Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #37

Tak Lagi Aman

Kalimat itu menghantam Cakra lebih keras daripada ancaman senjata apa pun. Tenggorokannya mengering, seolah ia benar-benar baru saja menelan ludahnya sendiri dan tak tahu harus berbuat apa setelahnya. Ia terdiam, dadanya terasa sesak. Prinsip yang selama ini ia pegang justru runtuh oleh tindakannya sendiri. Ia selalu membenci orang yang menjadikan orang lain sebagai bahan tawa. Baginya, itu hina. Dan barusan, tanpa sadar, ia berdiri di posisi yang sama.

Namun di balik rasa bersalah itu, ada kegelisahan lain yang berdesir pelan. Ia menatap lantai transparan di bawah kakinya, melihat biru laut yang tenang tapi dalam, seperti pikirannya sendiri. Sebenarnya ia tidak menertawakan Mynhemeni. Yang membuatnya kehilangan kendali adalah absurditas teknologi bangsa Porkah. Kemampuan menerjemahkan bahasa apa pun, menembus batas bunyi dan makna, membuat pikirannya seakan berlari tanpa rem. Kekaguman berubah jadi kelakar. Kelakar berubah jadi kebodohan.

“Iya,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya.

“Aku paham.” Ia mengangkat pandangan, menatap Mynhemeni tanpa senyum.

“Maksudku bukan menertawakan kamu. Aku cuma… terpancing sama alat komunikasi ini.” Ia menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan.

“Maaf kalau itu bikin kamu tersinggung.”

Tubuhnya masih kaku di atas sofa, bahunya tegang, seolah ancaman tadi belum sepenuhnya pergi. Padahal alat-alat pertahanan bangsa Porkah telah lenyap, kembali menyatu dengan teknologi yang tak lagi terlihat. Ruangan terasa lebih lapang, namun rasa bersalah justru mengisi ruang kosong itu.

Mynhemeni memperhatikannya dalam diam. Tatapan tajamnya melunak, bahunya sedikit turun. Melihat Cakra yang tetap duduk tegap, penuh penyesalan, ada sesuatu yang mengusik dadanya. Ia tahu reaksinya berlebihan. Laut di luar sana tetap bergulir tenang, seolah mengingatkan bahwa tidak semua benturan harus berakhir dengan ancaman.

“Iya, aku juga minta maaf,” ucap Mynhemeni akhirnya. Nada suaranya sudah jauh lebih lunak, rasa jengkelnya mengendap menjadi rasa ingin tahu. Ia sedikit memiringkan kepala, rambut peraknya bergeser mengikuti gerakan itu.

“Boleh jelaskan, kenapa kamu sampai terpingkal-pingkal seperti itu?”

Cakra menghela napas, lalu duduk lebih tegak. Tangannya sempat bergerak canggung, seperti mencari kata yang tepat.

“Begini,” katanya hati-hati. “Di daratan, ada banyak sekali suku dan bangsa. Setiap suku punya bahasa sendiri. Dan kadang, bahasa satu suku bisa terdengar… sangat lucu bagi orang dari luar.”

Ia melirik Mynhemeni, memastikan gadis itu masih mendengarkan. “Tadi aku iseng mengubah bahasa di kepalaku waktu kamu bicara. Aku ketawa bukan karena kamu, tapi karena bunyinya. Apalagi dengan fisikmu.”

Ia berhenti sejenak, lalu buru-buru menambahkan, “Maksudku, penampilanmu kelihatan anggun dan serius. Jadi waktu keluar bahasa-bahasa yang nadanya ringan atau medok, rasanya kontras sekali.”

Mynhemeni mengerutkan kening tipis. Tatapannya kosong beberapa detik, seolah mencoba menarik makna dari penjelasan itu. Melihat raut wajah itu, Cakra langsung tahu. Ia mengendurkan bahunya.

“Kamu mungkin nggak akan paham,” katanya lebih pelan.

“Karena bahasa itu bukan sekadar bunyi. Ada kenangan, kedekatan, dan kebiasaan di dalamnya.” Ia melipat bibir sejenak.

“Jadi sungguh, aku bukan menertawakan kamu. Dan tidak ada yang aneh atau salah dari dirimu.”

Lihat selengkapnya