Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #40

Diskusi Terbuka

“Awalnya saya ingin membiarkannya,” suara Letnan Rihum terdengar jelas dari belakang Rumsun. Ia melangkah setengah langkah ke kiri agar seluruh pasukan dapat melihat wajahnya.

“Tapi kalian sudah merasakannya sendiri. Anak itu bernapas di dalam laut. Tanpa alat. Tanpa jeda.” Ia menarik napas, seolah masih meraba ulang kejadian itu di kepalanya. Di depannya, beberapa pasukan saling berpandangan. Ia pun kemudian melanjutkan.

“Tubuhnya menabrak karang dengan kecepatan tinggi, tapi tidak hancur. Luka sobek sebesar itu,” Rihum mengangkat tangannya, memberi ukuran, “butuh setidaknya lima belas menit bagi kita untuk menyembuhkannya secara penuh.” Nada suaranya menurun, berubah lebih pelan.

“Tapi tidak bagi dia.”

Hening menekan ruang balai pertemuan. Arus laut di balik dinding transparan terus bergerak, kontras dengan ketegangan yang membeku di dalam ruangan.

“Kalian melihatnya sendiri,” lanjut Rihum.

“Tidak sampai sepuluh detik. Tubuhnya kembali utuh. Seolah kerusakan itu tidak pernah ada.”

Ia menoleh singkat ke arah Rumsun, lalu kembali menatap barisan pasukan.

“Saat itu juga saya melapor ke Komandan Oprang. Laporan itu langsung diteruskan kepada Ketua Thungsiruv.” Rihum mengepalkan jemarinya, mantap.

“Dan perintahnya jelas. Anak itu harus dibawa ke sini.” Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan.

“Kita harus tahu asal-usulnya. Apa dia manusia... Atau sesuatu yang lain....”

“Tapi bukankah manusia darat bisa saja punya kekuatan seperti itu?” sela salah satu pasukan dari barisan tengah. Nada suaranya ragu, namun dipenuhi rasa ingin tahu.

“Saya sering menonton tayangan mereka. Banyak manusia super di sana.” Beberapa kepala menoleh. Riak kecil kegaduhan muncul, seperti pasir halus yang terusik arus laut.

“Itu cuma film,” sanggah pasukan lain dengan cepat. “Cerita rekaan untuk hiburan.”

“Bisa saja film-film itu diangkat dari kisah nyata. Siapa tahu mereka menyamarkannya.” Balas yang pertama, setengah membela diri.

“Kalau begitu, saat kamu menonton film buatan bangsa kita sendiri, kamu benar-benar percaya itu semua nyata?” Seorang pasukan lain mendengus pelan, lalu mencondongkan tubuhnya.

Ucapan itu menghantam seperti arus dingin. Pasukan tadi terdiam, bibirnya terbuka sedikit, namun tak satu pun kata keluar. Di antara gemuruh laut yang berdenyut di balik dinding aula, keraguan perlahan mengendap, meninggalkan satu pertanyaan yang tak berani mereka ucapkan.

“Cukup!” suara Idurzbi memotong kegaduhan sebelum diskusi berubah menjadi kekacauan. Ia melangkah setengah maju, bahunya tegang.

“Kami sedang menganalisis anak itu untuk menemukan jawabannya. Tapi seperti yang kalian tahu, kita tidak bisa sembarangan menggunakan Salnost.” Tatapannya menyapu ruangan.

“Kita tidak tahu detektor apa yang tertanam di tubuhnya. Kita juga tidak tahu bagaimana sel-selnya bereaksi saat merasa terancam.” Ia berhenti sejenak, memberi ruang agar kata-katanya mengendap. Di balik dinding transparan aula, arus laut bergulir tenang, kontras dengan ketegangan di dalam ruangan.

Setiap bangsa Porkah tumbuh dengan detektor proteksi di dalam sel mereka. Sebuah mekanisme naluriah sekaligus teknologi hidup. Saat seorang Porkah berada di ambang kehancuran dan tubuhnya tak lagi mampu bertahan, detektor itu akan mengirimkan sinyal darurat ke negeri Porkah. Lokasi, kondisi tubuh, hingga jenis ancaman akan terbaca jelas. Dalam hitungan menit, pasukan akan datang, menembus laut seperti badai terarah.

Detektor itu juga akan aktif bila bagian tubuh bangsa Porkah, bahkan hanya sel dalam jumlah tertentu, masuk ke sistem yang bukan buatan bangsa mereka. Bila terdeteksi sedang dianalisis atau dipreteli, sinyal ancaman yang sama akan dilepaskan. Akibatnya selalu seragam. Pasukan Pertahanan Nasional akan menyerbu lokasi tersebut, menyelamatkan pemilik sel, menghancurkan tempatnya, lalu menghapus ingatan siapa pun yang menyaksikan kejadian itu.

Idurzbi menarik napas dalam. “Kami mengasumsikan tubuh anak itu bekerja dengan prinsip serupa.”

Kata-kata itu jatuh bagai paku yang menghantam kepala mereka. Asumsi itu cukup untuk membuat bulu kuduk siapa pun meremang. Jika Cakra bukan manusia darat, jika ia berasal dari bangsa lain yang memiliki sistem proteksi seagresif itu, maka menyentuh selnya berarti mengundang kehancuran.

Dan mereka yakin, bangsa lain tidak akan sebijak Porkah. Tidak akan repot menghapus ingatan atau menyisakan saksi. Mereka hanya akan menghancurkan apa pun yang berani mengutak-atik tubuh mereka.

Termasuk manusia darat.

Bangsa Porkah telah lama memandang manusia darat dengan kewaspadaan dingin. Di mata mereka, manusia darat adalah makhluk yang selalu merasa superior, rakus, dan tak pernah puas. Iri, dengki, rasa tak aman, dan hasrat untuk menang membuat mereka saling menjatuhkan di atas permukaan bumi. Sifat-sifat itu terasa terlalu familier.

Terlalu mirip dengan aura misterius yang dulu menghancurkan planet mereka.

Pikiran tentang kehancuran bumi, tentang laut yang menjadi puing dan langit yang runtuh, membuat ruangan itu terasa lebih dingin. Karena itulah Salnost bukan pilihan utama, meski semua orang tahu kekuatannya. Mesin itu mampu membedah seluruh asal-usul Cakra, hingga ke sumber paling awal, hingga ke nenek moyang pertamanya.

Namun jawaban yang terlalu cepat bisa berujung pada akhir segalanya.

“Lalu apa yang harus kita lakukan, Wakil Ketua?” tanya salah satu pasukan. Suaranya menggema di aula, berbaur dengan dengung halus energi dan arus laut yang mengalir di sekitar mereka.

“Iya, Wakil Ketua, mencari mereka hampir mustahil. Komandan Mynhemeni mengaktifkan mode penyamaran tingkat tinggi.” Sambung yang lain, nada cemasnya tak tersembunyi

Beberapa kepala mengangguk setuju. Mode itu bukan sekadar mengaburkan jejak, tapi menghapus keberadaan dari sebagian besar sensor. Seperti bayangan yang memilih kapan ingin terlihat.

Lihat selengkapnya