“Siap! Maafkan kelancangan kami!”
Suara Olhuioruik menggelegar, memantul di lorong megah gedung pusat pemerintahan distrik Nor. Gaungnya berlapis, seolah dinding berlapis karang dan logam itu ikut mengamini. Sesaat kemudian, koor serempak dari pasukannya menyusul, rapi dan nyaris tanpa jeda.
Di dunia Porkah, ketaatan bukanlah pilihan. Ia adalah algoritma sosial yang tertanam sejak lahir, mengalir di antara nadi dan pikiran. Olhuioruik menerimanya tanpa perlawanan, dadanya naik turun perlahan. Perintah Atuyju masih berada di dalam koridor hukum, dan itu sudah lebih dari cukup. Tidak ada ruang bagi keberatan, tidak ada celah bagi ego.
Di tempat ini, setiap penyimpangan tugas yang merugikan orang lain berujung pada hukuman paling mengerikan, Pelepasan Jiwa. Sebuah akhir yang membuat banyak orang memilih patuh bahkan sebelum berpikir untuk membangkang. Tidak peduli apakah oran tersebut hanyalah seorang pembersih saluran energi atau penguasa tertinggi distrik, hukum berdiri di atas segalanya. Ia mutlak, dingin, dan buta, seperti laut dalam yang tenang di permukaan namun tak memberi ampun pada siapa pun yang berani melawan arusnya.
Itulah sebabnya Rumsun, Wakil Ketua Distrik Nor, tak pernah memilih belati dalam gelap untuk menyingkirkan Thungsiruv. Ambisinya memang membara, menggerogoti pikirannya tiap detik, namun ia cukup cerdas untuk tahu bahwa cara licik hanya akan menyeretnya ke meja peradilan. Selama bertahun-tahun, Rumsun memilih menjadi bayangan yang sabar. Ia mengumpulkan serpihan kesalahan, menelusuri setiap keputusan Thungsiruv, menunggu satu noda yang cukup besar untuk meretakkan reputasi sang Ketua. Sayangnya, Thungsiruv terlalu bersih. Terlalu rapi. Ia seperti dinding kristal yang memantulkan setiap tuduhan, dan itu membuat frustrasi Rumsun merayap hingga ke tulang.
Lalu Cakra muncul. Hadiah yang terasa jatuh langsung dari langit.
Kabar tentang manusia darat berkekuatan monster segera menjelma menjadi kartu emas. Rumsun bergerak cepat, mengambil alih komando dengan dalih stabilitas keamanan distrik. Sementara Thungsiruv tenggelam dalam urusan logistik rakyat dan diplomasi dengan kerajaan, Rumsun menempatkan dirinya di garis depan. Ia membangun citra sebagai perisai Distrik Nor. Di setiap rapat, di setiap laporan, ia menekankan satu hal bahwa Cakra adalah ancaman eksistensial, dan hanya dirinya yang cukup tegas untuk menghadapinya. Dalam kepalanya, bidak-bidak politik sudah tersusun rapi, menunggu satu langkah terakhir.
Ia tak menyia-nyiakan waktu. Seluruh elemen militer Distrik Nor dikumpulkan. Pasukan Keamanan Distrik, Pasukan Pertahanan Nasional, hingga Pasukan Keamanan Gedung Pemerintahan, semuanya diarahkan ke satu titik.
Balai Pertemuan Utama menjulang sebagai mahakarya arsitektur bawah laut. Luasnya setara lapangan sepak bola piala dunia, dengan dinding transparan yang membuka pandangan ke arus laut biru tua yang mengalir tenang di luar sana. Pilar-pilar energi menopang langit-langit setinggi seratus empat puluh meter, menciptakan ilusi seolah mereka berdiri di aula raksasa di daratan, bukan di dasar samudra.
Di tengah balai, panggung utama berbentuk lingkaran sempurna bergerak perlahan ke depan saat Rumsun sedikit memiringkan kepalanya. Dalam hitungan detik, panggung itu memanjang dan berubah menjadi setengah lingkaran, lalu menyatu dengan dinding transparan di belakangnya. Cahaya memudar, dan permukaan transparan berubah menjadi baja kokoh berlapis elemen dekoratif yang anggun. Simbol-simbol kuno, ukiran sejarah bangsa Porkah, serta siluet para raja terdahulu muncul silih berganti. Ornamen itu terus bergerak dan berubah, seolah dinding tersebut menolak untuk membeku pada satu kisah. Sedangkan tiga sisi lainnya, masih transparan, menyuguhkan segala macam pesona yang dimiliki Distrik Nor.
Rumsun melayang ke sayap kiri panggung dan berdiri tegak. Posturnya kaku, namun memancarkan wibawa yang tak terbantahkan. Tak lama kemudian, empat sosok berbaris di belakangnya. Oprang, Komandan Kantor Keamanan Manusia Darat, bersama tiga anggotanya, para pengawal yang membawa Cakra ke Distrik Nor. Setelah itu, gelombang pasukan militer mengisi balai. Pertahanan nasional, keamanan distrik, hingga unit keamanan manusia darat berkumpul, jumlah mereka hampir mencapai sepuluh ribu prajurit.
Mereka berdiri berbaris rapi menghadap Rumsun dalam dua puluh lima tumpukan. Meski demikian, ruang luas masih tersisa di atas kepala barisan teratas, menegaskan betapa masifnya balai itu menelan sepuluh ribu pasukan tanpa terasa sesak.
“Saya mengumpulkan kalian agar kalian merasakan tayangan ini sendiri secara langsung,” seru Rumsun ketika barisan telah terisi sempurna.
Cahaya pun meledak dari tubuhnya. Ribuan butiran kebiruan seukuran kutu kucing memancar serempak, melesat tajam menuju kening setiap prajurit. Dalam sekejap, hujan cahaya itu menghantam mereka tanpa suara, tanpa celah untuk menghindar.
Sesaat kemudian, tubuh para pasukan membeku di tempat. Namun kesadaran mereka justru meluncur jatuh ke dalam casvet internal masing-masing. Di sana, di ruang virtual itu, rangkaian rekaman diputar tanpa jeda, bukan sekadar untuk ditonton, melainkan untuk dialami.
Mereka tidak lagi berdiri sebagai penonton. Mereka menjadi Cakra.
Mereka merasakan dinginnya arus Parangtritis saat tubuh itu pertama kali ditemukan hanyut. Napas yang tersengal kembali merebut hidup dari ambang kematian. Lalu segalanya berubah dengan cepat. Kini mereka tidak lagi menjadi Cakra. Mereka adalah pasukan yang berusaha menghadangnya.
Mereka merasakan sendiri dahsyatnya setiap pukulan. Takjub pada akar gerakannya yang presisi, nyaris sempurna. Serangan datang tanpa suara, tanpa ragu. Satu per satu, pasukan keamanan gedung tumbang, bahkan sebelum sempat memahami apa yang terjadi. Adegan kembali bergeser. Mereka menjadi Mynhemeni, merasakan ketegangan yang menjerat dada saat tubuhnya disandera dan diculik oleh anak itu. Ketakutan mengaburkan nalar. Detik-detik terasa terlalu panjang.
Lalu segalanya terputus.