Cakra justru tersenyum lepas. Senyum yang terlalu ringan untuk situasi seberat ini. Seolah beban yang sejak tadi menggantung di udara laut akhirnya runtuh begitu saja, larut bersama arus yang tenang di luar jet.
“Kenapa kamu malah tersenyum?” tegur Mynhemeni, nadanya naik, menahan kesal.
“Kita sedang berada dalam situasi yang sama sekali tidak memberi alasan untuk tersenyum.”
“Aku paham sekarang,” jawab Cakra santai. Senyumnya belum hilang, tapi matanya lebih jujur dari sebelumnya.
“Kalau itu yang kalian takutkan.... karena aku berbeda.” Ia mengangguk kecil, seakan sedang berdamai dengan pikirannya sendiri.
“Aku setuju bekerja sama. Kalian boleh meneliti aku. Seberapa pun kalian mau.”
“Apa?” Mynhemeni menegang.
“Aku juga ingin tahu,” lanjut Cakra cepat, sebelum Mynhemeni sempat menyela. “Apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhku. Kenapa aku bisa sekuat ini. Kenapa lukaku bisa sembuh terlalu cepat.”
Ia membungkuk sedikit, mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu mengangkat lengan kanannya untuk memperlihatkan bekas luka yang disebabkan oleh Mynhemeni beberapa waktu lalu. Luka yang seolah tidak pernah terjadi.
“Lihat. Nggak ada bekasnya, padahal tadi kamu menggoresnya cukup dalam dan panjang.” Belum puas, Cakra menggeser kaki kanannya.
“Ini juga. Harusnya bekas lukaku akibat jatuh dari motor terlihat jelas. Sekarang malah hilang!” Ia terkekeh pelan. Tangannya bergerak ke arah bajunya, berusaha menyibak kain di bagian perut kanannya.
Namun gerakannya terhenti. Ia menarik lagi. Kain itu tak bergeser sedikit pun. Ia mencoba lagi, kali ini lebih kuat. Tetap tidak bergerak, seolah bajunya melekat pada kulitnya.
“Kamu ngapain?” tanya Mynhemeni, bingung sekaligus waspada melihat tingkah Cakra yang mendadak kikuk.
“Aku mau lepasin bajuku,” keluh Cakra frustrasi. Ia menatap kain itu seolah sedang dikhianati benda mati.
“Tapi kenapa ini nggak mau lepas?”
“Kenapa kamu mau melepaskan bajumu?” tanya Mynhemeni, nadanya setengah waspada, setengah bingung.
“Aku mau nunjukin luka-luka lain,” jawab Cakra sambil tetap bergulat dengan bajunya yang keras kepala.
“Ada bekas operasi di perutku. Waktu aku usus buntu. Lukanya keren, kayak bekas luka tusukan gitu” Ia menarik lagi, lebih kuat, lalu mendesah putus asa.
Pemandangan itu terlalu kontras dengan situasi mereka. Seorang manusia darat superkuat yang baru saja membuat satu distrik siaga penuh, kini kalah telak oleh Sanvar tahanan yang membungkus dirinya. Sanvar yang tidak akan pernah dapat ia lepaskan sebelum dipasangkan kembali pada soketnya, Nivar tahanan Cakra yang ada di Alpam khusus, lantai bawah tanah tingkat lima Gedung Pusat Pemerintahan Distrik Nor.
Mynhemeni tak tahan lagi.
Tawa kecilnya lolos begitu saja, ringan, nyaris seperti gelembung udara yang naik ke permukaan laut. Cakra berhenti bergerak. Ia menoleh, alisnya mengerut.
“Kok kamu malah ketawa sih?” protesnya, nadanya terdengar sedikit merajuk.
“Maaf,” kata Mynhemeni, masih tersenyum.
“Tingkahmu… menggemaskan.” Ia menggeleng pelan.
“Kamu mengingatkanku pada adikku. Waktu seusiamu, dia juga suka bersikeras pada hal-hal sepele, lalu kesal sendiri.” Untuk sesaat, Mynhemeni membiarkan dirinya berhenti berpikir. Ia memandang panel transparan jet, ke arah laut biru kehijauan yang terbentang seperti daratan luas tanpa langit. Mau diputar sekeras apa pun, rencananya tetap buntu. Ia tidak punya pilihan selain bersembunyi.