Negeri Bawah Laut Porkah: Cakra di Samudera Hindia

virdytan
Chapter #42

Juga Buron

Setelah membubarkan pasukan, Rumsun melayang santai di atas plitan menuju ruang kerjanya. Senyum puas tak lepas dari wajahnya, seolah arus laut pun ikut mendorong langkahnya. Bagi Rumsun, siapa pun Cakra sebenarnya tidak pernah menjadi masalah. Keberadaan anak itu justru membuka semua pintu yang ia butuhkan. Cakra adalah lampu hijau yang selama ini ia tunggu. Bila anak itu tidak berbahaya, dukungan rakyat Porkah akan mengalir deras padanya. Seorang pemimpin yang tenang, bijak, dan berpihak pada kepentingan bangsa akan disematkan padanya.

Jika Cakra benar ancaman, terlebih bila ia terbukti sebagai salah satu makhluk yang pernah menghancurkan planet Porkah, Rumsun akan berdiri paling depan meminta Raja mengerahkan pasukan. Atas nama perlindungan, atas nama kesiapsiagaan. Bumi harus dijaga, seakan itu bukan sekadar dalih. Dan bila serangan benar-benar datang, Rumsun sudah siap berada di posisi pahlawan. Ia akan dikenang sebagai penyelamat dua dunia.

Hadiah akhirnya tetap sama, singgasana Raja.

Di kejauhan, bayangan tawa puas Rumsun seakan menyatu dengan suara Perdana Menteri dan Ratu. Gambaran itu menghantam benak Mynhemeni seperti gelombang dingin yang tiba-tiba menerjang kaki di daratan.

Ia mengatupkan rahangnya, dadanya mengeras.

“Kakak yakin, dia pasti ingin memprovokasi Ratu,” gumamnya pelan, lebih seperti napas yang lolos dari dada. Mynhemeni mengangkat wajahnya, menatap kehampaan air seolah Georu berdiri tepat di depannya. Arus laut berdesir lembut di sekelilingnya, terasa seperti angin tipis di dataran tinggi.

“Georu,” ucapnya tegas, nada suaranya mengeras.

“Jalankan peranmu sebagai pasukan keamanan gedung pusat pemerintahan. Ikuti perintah Rumsun. Jangan pedulikan kakak.” Ia berhenti sejenak, menelan kegelisahan.

“Begitu kakak mendapatkan jawabannya, kakak akan melepaskan anak itu dan datang ke istana. Kakak akan menjelaskan semuanya, menunjukkan bukti bahwa dia bukan ancaman.” Matanya menyipit, tekadnya kian padat.

“Tapi kalau ternyata dia memang berbahaya, kakak sendiri yang akan menyeretnya ke penjara pelepasan jiwa. Kakak pula yang akan membeberkan siapa dia sebenarnya dan ancaman apa yang dia bawa.”

Suara Georu terdengar tertahan, ia menoleh ke sekeliling sebelum bicara. Seakan suaranya akan di dengar jelas. “Baiklah, Kak. Tolong jangan sampai tertangkap.”

Ada jeda singkat, lalu ia melanjutkan dengan nada cemas. “Mereka akan mewawancarai seluruh warga. Semoga usaha mereka sia-sia.”

Sambungan itu terputus. Mynhemeni terdiam, membiarkan air asin yang tenang mengalir di sekelilingnya. Dadanya terasa sesak, pikirannya berkelindan antara harapan dan ketakutan. Ia tahu, setelah ini tak ada jalan kembali.

Kecemasan terlukis jelas di wajah Mynhemeni, bercampur dengan rasa takut yang tak sempat ia sembunyikan. Rencananya runtuh begitu saja, seperti bangunan pasir yang disapu arus. Ia tak lagi tahu apa langkah berikutnya, atau apa yang harus ia lakukan saat keberadaan mereka benar-benar terlacak.

Pikirannya berputar tanpa arah.

Haruskah ia menolong Cakra, anak yang diyakininya berkata jujur sejak awal, atau justru membiarkannya menjadi objek penelitian Rumsun? Lebih menakutkan lagi, ia tak mampu menebak apa yang akan dilakukan Cakra jika suatu hari ia sadar dirinya hanya dimanfaatkan. Bayangan kekacauan di Porkah muncul silih berganti, membuat tubuh Mynhemeni bergidik, seolah lantai jet yang dipijaknya mendadak retak.

Lihat selengkapnya