Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #35

Taruhan Bernama Pulang

Namun Mynhemeni tetap bergeming. Di tengah cekikan yang menekan napasnya, gadis itu justru tertawa pelan. Tawa yang patah, diselingi batuk kering yang memaksa dadanya naik turun. Suara itu tipis, serak, namun cukup untuk menusuk kesabaran Cakra. Respons yang sama sekali tak ia harapkan.

Genggaman Cakra menguat tanpa sadar. Jarinya menekan lebih dalam, seolah ingin memaksa tubuh Mynhemeni menyerah. Kilatan listrik di sekeliling mereka membesar, menjalar seperti urat cahaya ungu yang lapar. Beberapa loncatan energi bahkan menyambar ke arah Cakra, mencoba melindungi tuannya.

Namun Cakra tidak merasakan apa pun. Tidak panas. Tidak nyeri. Tidak takut.

“Antarkan aku pulang sekarang juga!” teriaknya. Suaranya pecah, dipenuhi keputusasaan yang tak lagi bisa disembunyikan. Ia tak ingin membunuh gadis itu. Ia hanya ingin semua ini berakhir.

Mynhemeni tersenyum di sela batuknya, napasnya tersendat. Dengan sisa suara yang masih bisa ia kumpulkan, ia berbicara terbata-bata. “Kamu pikir… kamu bisa pulang… tanpa memberi jawaban pada kami?”

Ia terdiam sejenak, menelan udara yang nyaris tak ada. “Kamu pikir… aku menyerahkan diriku… tanpa persiapan?”

Dadanya berguncang lagi oleh batuk, tetapi sorot matanya tetap tajam, menantang.

“Bahkan… aku sudah merelakan nyawaku… lenyap… saat membawamu keluar…”

Kata-kata itu menggantung di udara seperti arus laut yang tiba-tiba berhenti. Di antara mereka, ketegangan semakin menebal. Bukan lagi sekadar ancaman dan sandera. Ini adalah benturan dua kehendak yang sama-sama keras kepala, sama-sama terluka, dan sama-sama tak ingin kalah.

“Apa maksudmu…?” Cakra bertanya dengan suara rendah, berusaha menjaga kendali. Jarinya masih melingkar di leher Mynhemeni, tidak mengendur, tidak juga menekan lebih dalam. Tubuhnya tegang, seperti busur yang ditarik penuh dan menunggu satu kesalahan kecil untuk dilepaskan.

Mynhemeni menarik napas pendek, matanya berkilat. “Ketua kami sudah tahu aku diculik,” katanya tersengal.

“Tanpa tahu bahwa ini rencanaku sendiri.” Ia berhenti sejenak, paru-parunya memohon udara. “Itu artinya… keputusan sepenuhnya ada di tanganku.”

Cakra menelan ludah. “Keputusan apa?”

“Apakah aku harus membunuhmu,” lanjut Mynhemeni perlahan, “atau kamu membunuhku.” Bibirnya bergetar, bukan karena takut, melainkan karena kekurangan napas.

“Atau… kita mati bersama.” Kalimat terakhir nyaris terpotong oleh batuk kering yang memaksanya terdiam.

Ia mengangkat sedikit dagunya, berusaha tetap menatap Cakra. “Sanvarku sudah aku aktifkan.” Senyum tipis, hampir sinis, terlukis di wajahnya. “Peledak otomatis. Jika aku terbunuh, alat ini akan meledak.”

Kata-kata itu menghantam Cakra lebih keras daripada serangan apa pun. Gambaran yang tak ia minta langsung memenuhi kepalanya. Ombak raksasa. Daratan yang terbelah. Wajah ayah dan ibunya tersapu air tanpa sempat berpaling.

“Artinya,” sambung Mynhemeni, suaranya mulai lebih stabil ketika cengkeraman di lehernya sedikit merenggang, “kamu juga akan mati jika aku mati.” Ia menarik napas lebih dalam.

“Dan distrik Nor tentu akan selamat. Teknologi kami menjamin itu. Tapi, ledakannya cukup untuk memicu tsunami besar. Sangat besar.” Tangan Cakra gemetar. Bukan karena lelah, melainkan karena bayangan itu terlalu nyata.

“Setara dengan tsunami akibat gempa dalam laut, berkekuatan sekitar sepuluh skala Richter.” kata Mynhemeni pelan, seolah sedang menjelaskan data ilmiah di ruang aman. Ia menatap lurus ke mata Cakra.

“Coba bayangkan... daratan tempatmu tinggal akan berubah selamanya.” Tentu itu semua hanya ancaman belaka. Cakra tidak tahu, dan memang tidak akan pernah tahu, bahwa ledakan yang dimaksud nyaris tak akan berdampak apa pun di luar jet. Struktur jet itu dirancang untuk menyerap dan meredam gelombang ledakan. Bahkan kemungkinan badan pesawatnya tergores saja hampir mustahil.

Hening menekan mereka. Di dalam laut yang terasa seperti daratan, Cakra akhirnya menyadari satu hal yang jauh lebih menakutkan daripada senjata atau teknologi Porkah. Sekali ia salah langkah, yang dipertaruhkan bukan lagi hidupnya sendiri.

Cakra mempercayai ucapan Mynhemeni. Kepercayaan itu runtuh di dadanya seperti dinding rapuh yang disiram air pasang.

“Tidak… aku mohon…” Suaranya pecah, hampir tak terdengar. Tangan kanannya perlahan terlepas dari leher Mynhemeni, jari-jarinya gemetar seolah kehilangan tenaga sekaligus alasan untuk bertahan. Detik itu juga, kendali berpindah.

Mynhemeni bergerak cepat. Terlalu cepat untuk disusul pikiran Cakra. Dengan satu dorongan keras, ia membanting tubuh Cakra menjauh, lalu tendangan menyusul, presisi dan dingin. Tubuh Cakra terangkat, melayang sesaat di udara yang terasa berat seperti air laut, sebelum sofa di belakangnya menangkap tubuhnya dengan empuk yang menipu. Hentakan itu membuat napasnya tersedak.

“Jadi,” kata Mynhemeni, suaranya kembali stabil, “kamu mau bekerja sama atau tidak?”

Lihat selengkapnya