Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #41

Rencana Rumsun

“Kak, bagaimana keadaan anak itu? Kakak baik-baik saja kan?”

Suara Georu bergema lembut di dalam kepala Mynhemeni, seperti riak kecil yang menyentuh dinding batinnya. Sang adik mencoba menjalin komunikasi diam-diam, tepat ketika Rumsun masih sibuk memberi arahan pada pasukan keamanan dan pertahanan Distrik Nor.

Mynhemeni tetap melangkah tanpa memperlambat gerak. Tanpa ia sadari, tangan mungil yang sejak tadi menggenggam dan menyeret Cakra sudah terlepas. Cakra pun tidak menyadarinya. Perhatiannya sepenuhnya tercuri oleh pemandangan di hadapannya. Terumbu karang raksasa melayang di udara laut, menggantung anggun lima ratus meter di atas dasar ngarai yang menganga seperti jurang tak berdasar. Rasanya seperti berdiri di tepi tebing di daratan, hanya saja seluruh dunia berkilau biru dan berdenyut pelan.

“Dia sudah menerima kenyataan kalau dirinya masih hidup,” jawab Mynhemeni akhirnya, tetap tanpa menggerakkan bibir, “dia juga tidak tahu kenapa tubuhnya bisa bekerja seperti itu. Kakak percaya dia jujur.”

Ia berhenti sejenak, mengamati bayangan karang yang bergeser perlahan akibat arus. “Sekarang dia mau bekerja sama. Kakak bawa dia ke ruang kerja pribadi kakak. Kita analisis bersama di sana. Seperti yang kakak bilang, lebih aman kalau kakak yang menangani sendiri, bukan di ruang kerja kantor.”

Tangan kirinya masih terangkat di udara, seolah Cakra masih berada tepat di depannya. Padahal jarak di antara mereka sudah kosong. Cakra kini berdiri beberapa langkah di belakang, memutar tubuhnya, menatap Nor dengan mata berbinar. Kota bawah laut itu membentang luas, menyerupai daratan dengan bangunan bertingkat, jalan-jalan transparan, dan cahaya yang memantul seperti matahari sore.

“Memangnya ada masalah apa? Bukankah tadi kakak sudah bilang, jangan hubungi kakak kecuali kakak yang menghubungi kamu?” lanjut Mynhemeni, nada suaranya mengeras tipis

Ia menurunkan tangannya saat melihat Cakra tiba-tiba berlari ke depan, mendekati tepian terumbu karang melayang itu. Mynhemeni menghela napas pendek.

Dalam hatinya, ia berasumsi anak itu mulai bertingkah seperti manusia darat yang baru pertama kali melihat keajaiban. Terlalu antusias. Terlalu polos. Ia yakin Cakra hanya ingin menikmati pemandangan itu lebih dekat.

“Sekarang operasi diambil alih Rumsun,” bisik Georu di dalam kepala Mynhemeni. Suaranya begitu lirih, seolah takut gema pikirannya sendiri bocor keluar. Ia tetap berdiri mematung di antara para perwira lain, menatap panggung arahan seakan ia hanyalah salah satu rekan sejawat. Tubuhnya kaku, dadanya nyaris tak bergerak. Ia tidak berani mengubah sikap, tidak berani menoleh, takut satu gerakan kecil saja akan mengundang kecurigaan bagi sekelilingnya.

“Bagaimana bisa?” balas Mynhemeni pelan, pikirannya berputar cepat. Operasi ini seharusnya sunyi. Terkunci rapat. Bahkan ayahnya sendiri tidak akan turun tangan tanpa adanya kabar darinya. Ayahnya memang berkuasa, tetapi tidak gegabah. Terlebih jika nyawa anak pertamanya menjadi taruhannya.

Dalam bayangannya, ayahnya akan menunggu. Berdoa. Menyerahkan keputusan sepenuhnya padanya. Menanti kepulangan Mynhemeni dengan kabar baik. Dengan kepastian bahwa Cakra bukan ancaman. Bahwa anak itu bisa dilepaskan, setelah ingatannya dibersihkan, dan semuanya kembali seperti semula.

“Aku juga tidak tahu caranya,” suara Georu kembali terdengar, kali ini sedikit bergetar.

“Tapi Ayah sudah menyetujuinya. Sekarang Rumsun mengerahkan seluruh pasukan pertahanan dan keamanan Nor. Perintahnya jelas. Bawa anak itu hidup-hidup.” Mynhemeni merasakan dadanya mengencang. Dari kejauhan, suara Rumsun menggema, tegas dan penuh keyakinan, seperti palu yang mengetuk satu keputusan mutlak.

“Lebih baik kakak menyerahkan anak itu,” lanjut Georu cepat, seolah mengejar waktu.

“Rumsun sudah memerintahkan mereka untuk tidak mendengarkan kakak. Dia tidak peduli kalau kakak terbunuh dalam misi ini.” Pikiran Mynhemeni berdesir. Ia teringat tatapan Cakra. Ketakutan yang ditahan. Kepercayaan yang rapuh, namun nyata.

“Kakak sudah berjanji, kalau anak ini mau bekerja sama, kakak akan membawanya pulang,” balasnya. Ada nada goyah yang tak bisa ia sembunyikan.

Ia menelan kegelisahan yang menyesak. “Kalau anak itu jatuh ke tangan Rumsun, kakak yakin dia tidak akan pernah dilepaskan. Kakak tidak mungkin mengingkari janji kakak.”

Lihat selengkapnya