Selang tiga puluh tujuh menit setelah Cakra melumpuhkan seluruh pasukan keamanan gedung pemerintahan Distrik Nor dan membawa Mynhemeni pergi, kesadaran Georu akhirnya mengapung ke permukaan. Rasanya seperti ditarik perlahan dari kedalaman laut yang menekan, berat dan berdenyut. Di dalam kepalanya, sebuah suara netral bergema, menjabarkan fakta tanpa emosi. Ia telah tertidur selama lima puluh tiga menit. Bahkan, enam belas menit di antaranya berlalu sebelum penculikan itu terjadi. Seluruh informasi itu disampaikan tenang oleh mesin kecerdasan Sanvar yang membungkus raganya, seolah semua ini hanyalah catatan rutin.
Kelopak matanya bergerak pelan. Georu menelan ludah, lalu mengernyit.
“Kenapa kamu tidak membangunkanku?” ucapnya, suaranya tak keluar. Ia berbicara dalam kepalanya. Matanya menyipit, dahi berkerut. Ia yakin betul telah mengatur mode lelap hanya selama lima belas menit.
Tidak lebih.
“Sudah aku lakukan,” jawab Sanvarnya cepat, nyaris defensif. Bergema di dalam kepala Georu. “Tepat setelah tingkat pemulihanku mencapai seratus persen. Sekitar tujuh menit lalu. Tapi kamu tidak bangun juga.”
Sejenak jeda, lalu suara itu melanjutkan dengan nada yang makin menyebalkan.
“Kamu juga yang memberi perintah. Tidak boleh dibangunkan secara kasar. Terutama jika sudah tiga kali percobaan.”
Georu memejamkan mata. Ada denyut kesal yang naik ke pelipisnya, bercampur rasa tidak enak yang belum jelas bentuknya.
“Iya, iya… sudahlah,” gumamnya akhirnya. Ia memilih menghentikan percakapan sebelum berubah jadi pertengkaran yang tak perlu.
Ia memaksakan tubuhnya untuk bangkit, otot-ototnya terasa berat seolah baru saja ditekan arus laut dalam waktu lama. Pandangannya kabur. Gelap. Terlalu gelap. Georu menggerakkan rahangnya pelan, lalu memerintahkan Sanvarnya untuk menyesuaikan pemrosesan visual di otaknya. Perlahan, kegelapan itu retak. Cahaya samar muncul seperti fajar yang dipaksa masuk ke kedalaman samudra.
Bentuk-bentuk mulai mengambil wujud. Lantai yang retak. Pilar yang patah dan tergeletak miring. Serpihan dinding melayang ringan sebelum akhirnya jatuh perlahan, seolah masih ragu pada hukum gravitasi. Napas Georu tercekat ketika matanya menangkap tubuh-tubuh yang dikenalnya. Beberapa sejawatnya terkapar tak bergerak, sebagian lain bersandar pada reruntuhan dengan busana tempur yang robek dan berpendar lemah. Gedung pemerintahan yang biasanya kokoh dan steril kini tampak seperti cangkang kosong yang diremuk dari dalam.
Dingin merayap naik dari tengkuknya. Bukan dingin air laut, melainkan rasa yang lebih dalam dan lebih tajam.
Makhluk apa sebenarnya Cakra?
Pikirannya melompat kembali pada momen sebelum gelap menelannya. Pada satu pukulan di ulu hati. Singkat, cepat, dan brutal. Georu masih bisa merasakan gema benturan itu, seperti gelombang kejut yang menghantam dari dalam tubuhnya sendiri. Ia menelan ludah. Jika saja ia terlambat sepersekian detik mengaktifkan perisai penuh, ia yakin tulang-tulangnya tak akan tersisa dalam bentuk utuh.
“Tidak masuk akal…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
Perisai tingkat penuh seharusnya cukup untuk menahan serangan kelas tinggi. Namun Cakra menembusnya, atau setidaknya hampir. Dan fakta itu jauh lebih mengerikan daripada reruntuhan di sekelilingnya.
“Geok, tunjukkan status,” perintah Georu pada kecerdasan buatan Sanvarnya yang ia beri nama Geok.
Seketika, rangkaian data bermunculan. Bukan sebagai layar di hadapan matanya, melainkan sebagai lapisan cahaya yang melayang di dalam kepalanya, rapi dan dingin. Angka, grafik, dan simulasi kondisi tubuhnya berputar perlahan. Georu menyipitkan mata, dahinya mengernyit saat satu data mencolok muncul di pusat kesadarannya.
Kerusakan Sanvarnya mencapai tujuh puluh delapan persen.
Dada Georu terasa mengencang. Ini pertama kalinya. Selama hidupnya, tak pernah sekalipun Sanvarnya mengalami kerusakan di atas lima belas persen. Tidak saat ia masih duduk di bangku pendidikan Janrugkou. Tidak pula ketika menjalani latihan militer brutal di Hokuiol, distrik pertahanan nasional Kerajaan Porkah, tempat prajurit terbaik ditempa tanpa ampun. Kini, hampir delapan puluh persen sistemnya runtuh hanya dalam satu insiden.
“Gila…” racaunya, tak percaya.
Tak heran pemulihan memakan waktu selama itu. Dan belum selesai sampai di sana. Georu menggeser fokusnya pada laporan kondisi fisik. Diagram tubuhnya berpendar, menampilkan rekaman kerusakan yang sempat terjadi. Tulang rusuk bagian bawahnya pernah pecah, retaknya menjalar seperti kaca yang dilempar batu. Beberapa organ dalam sempat mengalami tekanan ekstrem sebelum akhirnya direkonstruksi ulang oleh sistem penyembuhan.
Sekarang semuanya sudah utuh kembali.
Justru itu yang membuat Georu merinding.
Ia menyaksikan ulang simulasi pecahnya tulang rusuknya sendiri, setiap detik direkam dengan presisi kejam. Rasa nyeri seolah kembali menyelinap ke tubuhnya, walau hanya sebagai bayangan. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan denyut di pelipisnya.