Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #36

Bahasa, Tawa, dan Ancaman

“Kenapa kalian melakukannya?” tanya Cakra. Suaranya lebih pelan dari yang ia maksudkan, tenggelam di antara dengung halus ruang itu. Ia sama sekali tidak menyadari perubahan ritme di sekelilingnya, atau getaran halus yang mulai merambat di lantai, seperti roda raksasa yang tengah mengunci arah. Jet pesawat yang membawanya kian mendekati tujuan Mynhemeni.

“Tidak perlu alasan khusus untuk membantu sesama makhluk bumi, bukan?” ucap Mynhemeni ringan, seolah kalimat itu hanyalah angin yang lewat. Tatapannya tetap tenang, namun di balik ketenangan itu ada sesuatu yang ia simpan rapat. Ia tidak ingin Cakra tahu bahwa Porkah bukan penduduk asli bumi. Tidak juga tentang rasa berutang yang diam-diam mengikat bangsanya pada planet ini, pada laut yang memberi mereka tempat berlindung ketika mereka tak lagi memiliki rumah.

“Lagi pula,” lanjutnya, suaranya lebih dalam kini, “laut selalu mengambil.” Ia berhenti sejenak, memberi ruang bagi gema kata-katanya.

“Dan kami memilih untuk mengembalikan.” Cakra tidak segera memberi respon. Ia hanya menatap Mynhemeni, lalu mengangguk pelan. Gerakan kecil itu membuat bahu Mynhemeni mengendur, napasnya terasa lebih ringan. Ia tidak menyangka jawaban sesederhana itu akan diterima tanpa bantahan. Tanpa curiga.

Namun bagi Cakra, kalimat itu sama sekali tidak sederhana. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya, sesuatu yang terasa akrab. Suara ayahnya seolah menyusup di antara dengung mesin dan desiran air di luar sana. Tak perlu alasan untuk membantu sesama. Itulah prinsip yang Adipramana, ayahnya, selalu hembuskan padanya.

Senyum tipis terbit di wajah Cakra. Bukan senyum lega, melainkan senyum yang penuh kenangan. Ia menghargai prinsip bangsa Porkah, dan tanpa ia sadari, ia baru saja menemukan pantulan nilai yang selama ini ia genggam, bahkan ketika dunia di sekelilingnya terasa asing.

“Kenapa kamu tersenyum?” suara Mynhemeni terdengar ringan, namun matanya waspada, mengikuti perubahan ekspresi di wajah Cakra. Cakra menghela napas pendek, lalu tersenyum lebih lebar, bukan mengejek, melainkan tulus.

“Kalian keren,” ujarnya jujur. “Baru sekarang aku benar-benar sadar. Dengan kemampuan kalian, harusnya aku sudah mati dari tadi. Aku yakin, membunuhku bukan perkara sulit bagimu.”

Mynhemeni mengangkat alis tipis. Ada kilatan geli di matanya. “Kau baru menyadarinya?” katanya, hampir seperti tertawa kecil.

Cakra hanya menggeleng pelan. “Kalau aku tidak melihat semuanya dengan kepalaku sendiri, mungkin aku takkan percaya. Manusia yang hidup di bawah laut. Teknologi secanggih ini. Tempat ini terasa seperti daratan, tapi aku tahu kita jauh dari permukaan.”

“Lucu,” balas Mynhemeni sambil menyilangkan tangan. “Aku juga berpikir hal yang sama. Kalau aku tak menyaksikannya sendiri, mungkin aku takkan percaya ada manusia darat yang bisa bernapas di dalam air, menyembuhkan dirinya, dan memukul sekeras badai.”

Cakra terkekeh singkat, lalu matanya berbinar. “Ngomong soal itu, bagaimana caranya supaya kamu bisa dapat jawaban tentang diriku? Tentang semua kemampuan ini?”

“Kita akan melakukan beberapa tes di tempatku,” jawab Mynhemeni tenang. “Dan bersiaplah. Kita hampir sampai.”

Kalimat itu membuat Cakra tersentak. Ia baru menyadari dengungan halus yang konsisten sejak tadi. Jet itu ternyata sudah bergerak lama. Ia menoleh ke samping dan dadanya menghangat oleh rasa kaget. Dinding transparan yang memperlihatkan lautan kini telah tertutup sepenuhnya.

“Sejak kapan ruangan ini tertutup?” tanyanya, tak bisa menyembunyikan kekaguman.

Cakra bangkit sedikit dari duduknya, memutar kepala, menyusuri setiap sudut ruangan. Ornamen di dinding berkilau lembut, berpola seperti arus laut yang dibekukan. Ia merasa seperti berada di sebuah aula megah di daratan, hanya saja dengan denyut laut yang terus bernapas di sekelilingnya. Rasa penasaran di dadanya tumbuh semakin dalam, dan untuk pertama kalinya sejak diculik, ia menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Itu karena otakmu yang memerintahkannya,” ujar Mynhemeni tenang. “Sepertinya, di saat kamu mulai menyerangku, alam bawah sadarmu menginginkan ruang tertutup. Tempat di mana kau merasa punya kendali.”

“Oh. Iya juga,” gumam Cakra.

Seolah menanggapi pikirannya, dinding ruangan kembali memudar. Transparan. Bahkan lantainya ikut menghilang, menyingkap hamparan laut yang membentang jauh di bawah. Cakra refleks menahan napas. Tubuhnya terasa melayang di atas sofa, seperti terbang rendah tanpa sayap. Ada sensasi ringan di dadanya, campuran antara takut dan kagum.

Ia mengernyit, lalu berdeham kecil. Dalam hati, ia memerintahkan kebalikannya.

Lihat selengkapnya