“Secara ritual... aku memang belum menikah,” ucap Mynhemeni pelan, seolah kalimat itu memiliki bobot yang harus diturunkan sedikit demi sedikit.
“Tapi secara teknis menurut pencatatan sipil... statusku dinyatakan sebagai janda tanpa anak.” Ia berhenti sesaat, matanya menatap lurus ke depan, ke ruang yang terbentang seperti aula daratan, padahal dinding di sekelilingnya berdenyut samar mengikuti arus laut.
“Bahkan sebelum aku sempat mendaftarkan status pernikahanku dan merasakan arti pernikahan," sambungnya ringan. Cakra mengernyit, alisnya bertaut, kepalanya miring sedikit. Semua kata itu terdengar rapi, tapi tidak ada satu pun yang benar-benar masuk akal baginya. Menikah, janda, belum tercatat. Semuanya saling bertabrakan di kepalanya. Mynhemeni menangkap kebingungan itu. Ia menarik napas, lalu mengubah posisinya agar menghadap Cakra sepenuhnya.
“Aku tahu ini membingungkan,” katanya lebih lembut, seolah berbicara pada anak kecil yang baru belajar berjalan di dunia asing.
“Dengar baik-baik.” Ia mengangkat satu jarinya, bukan untuk menggurui, melainkan menandai awal cerita.
“Setiap bangsa Porkah, sejak lahir, akan memancarkan gen jodoh,” ujar Mynhemeni. Suaranya kini tenang dan stabil, nyaris akademis. Seperti seseorang yang sedang menjelaskan hukum gravitasi atau siklus pasang surut laut. Sesuatu yang tidak perlu diyakini, karena sejak awal memang tak pernah memberi ruang untuk diragukan. Cakra terdiam. Di sekeliling mereka, udara terasa padat namun hangat, dan denyut halus dari dasar laut merambat pelan di bawah lantai. Ia tahu, apa pun yang akan Mynhemeni jelaskan setelah ini, tidak akan sederhana. Dan mungkin, tidak akan pernah benar-benar terasa manusiawi.
“Kami menyebutnya Ravin. Saat kami berusia dua puluh enam tahun, tepat di hari kelulusan pendidikan utama, Ravin dilepaskan.” Cakra menyandarkan punggungnya. Lagi-lagi sofa itu memanjakannya. Mynhemeni tetap bersuara, tak menyadari tatapan Cakra yang semakin membulat.
“Pada saat itu, kami diserbu gelombang kenangan dan data milik orang yang menjadi jodoh kami. Seluruh hormon kedewasaan, termasuk cinta, dilepaskan bersamaan dengan munculnya identitas calon pasangan. Seketika membuat kami saling jatuh cinta. Menghadirkan rasa peduli, keinginan untuk memiliki, membahagiakan, dan melindungi,”
Bagi bangsa Porkah, Ravin bukanlah ramalan romantis, melainkan sebuah resonansi. Gen jodoh itu tertidur selama dua puluh enam tahun, menunggu kesadaran mencapai titik kematangannya. Ketika akhirnya aktif, Ravin menghubungkan dua kehidupan dalam satu denyut yang sama.
Masa lalu yang tak pernah mereka bagi terbuka begitu saja. Ingatan bercampur dengan emosi, menghadirkan kebahagiaan yang pernah dirasakan bersama, rasa kehilangan yang ditanggung pasangannya, hingga kesedihan atas kematian yang pernah meninggalkan jejak mendalam. Semuanya mengalir deras pada saat yang sama, tak bisa ditolak dan tak mungkin ditahan.
Selama Ravin belum aktif, bangsa Porkah tidak mengenal jatuh cinta. Tidak ada hasrat. Tidak ada rindu. Cakra berkedip, pikirannya turut memproses informasi dengan munculnya berbagai pertanyaan.
“Jadi… setiap bangsa Porkah sudah dijodohkan?” potongnya, setengah tak percaya.
“Sejak lahir? Berarti kalian terlahir sepasang? Sepaket?” Mynhemeni menggeleng pelan. Rambutnya bergerak ringan, seperti tertiup angin yang tak ada di dalam laut.
“Kami tidak berpasangan saat lahir. Tapi setiap kelahiran di Porkah memancarkan gelombang Ravin yang akan mengikat sepasang bayi, dengan rentang usia nol sampai tiga tahun.” Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih dalam, seolah tengah membuka lapisan paling sensitif dari peradaban mereka.
“Ravin menganalisis serta mencocokkan sifat dan emosi, energi dan selera hidup, arah ambisi dan dorongan jiwa, kesehatan gen, sampai fungsi sosial bagi peradaban. Kami percaya tiga tahun pertama adalah waktu terbaik. Kesadaran masih murni, belum terkontaminasi kehidupan sosial, dan ego belum terbentuk sempurna. Karena itu kecocokan dianggap paling asli, dan bisa dikunci dengan sempurna.” Informasi itu menumpuk di benak Cakra seperti gelombang pasang yang datang bertubi-tubi. Aneh, kepalanya tidak pusing. Tidak jenuh. Justru terasa seperti berdiri di tepi jurang pengetahuan yang menggiurkan dan menakutkan sekaligus.
Ia menghela napas, menatap pantulan wajahnya di dinding bening di belakang Mynhemeni. Memisahkan mereka dari laut dalam. Ia sempat melihat beberapa cumi raksasa berenang cepat menghindari jet mereka yang melaju pelan. Sangat pelan. Nyaris diam di tempat.
“Kalau begitu,” katanya akhirnya, suaranya lebih pelan. “Kalau misalnya… kita nggak suka dengan jodoh kita, gimana?”
“Itu tidak mungkin,” jawab Mynhemeni tegas. Nada suaranya datar, seolah ia sedang menyebutkan fakta sesederhana hukum gravitasi.
“Tidak ada dasar bagi kami untuk tidak menyukai pasangan yang telah dijodohkan. Sistem Ravin sudah melakukan analisis kecocokan. Memang tidak seratus persen sempurna, tapi sistem selalu menemukan pasangan terbaik yang bisa saling melengkapi.” Cakra mendecak pelan. Kursi tempat ia duduk terasa kokoh seperti bangku kayu di ruang tamu rumah, padahal di luar dinding bening itu arus laut bergerak perlahan, menari membawa kilau biru kehijauan. Ia memiringkan kepala, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke depan.
“Masa sih?” tanyanya, nada suaranya terdengar lebih menantang dari yang ia maksudkan.