Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #34

Syarat untuk Pulang

“Maaf,” ucap Mynhemeni akhirnya.

Ia bangkit dari sofa dan melangkah mendekat, berhenti beberapa langkah dari Cakra. Suaranya tetap tenang, nyaris lembut, terlalu lembut untuk situasi setegang ini. Kontras dengan tubuh Cakra yang masih bergetar di tempatnya berdiri.

“Saya harus bertindak sejauh ini.”

Tatapannya mengunci Cakra. Bukan tatapan permusuhan, melainkan pandangan seseorang yang sedang menimbang sesuatu yang langka dan berbahaya dalam waktu bersamaan. Lebih menyerupai peneliti yang menemukan sesuatu di luar perhitungan, sesuatu yang membuat rasa ingin tahunya terusik.

“Selama kita berbincang, aku menganalisis kekuatanmu. Semua yang sudah kamu keluarkan sejauh ini.” Cakra ingin membalas. Ingin berteriak bahwa ia bukan objek percobaan. Namun lidahnya masih terasa berat, seperti baru saja diseret arus laut yang dingin dan tak memberi ruang untuk melawan. Masih mencengkeram saraf-sarafnya.

“Seperti yang sudah aku jelaskan, baju yang kami sematkan memang diperuntukkan bagi tahanan. Aku hanya meningkatkan responsnya agar dapat melumpuhkanmu. Tanpa harus menyentuhmu.”

Ia berhenti sejenak, memastikan Cakra masih mendengar.

“Kami menyebutnya Maroz. Alat pembeku lawan. Saat kamu tersadar di ruangan tahananmu, Maroz tingkat satu sudah kami aktifkan. Biasanya, bangsa kami akan pingsan tidak kurang dari sepuluh detik.”

Mynhemeni menghela napas pendek.

“Bagi manusia darat, seharusnya efeknya lebih cepat.” Ia menggeleng pelan, seperti masih sulit menerima hasil yang ada di hadapannya.

“Tapi tubuhmu tidak merespons.” Nada suaranya tetap tenang, namun sorot matanya mulai berubah. Ada keheranan yang tak bisa ia sembunyikan. Jari-jarinya bergerak ringan, seolah menyusun ulang data tak kasatmata di udara.

“Kami meningkatkannya ke Maroz tingkat dua. Secara teori, tulangmu seharusnya sudah hancur. Tapi tubuhmu tetap bertahan.” Mynhemeni melangkah sedikit lebih dekat. Tatapannya kini mengeras, bukan karena marah, melainkan heran.

“Setelah menganalisis lebih jauh, aku menyimpulkan bahwa hanya Maroz tingkat akhir yang mungkin dapat bekerja padamu.”

Ia menatap Cakra lurus-lurus.

“Dan itu terbukti. Kamu berhasil aku bekukan.” Udara di sekitar mereka terasa menekan, meski berada di dalam laut yang tenang.

“Mungkin,” lanjutnya pelan, “tingkat akhir Maroz yang dapat menghancurkan tubuh juga dapat aktif padamu.” Mynhemeni kini memperhatikan Cakra tanpa menyembunyikan apa pun.

“Dan berdasarkan seluruh analisis yang saya kumpulkan,” katanya lirih, “tubuhmu tidak akan mampu menahan serangan Maroz tingkat akhir ini.”

Ia menurunkan suaranya.

“Jadi bekerja samalah. Jika kamu tidak ingin tubuhmu benar-benar hancur.” Tatapan Mynhemeni tertuju lurus pada Cakra. Tidak ada ancaman di sana, justru sesuatu yang menyerupai permohonan, seolah ia benar-benar berharap kata-katanya didengar. Namun bagi Cakra, ekspresi itu tak berarti apa-apa.

Ia mengabaikannya.

Cakra tetap mengerahkan seluruh sisa kekuatan yang masih bisa ia kumpulkan. Ia memaksa tubuhnya bergerak, melawan kekakuan yang menahan sendi dan ototnya. Getaran yang sebelumnya mengurungnya perlahan melemah, surut sedikit demi sedikit, seperti arus laut yang akhirnya kehilangan daya dorong.

Usahanya tidak mengkhianatinya.

Otot-ototnya mulai kembali patuh, meski setiap gerakan terasa kasar dan menyakitkan. Nyeri masih tertinggal, menjalar seperti sisa sengatan listrik yang membekas di dalam tulang, menolak benar-benar pergi. Napasnya berat, dadanya naik turun, namun ia masih berdiri. Dan di balik rasa sakit itu, ada sesuatu yang jauh lebih kuat. Amarah di dadanya justru semakin mengendap. Bukan meledak, melainkan menumpuk, padat dan panas, seperti tekanan di kedalaman laut yang siap menghancurkan apa pun yang lengah di hadapannya.

Mynhemeni tiba-tiba terdiam. Seluruh perhatiannya mengerucut saat ia menangkap pergerakan kecil dari tubuh Cakra, nyaris tak kasatmata, namun cukup untuk membuatnya siaga. Ruangan itu mendadak terasa menyempit, seolah tekanan laut di luar dinding ikut merayap masuk.

Cakra menggertakkan giginya. Ia memaksa tubuhnya bergerak, berusaha melepaskan diri dari sesuatu yang menahan sendi-sendinya. Aliran listrik masih menjalar, menusuk hingga ke tulang, membuat pandangannya bergetar. Tapi ia tidak berhenti. Setiap tarikan napas terasa berat, seperti menghirup udara dingin di dasar laut, namun ia terus melawan.

Lalu, tiba-tiba, sensasi itu menghilang.

Lihat selengkapnya