil kini.
Ia menatap ke bawah.
Di bawah sana, laut Pantai Parangtritis membentang luas, biru gelap dan berkilau, sementara di kejauhan garis daratan hijau mulai terlihat semakin jelas. Jet itu terus melaju, menembus langit menuju bumi yang terasa ganjil baginya. Sebuah tempat yang asing, padahal ia mengenalnya seumur hidup.
Laut Parangtritis kini tak lagi lengang.
Beberapa kapal patroli dengan ukuran dan bentuk berbeda bergerak saling berpapasan, memecah permukaan air seperti barisan kendaraan di jalan raya. Di atasnya, helikopter berputar rendah, baling-balingnya mengaduk udara, menciptakan gema berat. Get Pemandangan ini terasa asing bagi Cakra. Laut yang ia kenal tak pernah seramai ini, seolah seluruh dunia sedang mencarinya.
“Tunggu… itu….” Suara Cakra tercekat. Matanya terpaku pada satu kapal di bawah sana. Sosok yang berdiri di geladaknya terlalu familiar untuk diabaikan.
“Ayah…”
Jet mereka melambat tepat di atas kapal itu. Lantai di bawah kaki Cakra berubah bening, transparan, menyingkap jarak beberapa belas meter yang memisahkan dirinya dengan ayahnya. Tanpa ragu, Cakra menjatuhkan tubuhnya, berbaring di lantai itu. Tangannya menghantam permukaan keras yang tak lagi terlihat, berkali-kali, putus asa.
“Ayah! Cakra di sini!” teriaknya. Suaranya pecah, tenggorokannya perih.
“Ayah, lihat Cakra!” Ia menepuk-nepuk lantai jet sekuat tenaga, seolah kaca itu bisa menjadi air, seolah teriakan bisa menembus batas yang tak kasatmata. Namun di bawah sana, ayahnya tetap menatap laut, tak sedikit pun mendongak.
Mynhemeni menggeleng pelan. “Percuma. Mereka tidak akan melihat atau mendengar kita.”
Cakra menoleh tajam. “Kenapa?”
“Bagi mereka, kita hanyalah seekor burung yang melintas di atas laut. Tak lebih.”
Mynhemeni sedikit memiringkan kepala. Kali ini, bukan dari tubuhnya yang muncul sesuatu, melainkan dari sisi jet. Sebuah bola kecil meluncur keluar, nyaris sebesar kutu, hampir mustahil terlihat. Namun mata Cakra menangkapnya dengan jelas saat benda itu melesat turun, menembus udara, menuju kapal ayahnya.
Cakra menahan napas.
Lalu suara itu terdengar.
“Ya Tuhan… tolong tunjukkan keajaiban-Mu.”